Merdeka Belajar di tengah Pandemi


MEDIA WLN – Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim sebelum Masa Pandemi Covid-19, sangat vokal mengkumandangkan yang namanya merdeka belajar. Sebuah mimpi besar yang mendorong lembaga pendidikan untuk memberi ruang kepada guru dan siswa agar tidak mengandalkan ruang kelas semata sebagai ruang pembelajaran, tetapi lingkungan dan alam semesta, serta metode yang mengaktifkan siswa.

Konsep Merdeka Belajar bisa menjadi ide yang dapat diefektifkan dalam proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. Hal ini terkuak dalam diskusi yang digagas Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flores Timur, Minggu 5 Juli 2020, di Pantai Kota, Kelurahan Sarotari Timur, Kecamatan Larantuka, Flores Timur. Guru dapat secara merdeka memilih metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi lingkungan, keadaan siswa, dan ketersediaan fasilitas di lapangan.

Dalam tempo yang tidak lama lagi, Proses Pembelajaran Tahun Pelajaran Baru, 2020/2021 akan dimulai. Secara umum, petunjuk secara nasional telah tersalur berkaitan dengan penyesuaian terhadap pemetaan zona seturut perkembangannya. Sebagian daerah tidak boleh sama sekali melalukan pembelajaran tatap muka, sementara yang lainnya, boleh dengan syarat ketat sesuai protap kesehatan.

Bagaimana dengan Flores Timur…? Sebelum memasuki masa liburan akhir semester, praktik pembelajaran bervariasi. Ada yang memilih secara offline, kunjungan rumah dengan protap ketat, sebagian menggunakan semi online memanfaatkan aplikasi WhatsApp dan messenger, em@il. Sementara murni pembelajaran online belum berjalan. Di pusat kota sekalipun tidak ditemukan. Waktu berjalan, dan banyak upaya dilakukan oleh pihak sekolah untuk memilih dan memilah metode yang tepat, dengan berbagai pertimbangan untuk proses pembelajaran di tahun pelajaran 2020/2021.

Pembelajaran offline atau kunjungan rumah di beberapa titik yang disepakati, bekerja sama dengan Pemerintah Desa setempat, terpaksa dipilih sebab fasilitas pendukung pembelajaran online belum siap. Beberapa wilayah, jaringan masih sulit. Berikut pembelajaran semi online menjadi alternatif khusus untuk sebagian siswa yang memiliki fasilitas pendukung dan wilayah yang bisa dijangkau jaringan internet. Sementara pembelajaran online penuh, hingga saat ini belum berjalan sebab, kesiapan fasilitas berupa jaringan WIFI di sekolah, jaringan internet di wilayah tempat tinggal siswa, ketersediaan àndorid dan pulsa data dari siswa belum maksimal tersedia.

Lalu apakah harus dilakukan pembelajaran online…? ya harus, kalau kita patuh dan taat pada protap kesehatan, dan tidak mengabaikan pembelajaran. Tetapi tentu tidak semudah itu. Optimisme iya. Upaya bersama dan terlebih peran Negara, mesti segera hadir untuk bagaimana mengatasi kesulitan lapangan di atas sangat perlu. Jaringan internet, ketersediaan WIFI, Anroid siswa dan ketersediaan pulsa data, kemudahan untuk guru dan siswa mengoperasikan perangkat pembelajaran online.

Bagaimana dengan pembelajaran Offline, kunjungan rumah dan semi online? Apakah tidak boleh? Sepanjang fasilitas pendukung pembelajaran online belum terpenuhi, guru dan sekolah sebetulnya, tidak boleh gengsi menempuh pembelajaran model ini dengan tidak mengabaikan protap kesehatan. Tujuannya adalah, ada proses yang berjalan.

Hal lain yang strategis untuk dibicarakan adalah, pernahkah mendengar apa kata siswa, terkait proses yang sedang dan akan dilanjutkan berkaitan dengan pembelajaran? Pada bagian ini penting untuk dilakukan. Sebab, testimoni dari mereka (baca: peserta didik) akan jadi barometer atau indikator keefektifan dan kenyamanan mereka pada metode yang kita pilih itu.

Butuh penyesuaian, penyederhanaan, atau apalah namanya, berkaitan penyesuain konten kurikulum dengan situasi yang tidak normal ini. Siapa yang paling berwenang? Bukan kita-kita ini. Ide gagasan boleh dialirkan dengan pola diskusi yang dibangun ini, tetapi eksekusi ada pada lembaga yang telah negara percaya. Kepada merekalah kita berharap, segera dan secepat tepat mungkin untuk eksekusi petunjuk itu. Kata Jokowi Presiden RI, saat ini kondisi sedang krisis, kita tidak bisa menganggap ini hal biasa!!***

CATATAN MAKSIMUS MASAN KIAN JELANG TAHUN PELAJARAN BARU 2020/2021

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *