suluhnusa.com – Pemerintah dan warga di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan kelangkaan Semen yang kini memasuki bulan kedua. Akibat kelangkaan semen itu, sejumlah proyek pemerintah baik bangunan maupun jalan, terancam gagal.
Pantauan media ini Kamis (31/10), di sejumlah supplier Semen di dalam kota Lewoleba menunjukan stok semen habis.
“Stok semen habis sejak bulan lalu. Kalau mau beli pribadi bisa dibawah 5 sak,” ujar Kristo, salah seorang supplier Semen di Kota Lewoleba. Hal serupa dijumpai suluhnusa.com, di 3 suplier lainnya. Para supplier semen mengaku, semen langka karena ada masalah pada produksi semen akibat kelangkaan bahan baku.
Warga yang ditemui saat mencari semen pun mengaku kecewa dengan kelangkan semen yang terjadi di Lembata, hampir dua bulan belakangan ini.
Di sisi lain, Kelangkan Semen di Lembata, Nusa Tenggara Timur mulai menghambat pekerjaan proyek pemerintah. Sejumlah Proyek banguan, seperti bantuan perumahan maupun jalan terutama pekerjaan rigid jalan, baik jalan utama hingga jalan lingkungan yang menggunakan bahan baku Semen, kini terpaksa berhenti bekerja, padahal, rata-rata penyedia jasa pekerjaan proyek pemerintah mengakhiri kontrak kerja hingga akhir bulan November nanti.
Kepala Dinas Pekerjaan umum Kabupaten Lembata, Paskal Tapobali, Kamis (31/10) mengingatkan para penyedia jasa pekerjaan proyek pemerintah wajib mengantongi dokumen berupa surat pernyataan atau keterangan bahwa semen terkendala di produksi, sehingga distribusi ke daerah terkendala, termasuk ke Lembata.
Dasar dari itu, PPK bisa memberikan kompensasi berupa pemberian addendum waktu penyelesaian pekerjaan sampai ada pasokan semen. Tanpa dokumen itu ,Penyedia jasa proyek pemerintah dapat terkena denda, padahal kelangkaan semen terjadi diluar kendali.
“Kalau kita di Dinas pekerjaan Umum, Pekerjaan Utama jalan sekarang itu Rigid, sementara posisi saat ini Lembata ketiadaan semen sudah Lebih dari sebulan. Saya sudah himbau ke teman-teman PPK, supaya coba berkoordinasi dengan penyedia jasa, karena kodisi kelangkaan semen diluar kendali penyedia, maupun di luar kendali PPK, jadi perlu ada yang memberi justifikasi misalnya distributor atau produsen semen. Minta surat pernyataan atau keterangan bahwa semen terkendala di produksi, sehingga distribusi ke daerah terkendala, termasuk ke Lembata. Dasar dari itu, PPK bisa memberikan kompensasi. Tapi kalau surat menyurat, dan korespondesni tidak ada, Penyedia bisa kena denda, padahal kelagkaan semen diluar kendali mereka,” ujar Paskal Tapobali.
Tapobali mengaku, hingga saat ini pihaknya sering didatangi para penyedia jasa proyek pemerintah melaporkan kejadian kelangkaan Semen lebih dari sebulan tersebut.
“Penyedia Jasa mengaku tidak dapat melanjutkan pekerjaan rigid jalan, karena ketiadaan semen. Tetapi saya sampaikan bahwa pemerintah tidak menerima keluhan. Kalau hanya omong tentang adanya kelangkaan, Penyedia tetap akan bertanggung jawab karena audit ini berdasarkan dokumen,” ujar Kadis PUPR Kabupaten Lembata, Paskal Tapobali.
Dikatakan, Pemerintah hanya minta penyedia barang dan jasa untuk segera menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak.
Saat ini Pemda Lembata, sedang mengerjakan proyek jalan bersumber dari dana DAK yakni pekerjaan fisk tahun ini Rp. 63,5 Miliar dengan perincian; bidang Bina Marga, Rp. 43,6 M. Dengan dana ini, diasumsi 1 km dengan biaya Rp 4,5 M, maka kurang lebih, 9,6 Km.
Bidang Cipta Karya dan tata ruang Rp. 8,4 M untuk jalan dan air. jalan saja, Rp.5 M, atau hanya 1 Km lebih, dan talud lanjutan seniai 5,9 M.
Kondisi total ruas jalan di kabupaten Lembata adalah 577 km, hanya 21 % dalam kodisi mantap. Selebihnya rusak.***
hosea/sandrowangak












