Uskup Larantuka Pimpin Misa Mengenang 40 Tahun Tragedi Waiteba

PENULIS : Yan Moruk/Kominfo Kabupaten Lembata

“Pemerintah agar bersama gereja dapat menjaga masyarakat daerah dan negara kita sehingga terhindar dari peristiwa-peristiwa bencana yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Untuk itu perlu adanya pemberitahuan yang sedini mungkin dan sosialisasi kepada masyarakat akan bahayanya resiko dari bencana yang terjadi kapan saja dan di mana saja”, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, PR, Uskup Larantuka.

suluhnusa.com – Tragedi memilukan 40 Tahun silam. Tragedi yang terjadi di Kecamatan Atadei Kabupaten Flores Timur Tahun 1979. Kini seakan mengusik kembali ingatan kita akan tragedi yang dialami masyarakat Waiteba – Atadei kala itu.
Nyawa manusia bersama harta benda direnggut oleh bumi dengan sekejab mata semuanya sirna. Suasana kebahagiaan diganti dengan selimut duka yang mendalam.
Banyak jasad dari korban bencana yang hilang terbawah derasnya arus dan banyak pula yang tertimbun oleh tanah. Oleh karena itu masyarakat Atadei selalu mengenang peristiwa tragis itu dalam perayaan misa suci hingga saat ini.
Pada hari Rabu, (17/7/2019)  masyarakat Atadei bersama para korban yang selamat dari bencana tsunami merayakan misa suci peringatan akan tragedi waiteba 40 Tahun silam. Perayaan misa suci itu dipimpin oleh yang mulia Uskup Larantuka Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr. Perayaan misa ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Lembata Dr. Thomas Ola, SE, M.Si, Anggota DPRD Kabupaten Lembata Petrus Bala Wukak dan beberapa pimpinan OPD dan Camat Atadei serta masyarakat Atadei.
Dalam sambutan yang Mulia Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. Mengajak kita untuk selalu mendoakan sanak keluarga kita yang meninggal terkhusus pada peristiwa tsunami di waiteba. Beliau juga mengharapakan agar kita tidak  menganggap tempat ini sebagai tepat terkutuk, melainkan sebagai tempat yang menjadi kenangan akan pelajaran Tuhan kepada kita umatnya agar senantiasa teguh pada-Nya, ucapnya.
Lanjutnya, beliau meminta kepada pemerintah agar bersama gereja dapat menjaga masyarakat daerah dan negara kita sehingga terhindar dari peristiwa-peristiwa bencana yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Untuk itu perlu adanya pemberitahuan yang sedini mungkin dan sosialisasi kepada masyarakat akan bahayanya resiko dari bencana yang terjadi kapan saja dan di mana saja.
Tambah Wakil Bupati Kabupaten Lembata dalam sambutannya, mengatakan ini merupakan panggilan leluhur lewotanah dan keluarga saya di Waiteba ini, untuk ikut membagi rasa duka pada  peristiwa tsunami yang terjadi 40 tahun silam. Keluarga kita di Waiteba kala itu banyak mengalami kehilangan harta benda dan jatuhnya korban jiwa yang diakibatkan oleh peristiwa tsunami tersebut, katanya.
Karena cinta kepada adat dan kebudayaan serta lingkungan yang begitu kuat membuat mereka enggan melangkahkan kaki untuk meninggalkan Waiteba  yang kala itu sebagai Kota Kecamatan Atadei. Oleh karena itu, hampir 1000 orang yang menjadi korban jiwa pada saat bencana menghempas daratan di lembah Bukit Baoraja tersebut.
Untuk itu Wabup, meminta agar kita terus mengenang dan mendoakan sanak keluarga kita yang pada saat itu menjadi korban dari keganasannya alam 40 tahun silam. Semoga jiwa mereka diselamatkan dan keluarga yang ditinggalkan tetap berpengharapan bahwa Waiteba menyimpan potensi yang besar untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya, ungkap Ola.
Wabub juga berpesan kepada masyarakat yang telah kembali menghuni tempat yang ditandai dengan garis merah pada masa pemerintahan kala itu. Beliau berharap agar selalu berwaspada karena mungkin saja peristiwa itu bisa saja terulang lagi. Hal ini didasarkan pada siklus alam yang selalu berjalan dari tahun ke tahun, katanya.
Beliau juga meminta kepada para pimpinan OPD untuk menciptakan inovasi yang dikembangkan dari potensi yang dimiliki oleh daerah ini. Karena Waiteba ini sebagai lumbung susu dan madu yang dihasilkan dari kekayaan laut dan pertanian, pintanya.
Untuk itu upaya terus dilakukan pemerintah daerah dalam mensejahterakan masyarakat Lembata. Salah satu upaya itu  dengan membangun jalur lingkar luar kabupaten ini, yang sedang dalam pengerjaan. Jalur lingkar luar ini telah dikerjakan hingga Wade dan akan dilanjutkan menuju Bobu dan Waiteba, tuturnya.
Hal ini merupakan pemicu yang dapat menggerakkan aktifitas ekonomi masyarakat yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Lembata sendiri. Dengan demikian pemerintah memerlukan batuan dari berbagai pihak untuk dapat bersinergi mewujudkannya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, beliau menundukkan kepala dengan rasa penuh duka menyampaikan ungkapan hatinya, atas nama pribadi, masyarakat dan pemerintah daerah menyampaikan duka cita mendalam untuk semua keluarga yang menjadi korban peristiwa tsunami pada tahun 1979 di Waiteba. Dengan harapan penuh agar kita yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi hidup kedepanya yang lebih baik.
Lanjutnya, Umat miliknya gereja dan masyarakat miliknya daerah, jika gereja dan pemerintah bekerja sama untuk orang yang sama tentu akan lebih mudah dalam pembangunan daerah ini. Karena kita memiliki tujuan yang sama yaitu demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Lembata yang kita cintai, tutupnya.
Usai perayaan misa dilanjutkan dengan pemberkatan makam para  korban bencana oleh yang Mulia Bapak Uskup Larantuka. Dan dilanjutkan dengan ziara ke makam masal oleh Wabub  dan para tamu serta sanak keluarga dari korban tsunami waiteba.
Yang sebelumnya telah dilakukan perayaan misa seribu lilin dan penaburan bunga di pesisir pantai Waiteba yang terjadi pada malam hari sebelum esok harinya dilanjutkan dengan misa suci oleh yang Mulia Bapk Uskup. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para korban tsunami waiteba yang hingga kini tidak ditemukan jasadnya.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *