Nitha Doko, Ina Sabu Yang Mahir di Panggung Lamaholot

Dari namanya, memang masih sangat asing di Flores Timur. Yunitha Devrudyan Doko. Benarkan, namanya sangat asing untuk orang Flores Timur, namun kenapa ia begitu hebatnya di atas panggung dengan peran ” Tonu Wujo” yang bagi kita Orang Flores Timur saja mungkin sulit untuk memerankannya.

Nitha, sapaannya punya pengalaman menarik di dunia menulis, melukis, menggambar, bernyanyi hingga main teater. “Dulu waktu SD, cita cita saya menjadi Seorang Komikus, SMP saya bercita cita menjadi seorang penulis cerpen, SMA saya ingin menjadi waratawan dan SI saya mau jadi artis panggung.

Menjadi Komikus karena dulu saya suka baca komik,dan sering mengambar komik, menjadi penulis cerpen karena saya di usia SMP menghasilkan banyak tulisan cerpen, Ingin menjadi wartawan, karena waktu SMA di Geovani Kupang, saya termasuk salah satu pelajar yang dijaring oleh Pos Kupang menjadi Wartawan Pelajar di mana, kala itu, kami diberi kartu wartawan dan bisa melakukan liputan tentang apa saja di Kota Kupang dan sekitarnya. Kami diajarkan menulis berita, mengedit hingga cara menerbitkan tulisan melalui koran.

“Waktu itu, ada halaman atau rubrik yang disiapkan khusus untuk kami. Ada kolom inspirasi, rubrik Indahnya Budayaku dan lain lain. Saya masih ingat kami menulis artikel tentang facebook, dimana saat itu facebook menjadi isu yang aktual. Gaya bahasa yang kami gunakan adalah bahasa remaja. Bangga sekali,”tutur Nitha.

TERKAIT :

Sabu-Raijua, Perawan yang Terjebak Dalam Samudra

Di Dunia Kampus Nusa Cendana Kupang, Nitha terlibat di banyak komunitas teater diantaranya Komunitas Gembel Reformasi, Teater Tanya, Rumah Puitika dan lain lain. Di tahun 2010, Ia bersama teman teman di Komunitas Gembel Reformasi, membawahkan Parodi dengan Tema “Anggur Merah” yang berhasil keluar menjadi juara I pada lomba yang digelar oleh Infokom NTT.

Selain beberapa karya lain,ia juga terlibat dalam pementasan teatrikal pada peresmian Gong Perdamaian di Kota Kupang, yang pada waktu itu, mereka dilatih oleh Seniman, Abdy Keraf.

Sepintas berkenalan dan ngobrol, saya menemukan jiwa pejuang pada diri Nitha. Sejak usia 4 tahun, ia harus bertahan hidup sendiri dengan mama karena ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ia bahkan tidak mengingat persis wajah bapanya.

Sejak itu, ia bertahan hidup dengan mama dan adik bungsunya. Adiknya sekarang, waktu ayah mereka meninggal, ia masih dalam kandungan mamanya.

Bagi Nitha, sosok mamanya, Diana Doko itu, pekerja keras dan sangat disiplin. Ia pantang menyerah berjuang untuk kesuksesan anaknya. Walau hanyalah seorang Wiraswasta kecil. Mengambil peran mama, sekaligus bapa memang tidak mudah. Hanya perempuan perempuan tanguhlah, yang bisa bertahan. Dan itu ditunjukan oleh Ibunya Nitha.

One comment

  1. luar biasa sodari nitha doko,teruslah berkarya karena darah seni sudah mendarah daging dalam tubuhmu.
    segala sesuatu berasal dari Tuhan.
    ingatlah Tuhan untuk perjalanan karyamu.
    Tuhan memberkatimu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *