Sultan Buton ke Lembata, Suluh Sejarah Kolosaw Sebagai Jejak Leluhur Bau Dai dan Nama Kota Bau Bau

Sejak itu berita dan cerita terus berkembang, tersimpan abadi dalam ingatan kolektif komune adat Suku Eba’rian, Leu Leunadal di pulau...

LEWOLEBA – KEDATANGAN Sultan Buton ke-41, Paduka Yang Mulia (PYM), La Ode Muhamad Sjamsul Qamar dan Permaisuri  ke Kabupaten Lembata bukan sekedar perjalanan biasa.

Kehadiran rombongan Kesultanan Buton ini menjadi suluh sejarah Kolosaw (Tikar Ajaib darin daun lontar) dan menegaskan sejarah perjalanan nenek moyang Bau Dai sekitar tahun 1300.

Rasa gembira dan syukur, seperti anugerah dan berkat bagi masyarakat Lembata khusus Desa Loyobohor dan suku Eba’rian.

Pasalnya, kehadiran rombongan Buton dalam perjalanan expedisi maritim ke gugusan kepuluan Solor,  Provinsi Nusa Tenggara Timur mempertegas hubungan kekerabatan antara Sultan Buton dan keturunan Eba’rian Leunadal di Loyobohor.

Darmansyah Umar Leunadal salah satu keturunan Bau Dai mengaku bahagia. Berdasarkan silsilah keturunan Darmansyah Leunadal adalah cucu dari Laku Dai, kakak kandung Bau Dai.

“Moyang kami ada 8 bersaudara 7 laki 1 perempuan dan yang ke Bau Bau Buton keraton itu namanya Moyang Bau Dai Dan Saya Atas Nama Darmansah Leunadal dsri Moyang Laku Dai. Laki Dai dan Bau Dai adalah saudara kandung satu rahim. Kami bahagia karena Sultan Buton datang membawa terang tentang sejarah kekerabatan kami dengan Kesultanan Buton. Kami menerima dengan tangan terbuka. Ada rasa haru dan bahagia”, ungkap Darmansyah.

Senada dengan Darmansyah, Budayawan Buton, La Yusrie dalam catatannya menegaskan AGENDA hari pertama Muhibah Budaya Lembaga Adat Kesultanan Buton di Lembata, PYM Sultan Buton ke-41 & Permaisuri beserta rombongan mengunjungi Suku Eba’rian, Leu Leunadal di Desa Loyobohor, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

“Suku Eba’rian, Leu Leunadal menyimpan kisah Perkerabatan dengan Kesultanan Buton melalui tokoh yang dinamai mereka Bau Dai, ketika banjir besar di Wairiang—ia diceritakan pergi berlayar ke kesultanan Buton dengan hanya menumpang ditikar anyam daun lontar—orang lokal di sana menyebutnya “daun koli” yang dinamai “Kolosaw”, tulis La Yusrie.

Sejak itu berita dan cerita terus berkembang, tersimpan abadi dalam ingatan kolektif komune adat Suku Eba’rian, Leu Leunadal di pulau Lembata. Sudah sejak dahulu leluhur mereka telah menyimpan pesan ke anak cucu bahwa kelak saudara sedarahmu dari kesultanan Buton akan datang mencarimu—menemui.

“Inilah barangkali rangkaian dari kisah pesan warisan leluhur itu, kami sebagai anak cucu datang tunaikan, jauh-jauh dari Kesultanan Buton ke pulau Lembata, mengeratkan kembali persaudaraan sebagaimana pesan warisan para leluhur dahulu”, tutur La Yusrie.



Thomas Eba”rian, salah satu Putra Loyobohor pun mengucapkan selamat datang untuk yang mulia Sultan Buton.

“Selamat datang saudara semua ke suku eba’rian leunadal. Nenek moyang suku eba’rian leunadal mewariskan cerita hingga ke anak cucu bahwa ada satu moyang yang saat bencana tenggelam nya kerajaan kampung eba’rian leunadal weiriang tak sempat lari ke darat, dialah Bau Dai yang memiliki ilmu tinggi naik selembar tikar dari daun lontar mengarungi lautan hingga terdampar di pulau Buton. Namanya diabadikan hingga kini menjadi kota Baubau di pulau Buton. Warisan cerita lain adalah bukan saja Bau Dai terdampar tapi menjadi pemimpin besar di pulau Buton”, tulis Thomas Eba’rian. 

Diberitakan Sultan Buton ke-41, Paduka Yang Mulia (PYM), La Ode Muhamad Sjamsul Qamar dan Permaisuri  ke Kabupaten Lembata.

Jubir Kesultanan Buton, Armin kepada media ini di Terminal penumpang pelabuhan Murhum bau-bau, Selasa, 8 Juli 2025 mengatakan Ada sebanyak 104 rombongan dari Kesultanan Buton yang akan mengunjungi Lembata.

“Kami rombongan ke Lembata, NTT tujuannya untuk ekpedisi maritim dua dari Kesultanan Buton, yang mana sebelumnya sudah pernah melakukan Ekspedisi Maritim satu ke Ambon, Maluku,” Kata Armin

Ia juga menyampaikan ucapan terimaksih kepada Presiden RI, Prabowo Subianto dan Kementrian Perhubungan karena sudah melakukan program pemotongan tiket 50℅.

“Kami dari Kesultanan Buton mengucapkan terimakasih kepada bapak Presiden Prabowo dan Kementrian Perhubungan yang sudah memberikan program pemotongan harga tiket 50℅ , sehingga kami sebanyak 104 orang bisa berangkat dan lebih irit pastinya,” Ujar Armin.



Informasi yang dihimpun media ini dari Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir La Ode Puncak kunjungan akan berlangsung pada Minggu, 13 Juli 2025, ketika Sultan Buton dan rombongan secara resmi dilepas oleh Pemerintah Kabupaten Lembata bersama Paguyuban IKB menuju pelabuhan laut Lewoleba.

Kehadiran Sultan Buton di Lembata diharapkan mampu memperkuat jalinan silaturahmi, memperkaya pertukaran budaya, sekaligus membuka peluang kerja sama antarwilayah, khususnya dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Lawatan ini menjadi pengingat kuat bahwa ikatan sejarah dan budaya yang telah tertanam puluhan tahun silam masih hidup dan berkembang, menjadi warisan yang menyatukan di tengah keberagaman. +++sandro.wangak/rahman.k

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *