Angin keluar dari puting bukit,
Bertiup ke atas muka sungai yang tenang,
Menyusup ke bulir-bulir jagung,
Kemudian meriang menyimak mimik nelangsa,
Tercapak di gembur perut tanah.
Penderitaan masih mengalir di pematang nadi,
Keringat menjelma menjadi berkat,
Dirampok tengkulak bermata belalak.
Sementara pakar ekonomi sibuk membetulkan kancing jasnya,
Menjawab dengan mengirim sebotol whisky dan puntung cerutu.
Benediktus Bere Lanan