suluhnusa.com_Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas kali sudah kami pindah rumah. Ayah menata hidup kami mirip kehidupan gipsy, bosan di satu desa, di satu banjar, ia memutuskan mencari kontrakan baru dengan lingkungan dan suasana yang benar-benar baru. Tak ada yang aneh dengan kepindahan kami yang berkali-kali dalam kurun waktu dua belas tahun itu. Kami dengan mudah dapat menyesuaikan diri, kami memang seperti bunglon, dapat berubah warna dengan cepat sesuai keadaan dan tempat. Tempat tinggal kami yang baru terletak di desa Batanpoh, berdekatan dengan Pantai Sanur.
Pemilik rumah yang baru sepasang suami isteri berusia sekitar enam puluhan, mereka akrab kami sapa dengan Pan Wayan Deblog dan Dadong Kerti. Untuk ukuran masyarakat Bali kala itu dan penduduk desa Batanpoh khususnya, pasangan suami isteri ini terbilang berada, mereka memiliki tiga rumah kontrakkan, seekor kerbau, dua pasang babi dan sepuluh anak-anak mereka, serta sepasang sapi dengan lima petak sawah seluas lima ribu meter persegi yang terletak di desa Padang Galak.
Pasangan ini tidak memiliki anak kandung, seorang anak angkat mereka, laki-laki, sudah menikah dan menetap di Banjar Pekandelan, berdekatan dengan Banjar Batanpoh. Anak laki-laki yang beruntung ini memperoleh dua petak sawah, seekor kerbau dan sebuah rumah seluas lima are lengkap dengan merajan atau sanggah untuk bersembahyang.
Rumah yang disewa ayah terletak satu lokasi dengan rumah induk yang ditempati Dadong Kerti dan suaminya. Di belakang rumah mereka ada kandang kerbau dan sapi yang bersebelahan dengan kandang babi. Jika pagi menjelang, aroma tak sedap menyeruak kemana-mana, bergabung dengan semilir angin dan menebarkan bau yang mengganggu penciuman kami. Tapi penderitaan akibat bau hanya kami rasakan beberapa hari saja, selebihnya bau tak sedap itu mulai kami akrabi, apalagi tak lama kemudian aku telah memperoleh teman baru yang militan, nakal, pandai berenang, pandai berjualan patung di tepi Pantai Sanur, dan pandai memanjat pohon apa saja. Namanya Nyoman Kantun, darinya aku dan adik-adikku belajar banyak hal, termasuk menari Bali dan menyukai pertunjukkan drama gong, kisah Ramayana, hingga tari kecak. Aku merasa inilah dunia baruku, dunia yang benar-benar penuh kejutan.
Dadong Kerti lebih dominan dari suaminya. Nenek yang satu ini seperti memiliki tenaga kuda, ia tak pernah terlihat lelah, sebelum matahari terbit, ia sudah bergelut dengan dapurnya, ya dapur menjadi titik sentral kehidupannya, di sana ia membuat canang, memasak berbagai penganan untuk dijual, mengolah makanan buat binatang-binatang piaraannya, dan berkidung menyanyikan kekawin/lagu-lagu pemujaan pada Ida Sang Hyang Widhi Waca yang dikarang para pujangga Bali. Sedang Pan Wayan Deblog lebih banyak berada di sawah bersama kerbau dan sapi-sapinya. Anak angkat mereka, jarang bahkan hampir tak pernah datang menjenguk kedua orang tua angkatnya.
Perihal anak angkatnya, Dadong Kerti pernah bercerita padaku, sesungguhnya ia menginginkan anaknya itu serta isteri dan satu orang cucunya (yang seorang telah meninggal dunia) tinggal bersama dia dan suaminya, satu rumah kontrakkan permanen dari tiga rumah yang dibangunnya itu untuk mereka. Namun entah kenapa, ketika cucu keduanya lahir, anak angkatnya langsung memutuskan pindah. Kepindahan itu berawal dari sakitnya sang cucu ketika berusia tiga bulan. Hampir tiap malam, bayi itu menangis, tubuhnya kejang, matanya melotot dan bayi itu muntah-muntah. Wayan Merta, nama anak angkatnya, marah besar dan langsung menuduh ibu angkatnya bisa ngeleak, mencincar anaknya untuk dipersembahkan pada Batari Durga, yang ia tuduh sebagai dewi leak junjungan Dadong Kerti. Tuduhan itu memang belum pasti, namun Wayan Merta yakin ibu angkatnya bisa ngeleak.
Sesungguhnya sebutan leak dapat berkonotasi jahat dan menakutkan. Namun leak sebenarnya ada dua jenis, yaitu leak dengan aliran putih yang disebut Penengen, dan leak beraliran ilmu hitam dinamakan Pengiwa. Penengen leak yang baik, sedang pengiwa leak jahat. Sebenarnya nama leak adalah Liya Ak, entah mengapa berubah menjadi Leak, aku sendiri tidak tahu. Nama itu sudah ada sejak sebelum aku menetap di bali. Leak berarti mencari pencerahan melalui aksara Bali, yaitu Lina aksara yang artinya memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara ke dalam tubuh dengan cara tertentu. Kisah leak menjadi mahluk yang menakutkan dan dapat mencabut nyawa seseorang, menjadi kisah yang berada di posisi antara “ya” dan “tidak”, jadi masih menjadi kisah yang abu-abu. Mahluk ini menjadi seram karena dibumbui dengan cerita-cerita yang pada akhirnya membuat orang percaya kalau dia memang benar-benar mahluk yang menyeramkan.
Entah, jika benar Dadong Kerti bisa menjadi leak, apakah dia Penengen atau Pengiwa, sekarang masalahnya bukan hitam atau putih lagi. Aku tidak mengerti seperti apa cara kerja para leak itu, yang pasti jika benar Dadong bisa ngeleak, ini gosip yang menakutkan. Aku resah, aku gelisah. Sebab, menurut penuturan beberapa temanku di sekolah, leak sangat menyukai balita. Nah, aku mempunyai adik yang berusia empat tahun. Dia bisa menjadi sasaran empuk ilmu pengeleakkan Dadong Kerti. Adikku sewaktu-waktu bisa dijadikan tumbal. Adikku sewaktu-waktu dapat dipersembahkan ke Batari Durga.
Maka kegelisahanku ini kusampaikan pada ayah.