Lewat kesabaran,perjuangan, dan pengorbanan mamanya, Nitha bisa menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada SDN Bonipoi 1 Kupang (2004), SMP Negeri 2 Kupang (2007), SMAK Geovani Kupang (2010), Kuliah SI, FKIP Bahasa Indonesia Undana Kupang (2015) hingga menempuh Pendidikan Magister Linguistik Umum di Universitas Warmadewa Pulau Dewata Bali (2017).
Tamat di Universitas Warmadewa 2017, ia ditawarkan oleh Profesor Aron Meko Mbete, Asal Ende, Dosen Udayana Bali, untuk bergabung di IKTL Larantuka.
“Kalau selesai studi magister, belum dapat kerja dan masih ngangur, bisa bergabung di IKTL Larantuka” demikian Nitha mengucapkan kata kata ajakan Prof Aron sesaat setelah ujian tesisnya.
Memang dalam hatinya, ia tidak mau meninggalkan ibunya sendiri dengan adiknya yang bungsu di Kupang, namun di sisi lain, ia juga sementara memutar otak di mana ia harus bekerja nanti setelah dari Bali. Undana pasti sulit diterima.
Atas tawaran dan ajakan yang ada, Nitha melayangkan surat ke Pimpinan Yayasan IKTL di Larantuka. Dan selang beberapa bulan ia mendapat surat balasan dari pihak yayasan untuk diterima bekerja di IKTL.

Ia datang dengan tidak mengenal siapa siapa di Larantuka. Tiba di Larantuka 5 Agustus 2017 dan resmi mulai bekerja di IKTL 7 Agustus 2017. Di IKTL, pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, ia mengasuh Mata Kuliah, Analisis Berbahasa Indonesia, Telaah dan Apresiasi Fiksi, Sosiologi Sastra dan Pengelolaan Majalah Sekolah.
Selain sebagai Dosen, Nitha dikenal sangat aktif menghidupkan kegiatan ekstrakurikuler pada bidang Seni. Bersama dua temannya Martinus Irwanto Ishak dan Dominikus Boli Watomakin membentuk sebuah komunitas sastra tingkat kampus yang dikenal dengan nama “Sleru” yang artinya sebuah piring atau wadah kecil yang kehadirnya dapat menjadi pelengkap.
Terbentuk dengan 14 anggota, dan telah menghasilkan banyak karya yang dipentaskan di tingkat kampus diantaranya musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, tari kontemporer dan lain lain. Pentas yang mereka bawahkan di momentum wisuda perdana IKTL mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton.
Berawal dari panggung kecil dengan penonton yang terbatas inilah, Nitha mulai dikenal. Dan Rektor IKTL, Vinsensius Lembalah yang kemudian memperkenalkan Nitha dengan Romo Laurensius Riberu, Romo Moderator Komunitas Fanfare St. Caesilia yang saat itu sedang mencari fugur seorang perempuan yang bisa berperan sebagai ” Tonu Wujo”. Target awal memang harus ibu ibu, tapi kemudian pilihan jatuh pada seorang gadis Sabu. Nitha.
Saatnya Nitha menemukan dunianya kembali, bergabung dengan Tim yang sedang melakukan persiapan untuk pentas teater. Saat itulah, untuk pertama kali ia bisa bertemu dengan Zaeni Boli, dan kawan kawan, juga Sang Sutradara Kawakan, Silvester Petara Hurit.
Dimata Nitha, Sivester itu seorang seniman hebat dengan ekspetasi yang tinggi, untuk sebuah pementasan.
“Kaka Sil itu, seniman hebat yang baru saya temukan. Sistem pelatihannya bagus. Di awal latihan, dia tidak kasih teks. Latihan terus berjalan tanpa teks. Saya ingat betul di beberapa hari awal kami latihan, kami diminta hanya jalan saja, seolah olah kaki tidak menginjak di tanah. Dan itu kami lakukan ulang ulang. Selanjutnya kami diperdengarkan dengan lagu lagu, bunyi suling yang bersenandung. Pokoknya, latihan yang tidak biasa dari sebelumnya yang saya alami. Baru diakhir latihan, kami diberi teks, syair dan langsung praktek. Saya pada satu adegan, K Sil buka musik dan langsung perintahkan saya menyanyi, spontan saya menyanyi lagu daerah yang langsung bisa, padahal saya bukan orang Larantuka. Hebatnya K Sil itu disitu,”tutur Nitha.

luar biasa sodari nitha doko,teruslah berkarya karena darah seni sudah mendarah daging dalam tubuhmu.
segala sesuatu berasal dari Tuhan.
ingatlah Tuhan untuk perjalanan karyamu.
Tuhan memberkatimu.