suluhnusa.com_Pendidikan itu tidak bermakna sama sekali. Pendidikan merupakan awal menuju ke perubahan. Kebanyakan kita telah menjadikan pendidikan sebagai batu sandungan.
Artinya tidak mengikuti perkembangan dan aturan yang berlaku. Tidak ke sekolah atau ke kampus, tetapi menuntut guru atau dosen untuk memberikan nilai yang baik agar boleh naik kelas atau lulus.
Pendidikan dijadikan lokomotif yang tidak baik. Bangsa ini hampir punah dan rusak karena pendidikan telah disalah gunakan. Kita ditantang untuk merubah ketidak benaran itu. Jangan sampai pendidikan hilang akan maknanya,” demikian ditegaskan Ketua Yayasan Pembina As Tanara, Keuskupan Atambua, Reverendus Dominus (RD) Stefanus Boisala dalam pengantarnya ketika bertindak sebagai konselebrantes pada misa pemberkatan gedung sekolah dan ujian semester kenaikan kelas di Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Surya Atambua, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu 4 Juni 2014 pukul 10.00 Wita.
Siang itu, dengan perawakan cuaca yang agak bersahabat dan disertai pula dengan tiupan angin sepoi yang sesekali menampar daun telinga serta menyejukkan hati dengan sapaannya, mengajak semua mereka untuk bergegas mempersiapkan diri menyambut perayaan ekaristi. Sebaris senyum manja terpampang lewat wajah wajah lembut, yang akan memanusiakan manusia lewat sentuhan pendidikan.
Dapat digambarkan, dengan diapit ajuda pembawa lilin dan salib, 12 gadis cantik nan imut yang sedang mengalami pertumbuhan, memamerkan kemolekannya berupa berpakaian merah pink yang di atas kepalanya dipasang bulu ayam dan seikat kain berwarna coklat muda itu sebagai tanda bahwa akan membawa peserta perarakan menuju tempat perayaan. Sedangkan lengan yang tidak tertutup dan berotot itu, diapit lagi dengan alat gendering.
Dengan hentakan kaki sambil badan meliuk bak menyambut raja, liukan badan mereka maju perlahan seturut irama tarian likurai. 2 lelaki di sisi kiri kanannya, tampil laksana pahlawan tatkala ada musuh yang hendak mengganggu.
Dua lelaki itu berpakaian adat dan berpedang sambil menghunuskan pedangnya ke angkasa, bak perjuangan mereka berhasil. Hentakan kaki mereka yang telah mencium debu jubin itu pun, mampu mengajak semua tetumbuhan di situ untuk bersatu dalam kemenangan.
Mendekati gedung aula yang akan dipakai sebagai perayaan ekaristi nanti, 24 gadis cantik nan seksi yang telah bermake up dengan berpakain merah tua, menyambut rombongan pembawa lilin dan salib serta peserta perarakan dengan tarian khas flores menuju panggung mimbar.
Barisan para imam dan umat yang tergabung dalam perarakan itu, dipersilahkan naik ke tenda kemenangan untuk memulai perayaan. Kemudian, 12 dan 24 gadis itu dikembalikan ke kandangnya masing masing, guna turut serta dalam perayaan tersebut.
Koor membakar semua umat, yang telah memadati gedung aula itu dengan lagu lagu perayaan. Bahkan, di antara lagu lagu yang dinyanyikan itu, tampak beberapa wajah terlihat memerah. Mungkin menyadari akan kerapuhannya selama ini, dalam menyeberangi lautan peziarahan.
Dan mungkin juga, sebagai silih atas luka yang belum terobati selama ini alias dosa yang semakin menggunung. Lagu pun dapat menyadarkan umat. Lewat lagu pulalah, umat menyadari dan bertelut dalam palungan pertobatan. Keselamatan pun terjadi.
Dalam homilinya, RD. Stefanus Boisala yang didampingi RD. Benyamin Seran, RD. Yoseph Ukat dan RD. Moses Olin, mengatakan, sebenarnya keselamatan itu sedang terjadi melalui pendidikan. Namun, sayangnya, semua kita masih hampir mempersalahkan pendidikan.
“Apa sih maunya kita, sehingga kita dengan seenak perut mempermainkan pendidikan? Pendidikan tidak boleh dikaitkan dengan politik. Pendidikan merupakan gerbong utama dalam membongkar kelaliman dunia. Didiklah anak murid dan ikatlah dengan pendidikan. Sebab, tanpa pendidikan anak murid atau generasi penerus akan mati. Saya ingatkan jangan sampai pendidikan disalah artikan. Jangan sampai pendidikan hilang akan maknanya. Jadikan pendidikan sebagai modal utama dalam memanusiakan manusia,” pesan Romo Kepala Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua sekaligus merangkap sebagai Dekenat Belu Utara ini serius mengingatkan. (felixianus ali)
