Saat Idul Fitri, Damai Itu Datang Dari Gereja Ke Masjid

suluhnusa.com_Di Honihama, Desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur, toleransi antar umat beragama adalah warisan leluhur yang secara turun temurun dirawat dan dipupuk.

Saling menghormati dan menghargai antar umat beragama (islam dan katolik) di kampung ini sudah membudaya. Tak heran, jika di tempat lain muncul konflik karena persoalan beda agama, tidak akan berpengaruh sedikitpun, terhadap kesatuan keluarga beda agama di tempat ini.
Tradisi saling menghargai antar umat beragama begitu nyata. Pada hari besar keagamaan umat Katolik (pesta paskah dan natal) Umat Islam memyambangi rumah-rumah umat katolik dan memberi salam.

Acara kebersamaan dalam memperingati pesta paskah dirayakan bersama umat islam yang digelar di tengah kampung dengan acara hiburan kerohanian dari umat islam dan katolik.

Pristiwa yang sama juga terlihat pada hari raya keagamaan Umat Islam (Idul Fitri). Umat katolik akan menyambangi umat islam dan memberikan selamat menyampaikan permohonan maaf, lahir dan batin, dan mengelar acara memperingati pesta idul fitri bersama.

Pada momentum itu pula, terselip pembicaraan program – program strategis dalam pembangunan desa. Toleransi ini dipupuk bersama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sudah menjadi kekayaan lokal dalam menumbuhkan semangat kekeluargaan dan persaudaraan di tengah perkembangan arus globalisasi.

 

Foto: Salam damai umat Katolik dan Islam saat jari raya idul fitri 2016 (foto: masankian)
Foto: Salam damai umat Katolik dan Islam saat jari raya idul fitri 2016 (foto: masankian)

Acara bersama dalam memperingati Idul fitri 1437 Hijriah Rabu 6 Juli 2016 di Honihama Desa Tuwagoetobi digelar bersama umat katolik. Umat islam sejak pagi menjalankan sholat Id di Mesjid Al – Mutakim. Usai sholat, semua umat islam berkumpul di Kantor Dusun Lewolein Desa Tuwagoetobi. Sementara itu di halaman gereja St. Yudokus Honihama yang tak jauh dari mesjid sedang berkumpul umat katolik.

Umat islam yang sudah siap, berdiri berjejer sepajang ruas jalan di tengah kampung. Mulai dari orang dewasa hingga anak – anak. Umat katolik yang sudah terhimpun di halaman gereja perlahan bergerak menyambangi Umat Islam yang sudah berdiri berjejer dan berjabatan tangan, saling memberi salam. Suasana terasa begitu damai.

Di sepanjang ruas jalan di tengah kampung pagi hingga siang itu dipenuhi umat mewujudkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Ada senyum dan tawa kedua umat beda agama ini saat saling berjabatan tangan, beberapa nampak saling berpelukan. Gambaran akan sebuah persahabatan.

Usai berjabatan tangan. Semua umat bergerak menuju ke Halaman Kantor Dusun Lewolein dan mengikuti acara Idul Firti bersama.

Hadir pada kesempatan itu, Kepala Desa Tuwagoetobi Audaktus Lawe Ama, Ketua BPD Kamilus Tupen Jumat, Imam Mesjid Al- Mutakim Rasyid Payong Doni, Ketua Dewan Stasi St. Yudokus Honihama Klemens Kopong Miten, Tokoh adat, tokoh pendidikan, tokoh muda dan warga Desa Tuwagoetobi kurang lebih 1600 orang.

Iman Mesjid Al – Mutakim Honihama Rasyid Payong Doni dalam sambutannya mengatakan toleransi antar umat beragama (Islam Dan Katolik) di Honihama merupakan warisan leluhur. Dan diturunkan secara turun temurun.

“Toleransi umat beragama di Honihama merupakan warisan leluhur dan diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Dalam kebersamaan di tempat ini hati kita terasa damai dan tentram. Dua agama yang meyatu dalam acara memperingati acara besar keagamaan ini menciptakan rasa aman yang mendalam. Momen ini telah menyatuhkan hati kita. Hati yang damai. Mari terus kita lestarikan tradisi toleransi antar umat beragama di wilayah kita ini,’kata Rasyid.

Foto: Salam damai umat Katolik dan Islam saat jari raya idul fitri 2016 (foto: masankian)
Foto: Salam damai umat Katolik dan Islam saat jari raya idul fitri 2016 (foto: masankian)

Klemens Kopong Miten Ketua Dewan Stasi St. Yudokus Honihama, pada kesempatan itu mengajak segenap umat islam dan katolik untuk menggunakan ‘pintu hati’ dalam menerima setiap pengaruh yang datang dari luar.

“Buka lebar pintu hati untuk menerima setiap hal yang baik, dan tutuplah pintu hati kita saat ada hal – hal negatif yang ingin masuk merasuk hati kita yang mengarah ke perpecahan. Leluhur kita jauh sebelum kita ada telah membuka pintu hati menerima ajaran agama islam dan katolik di kampung kita ini dan hati kita sudah menyatu sejak itu. Ruang maaf harus selalu ada antar satu umat dengan umat yang lainnya. Berani membuka diri dan mengakui kesalahan menjadi bagian penting dalam menyuburkan persatuan dan kekeluargaan, kata Klemens.

Bagi Klemens, penghargaan yang diterima Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya tahun ini dimana NTT ditetapkan sebagai Provinsi dengan toleransi umat beragama yang baik di Indonesia adalah bagian dari kontribusi umat Honihama yang dari tahun ke tahun terus menjaga tolerasi antar umat beragama.

“Bagi saya, penghargaan yang diterima Gubernur NTT Frans Lebu Raya atas ditetapkannya Provinsi NTT sebagai Provinsi dengan toleransi umat beragama yang baik di Indonesia tahun ini, adalah juga menjadi bagian kontribusi umat Honihama yang dari tahun ke tahun tetap menjaga toleransi antar umat beragama. Tentang toleransi antar umat beragama di Honihama, dua tahun kemarin pernah dipublikasikan oleh putra Honihama Maksimus Masan Kian di media cetak dan on line, dan keyakinan saya banyak umat di tempat lain juga terinspirasi. Mari terus kita pupuk dan dan lestarikan kearifan lokal ini, kata Klemens.
Sementara itu, Kepala Desa Tuwagoetobi Audaktus Lawe Aman mengatakan, Bulan Ramadan, adalah bulan membakar dosa. Pasca dosa dibakar, maka manusia menciptakan kehidupan yang aman dan damai.

“Idul Fitri menjadi momentum untuk kita saling meneguhkan, terbuka, memaafkan, dan saling mendukung. Bicara tentang toleransi tidak sekedar pemanis di bibir, namun harus terus dijalankan. Jika di tempat lain rindu akan toleransi umat beragama, di desa kita ini sudah tercipta. Mari kita bergandengan tangan membangun desa kita dengan kekuatan kerukunan antar umat beragama. Desa kita tentu dikenal dengan hal positif ini, maka pertahankan itu. Sebagai pimpinan di desa ini, saya terus mengajak kepada segenap warga untuk tetap menjaga ‘aset sosial’ ini. Promosikan desa kita dari hal yang positif, dan jangan membuat orang mengenal desa kita dari hal yang negatif,”tegas Audaktus.

Honihama Desa Tuwagoetobi memiliki jumlah penduduk sebanyak 1750 jiwa. Umat katolik berjumlah 1.393 dan umat islam 357 jiwa. Tuwagoetobi adalah kampung yang paling terakhir di bagian timur Kecamatan Witihama berbatasan dengan Deri Desa Dua Belolong Kecamatan Ile Boleng. (maksimus masan kian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *