Masyarakat Adat Lewohala-Lamariang Lakukan Ritual ‘Hude Ura’

suluhnusa.com – Antusiasme masyarakat adat Lamariang dalam upacara ritual hudde Urra (upacara pemanggilan hujan) dilakukan di desa Jontona (Kamis 6/02/2020).

Upacara ritual ini dilakukan karena curah hujan di sebagian besar wilayah timur kabupaten Lembata mengalami penurunan yang mengakibatkan kondisi jagung mati dan tidak subur.

Salah satu ketua adat masyarakat Lamariang Yohanes Wulo mengatakan, upacara ini (hudde Urra) dilakukan untuk menjemput hujan karena curah hujan menurun yang mengakibatkan kondisi tanaman (padi, jagung, kacang-kacangan dan jenis tanaman lain) di perkebunan warga desa Jontona menjadi layu dan mati.

“Upacara ini dilakukan untuk memberi makan leluhur sehingga hujan bisa kembali normal.” Ungkapnya.

Upacara ini pertama kali dilakukan di Bele Lewuone dengan memberi makan leluhur dengan sesajian yang berupa beraha no wata Mettu (kapas dan jagung) dan tuak. Upacara selanjutnya dilakukan dengan memberi sesajian ke beberapa kubur yang lainnya (bewa ree) hingga upacara berakhir di kampung adat Lamariang.

Hadir juga dalam upacara ritual hudde Urra (ritual pemanggilan hujan) atamolang (dukun) Asan balawangak, Goris Geroda, dan Yohanes Sili yang membantu melancarkan jalannya upacara ritual ini. Sebagai atamolang (dukun) mereka membagi tugas Asan Keliling sebagai perwakilan masyarakat adat di Lewohala (ile lodo) sementara Yohanes Sili dan Goris Geroda sebagai perwakilan (tahi lewa) yaitu masyarakat adat Lamariang.

Asan balawangak, salah satu atamolang (dukun) dalam pembicaraannya mengatakan berkurangnya jumlah hujan di sebagian besar wilayah timur Kabupaten Lembata, khususnya Ile Ape Timur  karena masyarakat kurang memperhatikan para leluhur mereka. “Dengan dilakukannya ritual ini diharapkan agar curah hujan kembali normal.” Harapnya.***

Ama Kewaman

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *