Kader PGRI Flotim Jadi Fasilitator Coding dan AI di Dua Kabupaten

Pembelajaran Coding dan AI di Sekolah, Harus Pertimbangkan Kemampuan Guru dan siswa

Home » Berita » Seni Budaya » Kader PGRI Flotim Jadi Fasilitator Coding dan AI di Dua Kabupaten

LARANTUKA – BERBAHAI inovasi pendidikan di era baru, kompetensi guru harus terus berkembang, terutama yang berkaitan dengan digitalisasi mesti mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Salah satu pihak yang konsisten memberikan dukungan bagi pengembangan SDM guru dan siswa demi perkembangan pendidikan adalah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) cabang Flores Timur.

Terbukti, beberapa guru di Flores Timur yang tergabung dalam PGRI menjadi fasilitator yang memberikan dukungan kepada pemerintah memperkenalkan mata pelajaran (Mapel) baru tentang coding (pemprograman) dan Kecerdasan baru atau artificial intelligence (AI). Mereka menjadi fasilitator untuk Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

“Dua pelajaran itu dinilai semakin penting dalam pendidikan, mengingat perkembangan teknologi yang pesat dan akan diimplementasikan pada kurikulum pendidikan sekolah dasar tingkat SD dan SMP”, ungkap salah satu Fasilitator Agusslalim Bebe Kewa,S.T kepada SuluhNusa.com, 8 Juli 2025.

Untuk mengantisipasi dua mata pelajaran baru tersebut, ungkap Agusalim, guru harus memiliki kompetensi di bidang digitalisasi yang disesuaikan dengan kompetensi pedagogik milik guru.

Untuk itu, persiapan pelatihan pembelajaran Coding dan AI tidak hanya dilakukan di Kabupaten Lembata tapi juga di Flores Timur.

Pelatihan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial jenjang Dikdas kabupaten Flores Timur Batch 1 di SMPK Phaladyia Waiwerang 7 -11 Juli 2025 diikuti oleh 19 peserta guru SD sedaratan Adonara yang mendapat BOS Kinerja.

Didampingi oleh dua fasilitator nasional yang sebelumnya mengikuti bimtek calon fasiltitator KKA di hotel VoUk Nusa dua Bali tgl 9 -15 Juni 2025. AgussalIm Bebe Kewa,S.T. guru matematika MTsN 4 Flores Timur Witihama dan La Ode Yusman,S.Pd.Gr. guru IPS SMPN 2 Larantuka.

Dibuka oleh Rosalia Pung. A.Md, Kabid GTK mewakili Kepala dinas PKO Kabupaten Flotim.

Flotim mendapatkan jatah 4 batch dalam tahap 1 yakni batch 1 dan 2 untuk guru SD, batch 3 guru SMP dan batch 4 guru SMA/SMK.

Sementara untuk Kabupaten Lembata, fasilitatornya juga guru guru dari Flores Timur yang tergabung dalam PGRI Flotim. Irvan Pureklolon, S.Pd dan Oscar Paun, ST, Gr bersama guru TIK dan Kepala SMP di Kabupaten Lembata  7-11 Juli 2025.


Baca Juga : 

Untuk Investasi Pendidikan Jangka Panjang, Dinas Pendidikan Lembata Fasilitasi Program Koding dan Kecerdasan AI Bagi Guru

 


Pembelajaran Coding dan AI di Sekolah, Harus Pertimbangkan Kemampuan Guru dan siswa

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang menggodok pengembangan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI). Meski rencana kebijakan tersebut dianggap baik di era saat ini, tetapi pemerintah perlu memerhatikan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) guru, kemampuan siswa, dan sarana dan prasarana penunjang di sekolah.

Pengamat Pendidikan yang juga Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram (FKIP Ummat), Dr. Muhammad Nizaar, M.Pd.Si., dilansir SuaraNTB  mengatakan, langkah pemerintah ingin memasukkan pembelajaran AI dan coding di kurikulum sekolah adalah upaya yang sangat baik.

Menurutnya, tidak bisa dipungkiri para generasi baru harus benar-benar diperkenalkan dengan teknologi kekinian. Namun demikian, ada catatan penting yang perlu diperhatikan.

“Kondisi SDM guru, kemampuan siswa, dan sarana dan prasarana sekolah perlu menjadi pertimbangan untuk segera disesuaikan dengan kebutuhan,” ujar Nizaar.

Pemerintah memang akan memprioritaskan pada sekolah-sekolah tertentu saja untuk menerapkan kurikulum AI dan coding. Namun menurut Nizaar, jangan sampai hal ini akan membuat jurang pemisah antar sekolah-sekolah berkurikulum AI dan coding dengan sekolah-sekolah yang non-kurikulum AI dan coding.

“Stigma sekolah berkelas (kurikulum AI dan coding) boleh jadi akan muncul dalam benak masyarakat. Kekhawatiran terjadi seperti pada kisaran tahun 2008-an muncul Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang menganut kurikulum internasional dan berbeda dengan sekolah non-SBI. Disparitas muncul saat itu sehingga banyak kritikan dari berbagai kalangan,” jelas Nizaar.

Pengalaman tersebut perlu menjadi pelajaran bagi pemerintah. Oleh karena itu pemerintah perlu mengurus dengan seimbang dua sisi kondisi pendidikan saat ini.

“Sisi sekolah yang sudah mapan dan berkualitas diberikan peluang untuk mencapai target-target tertinggi, sedangkan sekolah yang belum mapan dan masih lemah dilengkapi kebutuhan sarpras, SDM, serta pemerataan kebutuhan-kebutuhan Pendidikan di dalamnya,” saran Nizaar.

Meski demikian, ia mengapresiasi rencana tersebut. Menurutnya, jika tidak dimasukkan dalam sistem pendidikan, maka para siswa Indonesia akan tertinggal jauh dari negara-negara maju saat ini. Jika tidak diajarkan di sekolah dengan sistem didaktik yang terstruktur, maka para generasi kategori gen Z dan gen alpha saat ini akan belajar AI dan coding pada tempat lain. Boleh jadi sistemnya tidak terstruktur dan bahkan mungkin lepas kontrol.

“Fungsi Pendidikan salah satunya sebagai controlling (pengontrol) terhadap dampak-dampak buruk teknologi saat ini. Otomatis AI dan coding yang diajarkan di sekolah bersifat edukatif dan positif. Jika tidak belajar di sekolah maka dihawatirkan mereka akan memperoleh hal-hal negatif dari ilmu AI dan coding,” pungkas Nizaar.

Sebagai bagian dari program Quick Win pemerintah, rencana ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam waktu dekat. Digitalisasi pendidikan tidak hanya dapat meningkatkan kualitas siswa, tapi juga membantu guru dalam menyampaikan materi menjadi lebih efisien. +++sandro.wangak/abdul.noer

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *