Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry-Bagian II
Pasamboan Pangloli
Saya menelpon ke istri saya menyampaikan bahwa kemungkinan kapal yang saya tumpangi mengalami kebocoran dan saya minta mereka dan anak-anak berdoa.
Saya sendiri selalu yakin bahwa Nakhoda pasti bisa mengendalikan kapal minimal bisa sampai ke Pantai yang berpasir sehingga saya selalu merasa tenang. Saya kaget saat dari ruang Nakhoda ada tembakan suar sebanyak 3 kali. Di situlah saya sadar bahwa kapal sudah benar-benar dalam bahaya.
Saat penumpang semuanya terdiam, saya memutar lagu Yesus Malole- Yesus Baik (Talita Doodoh) dari handphne Sony Erickson yang nyaring kemudian meminta ke semua penumpang untuk ikut menyanyi. Serentak serentak lagu ini bagaikan paduan suara yang sangat terharu mendengarnya dan banyak di antara penumpang yang menyanyi sambil menangis dengan deraian air mata.
suluhnusa.com – “Mohon tenang, lampu akan segera hidup kembali” dan ajaib lampu kembali hidup
Saat lampu tiba-tiba mati, penumpang semakin histeris utamanya perempuan dan anak-anak. Saya mencoba menenangkan penumpang dengan berteriak seakan-akan saya sebagai ABK memberi informasi ke penumpang dengan berkata : “mohon tenang, lampu akan segera hidup kembali”.
Dua kali saya berkata demikian maka terjadi keajaiban, lampu di kapal menyala kembali.
Saya memperhatikan ada satu rombongan keluarga yang duduk di lantai menggunakan tikar di bagian depan ruang VIP, mereka saling berpelukan dan di antara mereka terdapat anak balita sekitar 3 orang dan anak umur tujuh tahunan sekitar dua orang. Saya memohon kepada mereka untuk berdiri dan keluar ke arah dek belakang melalui pintu kanan.
Setelah mereka keluar, spontan saya memberi aba-aba seakan-akan saya sebagai ABK : “para penumpang sekalian, mohon supaya semua keluar ke arah dek samping kanan menuju ke belakang. Semua penumpang di ruang VIP berdiri berjalan sangat teratur tanpa berdesak-desakan ke arah pintu kanan.
Maksud saya menyuruh mereka ke dek kanan supaya beban kapal ke arah kanan oleh karena kapal miring ke kiri. Yg kedua supaya mereka jangan terkurung di dalam ruang VIP padahal saya sendiri ada di ruang VIP dekat jendela depan kedua dari kanan.
Dari tempat saya berdiri di depan tv di ruang VIP, saya melihat ke pintu kanan ternyata ada 3 orang anak muda berdiri di sana. Saya datangi mereka dan ternyata salah satunya adalah David AnachkthieYanna Ndolu. Saya berkata kepada Pak David, ” Da”i tolong jangan berdiri di sini, kalian harus berdiri di dek samping”.
Da”i menjawab:” ko Bapak bagaimana, kenapa ada di dalam, ayo Pak kita keluar”.
Saya mendorong David keluar kemudian kembali ke tempat saya berdiri semula.
Saya perhatikan ke lantai, ternyata kapal sudah miring sekitar 30an derajat. Saya sendiri saja di ruang VIP saat itu. Kemudian saya mengambil sebuah pelampung dan memegangnya.
Gantung derailing baja kapal
Ada terlintas dalam fikiran saya untuk mengenakan pelampung itu tetapi saya ambil kesimpulan bahwa nanti saat melompat ke laut barulah pelampung itu saya pakai.
Saya masih berdiri sambil melihat ke arah jendela memandang Pulau Rote yang samar-samar, kemudian saya mendorong jendela kaca depan ke atas dengan maksud supaya dapat melihat keadaan di buritan kapal. Tidak disangka-sangka lampu padam lagi.
Serta merta saya menjulurkan kepala ke luar jendela, merayap ke bawah arah buritan tiba-tiba kapal seakan terhempas tetapi saya sudah memegang railing besi yang ada di bawah jendela bagian luar. Saya menggantung di railing baja tersebut karena kapal sudah mulai tenggelam sebagian. Tidak lama kemudian, kaki saya sudah terendam di air, semakin lama semakin naik sampai pada saatnya air sudah mencapai bagian dada saya, kemudian saya melepas railing dan berenang sekuat tenaga menjauh dari kapal.
Sekitar 30an meter dari kapal, saya berhenti berenang dan berbalik melihat ke arah kapal, saya melihat buritan depan kapal mendongak ke atas dan dalam sepersekian menit hanyut ke dalam lautan.
“Bapak, Dia Sudah Mati”, kata pak Muhamad
Saat saya keluar dari jendela depan kapal, pelapung yang saya pegang saya lepaskan. Seandainya saya mengenakan pelampung itu maka saya tidak akan muat keluar dari jendela dan terjebak di ruang VIP. Jendela tsb sangat sempit dan hanya pas dengan ukuram tubuh saya.
Saya berenang lagi mencari benda yang bisa dipakai sebagai pelampung. Awalnya saya mendapatkan beberapa tas pakaian yang besar, saya pegang tetapi lama kelamaan semakin tidak dapat digunakan sebagai pelampung.
Saya berenang lagi mencari benda lain tiba-tiba saya merasakan sebelah benda yang ternyata adalah tali tambang besar yang terbuat dari sabuk kelapa. Saya menarik dan mengumpulkan tali tersebut kemudian saya peluk dan ternyata cukup membantu bisa mengapung.
Kaki saya mulai keram, muntah akibat hempasan ombak, tiba-tiba ada suara dari arah kiri “Pak… Pak.. Tolong dilepas talinya Pak. Nanti Bapak terseret kapal”. Saya jawab: “ia Pak, saya tidak punya pelampung”. Dengan logat Jawa yang khas Bapak tersebut berkata: “iya Bapak, Tolong diambil pelampung ini, saya dorong ya. Saya takut ke situ, banyak tali di situ, nanti kita terseret kapal”.
Bapak itu mendorong sebuah pelampung bundar berwarna orange putih, saya ambil dan saya angkat kemudian saya kalungkan di badan saya.
Sayapun merasa sangat tenang dan nyaman bahkan saya sempat tersenyum dan berteriak memanggil nama ke tiga anak saya: “Harun, Lea, Rachel, tunggu Papa ya.. Papa pasti pulang”.
Orang yang memberi pelampung tersebut menyuruh saya mendekatinya dan saat sudah dekat, dia memegang pelampung saya dengan satu lengan dan lengan lainnya memegang salah satu korban perempuan yang masih hidup.
Saya bersalaman dengan orang tersebut dia perkenalkan namanya Muhammad dari Pekalongan. Beliau masih muda. Baru dua bulan beliau sebagai koki di kapal JM Ferry yang sebelumnya juga menjadi koki di Kapal besar. Cukup lama kami bercerita tiba-tiba ibu yang di pegang oleh Pak Muhammad berteriak kencang: “Kakak……. Kakak……Kakak…..” sambil menggelepar. Kami bersusaha menenangkan tapi ibu ini seakan kesurupan dan tiba-tiba diam. Tidak lama kemudian Pak Muhammad berkata kepala saya: “Bapak, dia sudah mati”. Pak Muhammad melepas mayat itu dan kami melanjutkan perbincangan.
Di sekitar kami sudah banyak mayat mengapung. Kalau yang sekarat pasti kedengaran ngorok sebelum meninggal tetapi yang teriak-teriak kami coba menarik mereka ke pelampung yang saya pakai kemudian disuruh berpegang ke pelampung.
Saya hitung, ada 4 orang yang meninggal di dekat pelampung dan 3 orang masih kuat memegang pelampung saya sampai kira-kira sekitar Jam 02.00 Wita dini hari.
Pak Muhammad meninggalkan pelampung saya dan menitipkan 3 orang yang masih hidup. Muhammad ke tempat lain menyelamatkan penumpang yang masih hidup dan sejak malam itu saya tidak bertemu Pak Muhammad lagi.
Tiga orang yang berpegang di pelampung saya, di samping kanan seorang masih muda, di samping kiri seorang perempuan yang tidak pernah berhenti berteriak memanggil nama kakaknya. Yang perempuan ini meninggal sekitar Jam 3 subuh saat ombak mulai meninggi lagi. Saya hanya bisa berdoa untuk ibu tersebut.
Yang di belakang, dari suaranya bisa diketahui kalau dia adalah laki-laki dengan suara bas yang tidak henti-hentinya batuk dan sekali-sekali berteriak minta tolong. Saya selalu memberi nasihat supaya Bapak ini tenang karena kalau berteriak pasti akan menguras tenaga tetapi Bapak tersebut tidak mengindahkannya. Berbeda dengan anak muda yang di kiri saya itu. Apapun nasihat yang saya sampaikan selalu dia ikuti.
Saya merasa tenang karena dari jauh saya melihat cahaya yang semakin mendekati kami dan saya yakin bahwa itu adalah cahaya dari kapal penyelamat. Semakin lama semakin mendekat tetapi ombak semakin tinggi dan angin pun semakin kencang sehingga saya mulai batuk juga dan muntah-muntah.
Harapan kami bahwa akan diselamatkan oleh kapal itu ternyata sirna karena cahayanya semakin suram artinya kapal pergi menjauh dari tempat kami.