suluhnusa.com_ Mestinya tidak terjadi kevakuman dalam melakukan pengkaderan, jika pihak-pihak yang berkompeten di dalamnya bersedia dan mau membuka diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan yang terjadi selama ini.
Dan bila pihak-pihak itu tidak mau membuka diri dan menerima kenyataan serta memperbaikinya, maka tetap tidak akan terjadi system pengkaderan.
Pengkaderan itu akan berjalan baik dan lancar, bilamana pihak-pihak itu mau saling “menegur” dalam memperbaiki kesalahan dan atau kekurangan itu sendiri. Inilah yang dinamakan pendewasaan dalam mencari dan menemukan pengkaderan yang tangguh, tanggap dan peka terhadap setiap peristiwa atau perubahan yang terjadi saban hari.
Sehingga dari itu untuk menjawabi sebagai solusinya, maka ditempuh dengan cara melakukan “Workshop Militansi Kader Katolik” yang diselenggarakan Seksi Kerawam Keuskupan Atambua yang berlangsung selama dua hari terhitung 19-20 Maret 2014 di Aula Santu Dominikus Emaus, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Workshop Militansi Kader Katolik yang melibatkan organisasi masyarakat (Ormas) dalam tubuh Gereja Katolik Roma yakni WKRI, ISKA dan Pemuda Katolik itu, menghadirkan Doktor Bele Antonius, M.Si sebagai narasumber, moderator RD. Gregorius Sainudin Dudi dan Ketua Seksi Kerawam Anton Tisera.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan dari Seksi Kerawam Keuskupan Atambua dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi WKRI, ISKA dan Pemuda Katolik. Kegiatan ini murni kegiatan Kerawam dan tidak ada kaitan dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) yang akan berlangsung 9 April mendatang. Tetapi lebih tentang kapasitas kader katolik dalam hidup bergereja dan bernegara. Ini merupakan pembenahan Ormas Katolik dan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Pendampingan yang bersifat kerawam untuk melihat kembali Organisasi ini dan perlu direnofasi diri, sehingga ISKA yang selama ini tidak eksis dapat kembali eksis di tengah-tengah masyarakat. Dan ini merupakan kapasitas peranan kaum awam dalam kehidupan dunia,” ucap RD. Gregorius Sainudin Dudi, ketika menutup dengan resmi Workshop tersebut.
Doktor Bele Antonius, M.Si dalam pencerahannya sebagai narasumber, mengungkapkan keprihatinannya bahwa sebagai warga negara harus terlibat ke dalam bidang politik dan harus sanggup memikul beban sebagai pengikut Kristus.
Dan perlu mempunyai prinsip-prinsip ke-katolik-an yang sejatinya harus dipancarkan keluar, sehingga diketahui masyarakat luas tetapi tetap dalam bingkai sebagai warga negara bukan sebagai warga gereja.
Jika dalam panggung perpolitikan, hendaknya bersedia meninggalkan embel-embel agama agar dapat diterima semua komunitas masyarakat Indonesia. Dan akhirnya tetap diakui sebagai warga negara bukan sebagai umat katolik, sehingga terhindar dari perpecahan yang mengatasnamakan agama.
“Saya maju sebagai Caleg dari PDI-P untuk Dapil Kota Kupang bukan sebagai umat katolik, tetapi sebagai warga negara. Dalam proses perjuangan itu saya memegang prinsip yang berlabel tiga S yakni Siap, Santun dan Setia. Dan saya pun harus menghindari penyakit yang berlabel tiga R yakni Rampas, Ribut dan Rakus. Ketika saya tidak terpilih dan atau pun terpilih sebagai Calon Legislatif, saya sudah harus siap. Bukan kebanyakan orang ketika gagal dalam perjuangan malah memilih frustasi atau pun sejenisnya. Itu pertanda bahwa orang itu tidak siap dalam perjuangan. Sebagai umat katolik, seharusnya tidak boleh takut dalam berpolitik. Sebab, berpolitik itu tidak kotor. Berpolitik itu baik. Yesus mengajak umat Israel mengikutiNya karena politik. Buktikan bahwa kita sebagai umat katolik mampu tampil dalam kancah perpolitikan. Tidak perlu takut untuk mengenal dan mendalami dunia perpolitikan,” ajak penulis buku dan pemilik percetakan Gita Kasih ini bersemangat.
Sedangkan Anton Tisera ketua Seksi Kerawam Keuskupan Atambua, mengatakan, fungsi kerawam adalah untuk melakukan perutusan dan penyelamat gereja. Tetapi tidak kalah dengan ormas-ormas lainnya.
“Diharapkan WKRI, ISKA dan Pemuda Katolik dapat menjadi pilar yang baik dalam menyalurkan aspirasi politik untuk bangsa dan gereja. Kita masih harus merefitalisasi kembali ormas dalam tubuh gereja,” akunya polos. (felixianus ali)
