Selepas Dari Malaysia, Jakarta Memberi Penghargaan

suluhnusa.com_Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah penyumban Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Akan tetapi sedikit orang yang menjandi TKI yang bekerja sambil belajar. Salah satunya adalah, Kemilus Tupen Jumad.

 Warga Adonara ini merantau ke Malaysia bukan hanya sekedar mencari penghasilan. Tetapi dirinya belajar bagaimana bertani dengan baik di sana. Hal ini diceritakan Kemilus Kopong Jumad, kepada weeklyline.net,Selasa pekan lalu. Bahwa selepas kembali dari Malaysia, Kopong Jumad mulai membangun kampungnya di Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tengga Timur.

Kopong Jumad, mengatakan sejak kembali dari Malaysia, dirinya memiliki keinginan yang kuat dala membangun kampung halamannya lewat pertanian. Alasannya sederhana, petani di kampung halamannya harus menjadi lebih baik. Keinginan ini diwujudkan dengan membentuk kelompok tani Lewowerang Desa Tuwagoetobi kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Saya bentuk kelompok ini awalnya tidak berpikir apapun. Saya hanya ingin membentuk kelompok tani beranggota masyarakat dikampung agar pola tanam, pemeliharaan bisa lakukan dengan baik,” ujar Ama Tupen Jumad.

Gagasan ini disambut baik oleh beberaa petani di Kampung itu. Dengan ketekunan dan keuletan serta keinginan yang kuat, Tupen Jumad, berhasil membentuk kelompok dan membina kelompok dengan baik.

Kelompok Tani Lewowerang
Kelompok Tani Lewowerang

Disinggung soal inspirasi yang dia dapat dari Malaysia, Tupen Jumad pung mengakui. Bahwa di Malaysia untuk kebanyakan orang yang berasal dari Lamaholot saat merantau di Malaysia pekerjaan yang lebih mendominasi adalah, pembantu Rumah tangga, menjadi buruh bangunan, tukang kebun. Dirinya sebagai Tukang kebun.

“Di Malaysia toke (bos-Red),  dalam satu bulan cukup menyiapkan uang sekian, setelah itu menentukan satu orang sebagai manager, satu sebagai bendahara selanjutnya menyerahkan uang kepada manager dan bendahara tersebut mengelolah dan kita–kita orang timor di panggil dan ditunjuk sebagai pekerja. Toke setelah mengatur dan menyerahkan uang tersebut dia akan pulang dan tidur. Sampai Bulan Depan baru di akan kembali untuk mengecek keuntungannya dalam satu bulan setelah hasil pertanian/perkebunan terjual dan gaji pekerja dibayar. Kesimpulannya  bahwa seorang toke tanpa kerjapun mendapat keuntungan yang lebih daripada kita yang kerja,” ungkap Tupen Jumad.

Pengalaman kerja yang dia dapat di Malaysia ini, membuat Tupen Jumad, berani membentuk kelompok Tani Lewowerang tersebut, sebab dia merasa yakin bahwa, Petani di kampungnya bisa menjadi bos atas dirinya sendiri.

Perjuangannya tidak gampang memang. Sebab awal pembentukan tahun 2005, Tupen Jumad ditentang oleh beberapa tokoh di sana, tetapi dirinya tidak menyerah. Di Kalangan Orang Tua menilai bahwa keberadaan Kelompok Tani Lewowerang dikemudian hari bisa merusak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah tertata dengan baik secara turun temurun. Atas penilaian ini, ama Tupen Kemiluspun sempat berputus asa.

“Awalnya saya dinilai akan merusak tatanan adat dan kebiasaan bertani yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun di Kampung Honihama, Desa Tuwagoetobi ini,” kisah Tupen Jumad. Dan karena tantanan tersebut, Kelompok tani yan sudah dibentuk tersebut akhirnya mandek alias tidak jalan.

Harapan pupus selama, hampir lima tahun. Tetapi keinginan itu tetap hidup. Keyakinan masih ada. Di tahun 2010 impian mengembangkan Kelompok TaniLewowerang ternyata masih ada harapan dari beberapa teman yang pernah bersama–sama dengan Ama Tupen Kemilus di awal Pembentukan. Ajakan teman-temannya itu, tidak serta merta membangkitkan keyakinan Yupen Jumad. Sejak pertemuan itu, komitmen teman-temannya untuk mencari anggota sebanyak 30 pun berhasil.

Perjuanganpun terus berlanjut, model kegiatan Kelompok Tani Lewowerang adalah memadukan Koperasi dan Gemohing. Dimana dikenal dengan adannya Uang Pokok, uang wajib,  juga Simpan Pinjam, serta saling kerja sama (Gemohing) dalam bekerja di antara sesama anggota. Kegiatan yang dijalankan Oleh Kelompok Tani Lewowerang adalah Kerja Kebun, Kerja Rumah, memperbaiki jalan, mengupas ubi, ubi, kumpul pasir, kumpul batu dan pekerjaan- pekerjaan lain yang dibutuhkan oleh anggota.

Kelompok Tani Lewowerang dijuluki juga sebagai Koperasi Simpan Pinjam Tenaga Kerja. Penyebutan ini ada karena masing–masing anggota secara bergantian meminjam dan atau menyumbangkan tenagannya secara bergantian, pada orang yang berbeda dan pekerjaan yang berbeda–beda pula.

Kegiatan ini bukan tidak dibayar. Tetap dibayar tetapi dengan harga yang relative murah, intinya adalah saling membantu sesame anggota. Nah, uang untuk bayar kegiatan tersebut dipinjamkan dari koperasi itu. Sebut saja misalnya, seorang anggota kelompok membuat permohonan dengan meminta 10 tenaga. Anggota kelompok tersebut meminjam uang di Koperasi Kelompok Tani Lewowerang untuk untuk membayar para pekerja. Nah, untuk mengembalikan uang tersebut bisa dengan cicilan berupa uang tunai atau dihitung berdasarkan akumulasi hari kerja.

Waktu bergulir terus, semakin banyak rumah yang diperbaiki, dan makin banyak kebun yang terurus, lalu Desa Tuwagoetobi atau yang sering dikenal dengan Honihama, yang jauh dipelosok  Adonara Tepatnya di Kecamatn Witihama Secara pelan tetapi pasti mampu Mandiri dalam bekerja sama, membangun usaha mengolah dan mampu memasarkan hasil kebunnya secara terorganisisr.

Kerja keras ini membuahkan hasil. Kelompok Tani Leowerang-Honihama, mendapat penghargaan Kusala Swadaya Award 2013, pertengahan Oktober di Jakarta, yang diwakili oleh Kemilus Tupen Jumad sebagai ketua kategori pengagas, penggerak. Ternyata penghargaan yang diterima setelah bersaing dengan dua kelompok pemberdayaan lain masing–masing dari Manukwari-Papua dan Bali.

Sayangnya, prestasi Kemilus Kopong Jumad bersama warga desa Honihama ini tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Kabuaten Flores Timur juga Pemprov Nusa Tenggara Timur. Naif memang. (Maksimus Masan Kian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *