Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry- Bagian IV

Nama Da’i dan Rio di dalam kisah ini adalah org yg sama. Terkadang sy memanggil Rio kadang jg Da’i. Da’i adalah nama sebenarnya. Rio adalah nama yg sy berikan ke Da’i di tengah laut

Pasamboan Pangloli

Baca Kisah Sebelumnya : Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry-Bagian III

suluhnusa.com – Saya dan Da’i mencoba berenang dengan cara mendayung menggunakan tangan ke depan, saya mendayung dengan tangan kiri dan tangan kanan berpegang pada pelampung sementara Rio mendayung menggunakan tangan kiri dan tangan kanan mengait di pelampung yang saya kenakan supaya bisa searah. Kami mendayung searah dengan ombak yang menuju ke arah daratan yang bukitnya sudah mulai terlihat karena saat itu agak cerah. Sambil mendayung perlahan-lahan sesekali saya menoleh ke belakang memperhatikan mayat Pak Derek apakah masih terikat di pelampung.

Kami sementara beristrahat tiba-tiba Da’i mendapatkan 2 buah piring plastik berwarna biru dan merah. Saya ambil yang biru dan Da’i yang merah. Kami pakai piring tersebut untuk mendayung agar lebih cepat berenang.

Di kejauhan dengan jarak sekitar 50 meter, kami melihat seseorang yang terombang ambing oleh ombak sama dengan yang kami alami, dia duduk di atas sesuatu yang bisa mengapung tetapi kami tidak tahu benda apa yang dia pakai. Dia berteriak ke arah kami, mendengarnya samar-samar di antara suara desiran angin dan ombak.

“Woe….. huu…… Baik-baik ko..?”

Saya jawab: “Huuu….. Iya…..”.

Orang itu melambaikan tangan dan saat ombak datang menutupinya, saat itu pula kami tidak melihatnya lagi. Fikiran saya saat itu mungkin dia terbawa arus ke tempat lain.

Setiap saya dan Da’i merasa haus, selalu saja ada air aqua kemasan yang kami dapat sehingga kami tidak pernah merasa haus.

Dari jauh kami melihat kapal yang semakin mendekat ke tempat kami, sampai terlalu dekat jaraknya sehingga kami bisa melihat orang yang berjalan di atas dek kapal itu. Hati kami sangat senang karena berharap kapal itu pasti akan menemukan kami. Kami berenang ke arah kapal itu mendayung lebih cepat. Tetapi ternyata kapal tersebut menjauh dari kami sehingga kami berhenti mendayung dan beristrahat.

Saat beristrahat, kami berdua terserang rasa ngantuk. Saya melihat Da’i sudah mulai tertidur dan sayapun tertidur hanya kira-kira 15 menit.

Di depan kami terdapat beberapa bungkus Mie Instan tetapi saya dan Da’i tidak memiliki selera untuk makan. Saya sendiri tidak pernah merasakan lapar saat itu dan mungkin juga Rio mengalami hal yang sama.

Saat selesai beristrahat, saya dan Da’i mulai lagi mendayung ke arah bukit yang samar-samar kami lihat tetapi terkadang saya merasa jengkel ke Da’i karena dia mendayung sambil menutup mata dan dayungannya semakin melambat. Saya minta ke Da’i supaya beristrahat lagi tetapi dia tidak mau. Dia tetap mendayung dengan tangan yang sudah mulai melemas.

Saya putuskan untuk tidak mendayung dan Da’ipun berhenti mendayung. Mata Da’i tertutup, saya menggapai pundaknya dan menggoyangnya sambil bertanya: “Da’i, lu kenapa?”. Da’i membuka mata dan berkata: “Coba lihat Bapatua (Pak Derek) pung muka, dia pucat kayak beta pung muka”. Saya menoleh ke belakang dan memperhatikan wajah mayat Pak Derek dan memang pucat sebagaimana orang yang sudah meninggal. Saya menjelaskan ke Da’i bahwa semua orang yang meninggal pasti pucat tetapi Da’i berkata: “betul Kakak makanya beta pung muka su sama dengan Bapatua pung muka”. Saya tersadar bahwa ternyata Da’i takut kepada mayat sehingga saya bertanya ke Da’i : “Da’i, sebenarnya sangat berat menarik mayat Bapatua tetapi katong harus laksanakan pesan terakhir Bapatua supaya katong bawa dia sampai di dia pung rumah”.

Da’i: “Iya Kakak”.

Saya: “Tetapi Da’i sekarang su sonde kuat lai ko?”.

Da’i: “Beta masih kuat Kakak”.

Saya: “Sonde bisa Da’i, lu su loyo itu ma”.

Da’i : “Dari Kakak sa kira-kira apa yang paling baik”.

Saya: “Jadi bgini Da’i, karmana (bagaimana) kalau katong (kita) lepas mayat Bapatua su”.

Da’i : “Dari Kakak sa”.

Saya: “Sonde bisa Da’i, katong dua harus sepakat apakah katong lepas atau katong tetap hela (tarik) Bapatua”.

Da’i : “Kakak lebih tua jadi apapun yang Kakak putuskan na adik ikut sa”.

Saya: “Ok Da’i, demi supaya katong dua selamat maka beta putuskan supaya katong lepas mayat Bapatua su karena beta yakin akan terdampar ke Pantai juga”.

Da’i : “Setuju Kakak”.

Saya memutar badan ke belakang, menarik mayat Pak Derek lebih dekat, saya mengusap wajahnya sambil berkata: “Kakak, katong dua minta maaf e. Katong tinggalkan Kakak di sini dan pasti terdampar ke Pantai karena Pantai sudah dekat”.

Saya mengangkat tangan kiri Almarhum dan ternyata Almarhum memakai Jam tangan merek Mido yang tidak memiliki jarum panjang/detik, saya mengangkat lengannya ke telinga saya sambil mendengarkan detak dari Jam itu ternyata jam tangan tersebut masih aktif dan tidak dimasuki air. Saya melepas Jam itu dari lengan Almarhum kemudian saya memasukkan ke dalam baju saya dan saya menarik ujung kerah baju saya kemudian mengintip jam itu dari atas ternyata Jam tangan tersebut bisa memendarkan cahaya pada bagian jarum menit, jarum pendek dan sisinya karena ternyata dilapisi dengan fluor yang dapat memendarkan cahaya.

Saya memasukkan jam tersebut ke lengan kiri saya kemudian mengancingnya. Fikiran saya saat itu bahwa jam tangan ini akan saya gunakan saat berenang sehingga bisa mengatur waktu kapan harus berenang dan kapan harus istirahat.

Saya mengangkat lagi lengan kiri Almarhum dan di jari manis terdapat cincin giok berwarna hijau lumut. Saya mencopot cincin itu dan memasukkan ke saku celana jeans yang saya pakai. Kemudian saya mengangkat lengan kiri Almarhum, di jari manis terdapat cincin kawin yang kalau dilihat dari ukurannya kira-kira beratnya sekitar 5 gram. Saya mencopot cincin kawin tersebut dan memasukkannya ke saku celana bagian belakang kiri. Saku kanan belakang jeans saya masih tetap terselip dompet yang berisi KTP, ATM, STNK, dll.

Maksud saya melepas dan menyimpan benda yang ada di mayat Almarhum supaya saya serahkan ke keluarga Almarhum nantinya kalau sampai di daratan.

Kemudian saya melepas ikatan Almarhum, memperhatikannya terbawa arus yang ternyata hanyut mengikuti kami. Saya melihat Jam tangan saat itu menunjukkan Jam 13.15 Wita.

Saya dan Rio melanjutkan perjalanan dengan mendayung. Sesekali saya memperhatikan mayat Almarhum ternyata semakin jauh dari kami sehingga saya berkesimpulan bahwa ternyata kami berenang cukup baik.

Kami berenang setiap 5 menit dan 5 menit berhenti. Tidak lama kemudian, tenaga Rio semakin berkurang, wajahnya semakin pucat. Saya memutuskan untuk berhenti berenang kemudian menarik tubuh Rio ke arah saya. Saya memegang pundaknya dan berkata: “eh, Rio. Lu ini masih muda tapi kenapa loyo begini?”.

Rio: “Beta son kuat lagi Kakak”.

Saya: “Rio harus kuat”.

Rio: “Iya Kakak”.

Kami beristrahat dan Rio menutup mata tetapi tiba-tiba Rio berkata: “Kakak, beta duluan sudah e”.

Saya: “mau duluan ke mana”.

Rio: “Beta duluan ke Rumah Bapa”.

Saya: “Eh lu jangan mengigau, beta yang masih kuat sa sonde omong mau duluan”.

Rio: “Beta duluan su Kakak, beta mau pi di Rumah Bapa”.

Saya saat itu benar-benar tidak tahu apa maksud Rio.

Selama kami terapung dan berenang, Rio paling sering merekatkan kedua tangannya dan terlihat seperti berdoa sedangkan saya berdoa baru sekali saat Pak Derek meninggal.

Saya melihat Rio saat itu tertidur, saya mengeratkan ikatan pelampungnya kemudian ujung tali pelampung yang dia pakai saya ikatkan di pelampung saya. Saya memeriksa tas ransel yang Rio sematkan dari arah depan dengan maksud membuang tas tersebut supaya menjadi ringan saat ditarik. Tetapi ternyata isi tas tersebut adalah beberapa lembar ijazah yang sudah dilaminating jadi saya tetap membiarkan tas ransel itu menggantung di badan Rio.

Saya memegang dua piring plastik, membungkukkan badan sehingga dada saya bersandar di atas sisi pelampung kemudian berenang, mendayung dengan dua tangan secara bergantian sambil menarik tubuh Rio. Selama 5 menit mendayung dan 5 menit istirahat.

Saat saya beristrahat entah ke berapa kalinya, tiba-tiba Rio berkata: “Kakak…Kakak…”, saya menoleh ke arahnya, dia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah tenggara yang di sana saya melihat ada gumpalan embun hitam. Kemudian Rio berkata sambil menunjuk ke arah itu: “Kakak harus berenang ke sana sampai Jam 5. Di sana son ada ombak. Di sana son ada angin. Di sana aman Kakak”. Saya diam saja tidak berkomentar karena saya fikir Rio mengigau.

Saya berenang dan berenang lagi ke arah yang tenggara di mana di sana tadi siang saya melihat Gunung tetapi sekarang sudah tidak tampak lagi akibat kabut yang tebal. Saya tiba-tiba merasa mengapa kecepatan saya lebih baik dan ringan. Saya menoleh ke belakang ternyata ikatan Rio terlepas dari pelampung yang saya pakai. Saya memeriksa sekeliling, saya melihat Rio kira-kira berjarak 10 meter dari saya. Saya memanggilnya: “Rio…”, dia melambaikan tangan ke arah saya. Saya berenang ke arah Rio dan saat sampai ke sana, saya memegangnya tetapi dia dalam posisi tangan berdoa. Agak lama saya perhatikan, karena lamanya, saya coba memegang kepalanya yang erat tejepit di dlm pelampung. Ternyata Rio sudah tidak bernyawa lagi. Saya memeriksa nadinya dan benar dia sudah meninggal. Saya memegang tangan Rio yang dalam posisi berdoa kemudian saya berdoa: “Tuhan, di tempat ini Engkau telah memanggil adik saya Rio tentu semua ini adalah rencanaMu ya Allah. Terimalah dia di pangkuanMu. Sekarang ya Allah tinggal saya sendiri, semua diri saya ini saya serahkan ke dalam tanganMu. Saya tidak akan pernah takut menghadapi lautan ini sendirian karena saya yakin Engkau selalu memperhatikan hambaMu ini ya Tuhan. Berikanlah ketenangan kepada istri, anak-anak dan semua keluarga saya ya Tuhan. Terimakasih Tuhan. Amin”. Saya melihat Jam tangan menunjukkan Jam 14.15 Wita.

Saya terdiam dan berfikir, bahwa yang dimaksud Rio bahwa akan duluan ke Rumah Bapa ternyata dia akan meninggal. Dari dasar itu saya berkeyakinan bahwa arah yang ditunjukkan Rio ke tenggara itu adalah bisikan dari Tuhan sehingga saya memperhatikan alat Bantu navigasi seperti ujung sisi langit di selatan dan utara ke jarak tenggara supaya tidak salah arah saat berenang sendirian.

Ombak saat itu cukup tinggi tetapi tidak pecah, saya merasa haus dan mendapatkan lagi sebotol aqua kemasan sedang. Saya minum setengahnya dan botol tersebut saya masukkan ke dalam baju saya dengan maksud akan saya minum kalau haus lagi.

Saya perhatikan Jam dan saya putuskan akan berenang saat menunjukkan Jam 14.45 Wita. Saat Jam sudah 14.45, saya mulai berenang yang terasa sangat ringan. Awalnya saya coba 5 menit tetapi terasa belum cepai maka saya coba dengan 10 menit dan inilah yang saya pakai sebagai standar, yaitu 10 menit berenang dan 5 menit istirahat.

Saya menghitung dalam hati/fikiran bahwa kalau standar kecepatan manusia berenang yang normal adalah 3 Km/Jam maka kalau tiap 10 menit berenang dan 5 menit istirahat maka jarak yang dapat dicapai selama 1 Jam adalah 2 Km.

Artinya, saya harus berenang konstan 10 menit berenang dan 5 menit istirahat selama sekitar 2 Jam sampai Jam 5 (17.00) sesuai perunjuk Rio maka saya pasti bisa sampai di titik lokasi itu.

Saya berenang dan berenang, terkadang saya merasa capai tetapi kalau rasa cepai itu datang, saya mencoba berfikir bahwa saya sedang berenang di kolam renang olympiade dan membayangkan ketiga anak saya sedang menonton saya sedang berenang. Saya bayangkan anak-anak saya hadir di sana sehingga saya berenang sambil terkadang berteriak “Nanak, Papa kuat to.. Papa kuat…. Papa kuat..”. Saya selalu berteriak seperti itu saat kepala mendongak ke atas. Kalau saya cepai menggunakan gaya kupu-kupu, maka saya ganti dengan gaya lain seperti gaya punggung dan gaya kodok.

Terkadang pula saya membayangkan Ayah saya juga hadir di sana melihat saya berenang sehingga saya merasa malu dilihat loyo. Saya mencoba membayangkan hal-hal yang bisa membah spirit saya dan berhasil membuat saya semakin bersemangat.

Saya mengeluarkan botol aqua kemasan yang ada di dalam baju saya kemudian saya minum, tiba-tiba muncul ide bahwa botol kosong ini akan membuat badan saya semakin mengapung kalau dimasukkan ke dalam baju dalam keadaan kosong. Maka saya memperdalam baju kaos yang saya kenakan kemudian memasukkan botol itu ke dalam baju.

Sementara berenang, saya menemukan dua botol aqua besar, saya minum airnya dan sisanya saya buang kemudian saya masukkan ke dalam baju maka saya semakin mengapung dan lebih cepat berenang.

Bagaimana menghadapi malam yang gelap, dingin, Sepi dan sendiri? Bersambung

pasamboan pangloli

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *