Kondisi Lapas Prihatin, Pemda Belu “Lepas Tangan”

suluhnusa.com_Mestinya tidak terjadi pilih kasih dalam membangun dan membesarkan sesama. Namun dalam kenyataannya, melenceng jauh dari harapan yang diinginkan bersama.

Tetapi harapan yang telah melenceng itu, dapat diperbaiki dengan duduk bersama dan mendiskusikannya untuk mencarikan solusi terbaik.

Adalah bijak jika kedua belah pihak mau saling mendengar dan mau memperbaiki kesalahan yang telah terjadi selama ini, sehingga tidak mengorbankan orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.

Jika masih terjadi saling “menggunting” dalam pembangunan memanusiakan manusia, maka secara sepihak belum dapat dikatakan kesatuan.

Kesatuan itu akan terjawab dengan baik, mana kala kedua belah pihak dengan sadar diri segera memperbaikinya bersama. Agar cita-cita luhur yang didukung dengan semangat pelayanan tanpa pamrih, boleh membuahkan hasil. Dan pula dapat dipetik serta dapat menikmati bersama kesatuan di dalam membesarkan sesama.

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis 20 Maret 2014, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kabupaten Belu, Drs. Petrus Bere, MM dengan santun mengatakan, tidak ada istilah pilih kasih dalam membesarkan sesama. Yang terjadi karena tidak ada niat baik untuk duduk bersama serta mendiskusikan segala kekurangan yang terjadi selama ini.

“Saya sudah katakan, kita berada pada lembaga yang berbeda. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Atambua adalah lembaga vertikal. Bukan berarti Pemda Belu melepaskan tanggung jawab. Kita mempunyai anggaran dana yang sangat terbatas. APBD Belu masih jauh dari harapan. Artinya Pemda Belu tidak melepas tanggung jawabnya dalam memperhatikan Lapas Atambua,” aku Plh Bere dengan rendah hati.

Ditanya, kenapa kondisi bangunan Lapas Klas IIB Atambua semakin memprihatinkan?

Dengan tetap santun dan rendah hati, Bere menanggapinya. 

“Saya tidak bisa mencari segala kelemahan yang ada di Kabupaten Belu ini. Tetapi pihak Lapas Atambua harus datang ke sini (Pemda Belu, red) untuk duduk bersama dan mencarikan solusinya terbaik. Kita sementara berjuang meminta dana dari Pusat, agar Lapas Atambua boleh diperhatikan. Bukan berarti selama ini kita membiarkan Lapas Atambua. Itu hanya karena kurangnya koordinasi antara Lapas Atambua dengan Pemda Belu,” tutupnya ramah.

Secara terpisah, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Atambua, Heru yang didampingi Daniel Saekoko salah satu staffnya ketika menerima tim khusus Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI yang diketuai Endang Sri Melanie, Dyahnan S, Eka Christiani Tanlain dan Kawiji serta Koordinator PADMA Indonesia Propinvinsi NTT, Felixianus Ali, Selasa 11 Maret 2014 silam di ruangannya, menuturkan bahwa selama ini tidak ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Belu terhadap Lapas Atambua. Sehingga membuat Kalapas bersama staffnya dan para warga binaannya tidak berdaya sama sekali.

“Selama ini kami (Lapas Atambua, red) mengalami kesulitan dana karena tidak adanya perhatian dari Pemda Belu. Kondisi bangunan pun telah rusak. Lihat saja plafon serta atap sengnya saja sudah pada bocor dan rusak, tetapi kami tidak bisa berbuat banyak. Bila ada warga binaan yang sakit dan harus dirujuk ke Rumah Sakit, lagi-lagi kami lah yang menanggung biaya. Padahal warga binaan ini kan warga negara Indonesia, tetapi kok kenapa dibebankan kepada kami?? Kondisi Lapas di Atambua sangat prihatin sekali, bila mau dibandingkan dengan Lapas-Lapas lain di Indonesia. Secara historis, Lapas Atambua berada di garda terdepan NKRI. Pihak luar akan melihat Indonesia melalui Lapas Atambua. Kami minta perhatian dari Pemda Belu, agar kami tidak selalu dianak tirikan,” pintanya berharap.

Dapat dijelaskan, setelah melakukan tatap muka dengan tim Komnas HAM RI dan PADMA Indonesia Provinsi NTT, Kalapas Atambua bersama staffnya mempersilahkan tim Komnas HAM RI dan PADMA Indonesia Provinsi NTT untuk melihat dari dekat, seperti apa kondisi Lapas tersebut. Sangat miris sekali ketika melihat kamar para warga binaan, yang mana lantai jubinnya sudah pada rusak dan belum diperbaiki. Dinding tembok kamar dan pagar, pintu, plafon serta atap seng pun tidak layak dipakai lagi. Tetapi, pihak Lapas Atambua bertahan dalam jerit tangis yang sangat memilukan.

Pertanyaannya, akankah kondisi ini tetap dibiarkan begitu saja?? Ataukah akan ada dewa penolong, yang berteriak dari balik terali besi?? (felixianus ali)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *