Nitha mengaku, perannya sebagai “Tonu Wujo” sangat bertolak belakang dengan karakter aslinya yang cerewet. Di bagian ini, K Sil Sutradara kami menerapkan stratrgi puasa bicara.
“Saya mengikuti apa yang diarahkan K Sil, dan memang berhasil. Di kampus, beberapa hari jelang pementasan, saya puasa bicara. Malam hari saya dengungkan lagu lagu daerah yang digunakan dalam pementasan, dan ini cara yang efektif untuk berlatih. Latihannya memang berat. Tapi memang demikian. Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas, latihan harus sungguh sungguh. Saya sempat sakit untuk beberapa hari. Sutradara kami menguatkan saya kata, sakit itu adalah pembersihan diri sebelum pentas. Benar apa yang dikatakan Sang Sutradara, jelang sehari pentas, sakit yang saya derita sembuh total, hingga aman sampai selesai pentas. Ada keajaiban yang saya rasakan,”kata Nitha.
Bagi Nitha, Hidup itu berawal dari mimpi.
“Jangan takut bermimpi, jangan takut jatuh, beranilah mencoba. Jika hari ini antusias masih kurang dalam dunia seni, kita tidak boleh menyerah. Menyukai seni itu butuh proses. Jika ada panggung kita siap isi dan kalaupun tidak ada panggung, kita siap ciptakan,” ungkapnya
Gadis Sabu yang memiliki hobi membaca, menulis, menggambar dan berteater ini ingin terus berkarya di Flotim. “Saya akan terus berkarya, berbagi dan menginspirasi anak anak muda Flotim untuk mencintai seni. Seni itu keindahan dan keindahan me ciptakan daya kreasi dan inovasi,”kata Nitha. Ia berpesan kepada anak muda Flotim untuk selalu menampilkan karya dalam mendukung perubahan di bidang masing masing sesuai talenta.
BACA :
https://suluhnusa.com/seni-budaya/20131120/cukup-engkau-cium-hidungku.html
Setelah sukses mementaskan Teater “Tonu Wujo” di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka, pada tanggal 7 Juni 2018 mendatang bersama tim akan ke Kupang, mengisi acara yang sama di Pesta Ulang Tahun Emas Paroki St. Yoseph Naikoten, mengisi acara di Gereja Asumta Kupang dan terakhir di Hotel Aston Kupang.
Nitha, orang Sabu yang mampu menjiwai Budaya Lamaholot lewat perannya sebagai “Tonu Wujo”. Bagaimana dengan kita, khususnya generasi muda yang berdarah asli Lamaholot….?
maksimus masan kian





luar biasa sodari nitha doko,teruslah berkarya karena darah seni sudah mendarah daging dalam tubuhmu.
segala sesuatu berasal dari Tuhan.
ingatlah Tuhan untuk perjalanan karyamu.
Tuhan memberkatimu.