Sulitnya Transportasi, Ini Masalah Klasik

suluhnusa.com_Ibarat musik klasik selalu enak untuk didengar. Lagu lama, lagu klasik semakin lama, semakin enak didengar. Tetapi itu soal lagu. Soal yang satu ini juga soal klasik. Persoalan yang selalu dinaynyikanh berulang-ulang oleh banyak kalangan di Sabu Raijua. Bukan karena enak untuk di dengar. Sangat tidak enak dikuping, karena tidak nyaman, maka masalah klasik soal sulitnya transportasi di Kabupaten Sabu Raijua terus dinyanyikan.  

Terbatasnya jadwal angkutan laut rute Kupang–Sabu menyebabkan rencana pembangunan di salah satu kabupaten bungsu NTT itu menjadi terhambat. Ini masalahnya. Infrasturktur transportasi menjadi kendala klasik.

Tidak hanya itu, jarak tempuh dari dan ke induk Propinsi di Kota Kupang juga sangat jauh sehingga membutuhkan biaya tak sedikit. Meskipun demikian kondisinya baik DPRD maupun pemerintah setempat terus bergaining guna pembangunan disegala bidang agar ke depan Kabupaten Sabu Raijua menjadi lebih baik.

Demikian dikatakan Simon Dira TomeWakil Ketua Komisi B DPRD Sabu Raijua  ketika melakukan suatu kunjungan kerja di Kupang pekan lalu. 

“Memang yang menjadi persoalan utama kita sekarang di Sabu karena kendala proses pengangkutan bahan material pembangunan dari Kupang ke Sabu Raijua, sebab tidak saja jarak tempuh yang cukup jauh yang menyebabkan biaya angkutanpun turut mahal, tetapi juga terbatasnya rute angkutan ke dan dari Sabu Raijua. Namun demikian tentu kami terus memberikan dorongan kepada pemerintah bergaining membangun sabu ke arah yang lebih baik,”  ungkapkan Simon Dira Tome.

Lebih lanjut Anggota DPRD dari Partai Golkar Sabu Raijua itu mengatakan, untuk tiga tahun pertama Pemerintahan Ir Marthen Dira Tome dan wakilnya Drs Dominggus Rihi Heke sebagimana yang tertuang dalam isi laporan Pertanggungjawaban Bupati beberapa waktu lalu, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua memfokuskan pembangunan pada upaya peningkatan ekonomi rakyat.

Hal ini menurut kami sebagai lembaga mitra pemerintah adalah sangat tepat, sebab dengan melihat kondisi Sabu sekarang ini yang pertama serta perlu di lakukan yakni perbaikan ekonomi.

“Ya jadi setelah tiga tahun kepemimpinan bupati dan wakil bupati sekarang ini sebagaimana tertuang dalam laporan pertanggungjawaban bupati, ternyata fokus pembangunan pemerintah adalah pemberdayaan ekonomi rakyat, hal ini sangat baik untuk merubah Sabu dengan kondisi saat ini,” jelas Simon.

Ia beralasan bahwa program yang digulirkan Pemda Sabu Raijua saat ini tepat dan mendapat apresiasi positif dari DPRD setempat karena untuk membangun infrastruktur Sabu Raijua, yang terutama di bangun adalah ekonomi rakyat.

Sebab apabila ekonomi rakyat sudah berjlan baik maka dengan sendirinya upaya pembangunan pada bidang lain seperti Kesehatan, pendirikan maupun infrastruktur dengan sendirinya akan berjalan lancar. Bertolak dari alasan tersebut masih menurut lelaki yang mengaku saat ini sedang senang dengan kelahiran buah hatinya itu, program pemberian Dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (dana PEM) yang diajukan Pemerintah Sabu Raijua dalam pembahasan anggaran tahun 2012 lalu akhirnya di sahkan DPRD dengan alasan yang ada.

Sehingga saat ini sebanyak 58 desa/kelurahan di Sabu Raijua dipercayakan Pemda dan DPRD untuk mengelolah dana PEM masing-masing Rp.110 per desa/kelurahan. Sehingga diharapkan dengan pemberian dana PEM secara hibah kepada masyarakat tersebut ke depan ekonomi rakyat lambat laun menjadi lebih baik.(Goris Takene)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *