Prinsip Orang Kampung, Sekolah Agar Tak Ditipu

suluhnusa.com_“Anak saya sekolah supaya jangan di tipu. Mendapat pekerjaan bagi saya diurutan sekian, tetapi yang paling penting adalah, anak saya sekolah supaya kemudian hari jangan ditipu”. Ungkapan polos ini keluar dari bibir Dalu Belaja salah satu orang tua wali murid SMP kelas tiga pada SMP Negeri 2 Tanjung Bunga Desa Latonliwo Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur, Awal Juni 2015

Dalu Belaja warga Kolo Tobo Desa Latonliwo II mengungkapkan itu, saat ditemui pada hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP di SMP Negeri 2 Tanjung Bunga. Ia datang dari kampung mengantarkan bekal untuk anaknya yang tinggal kos diareal dekat sekolah.

“Sejak anak saya sekolah dan memilih tinggal di kos karena jarak rumah dengan sekolah cukup jauh, dua hari dalam setiap minggu, saya mengantarkan bekal untuknya. Biasa bekal yang diantar berupa beras padi hasil panen di ladang, pisang, ubi, dan juga ikan kering. Kehidupan kami memang masih sulit dan terisolir. Kendaraan tidak bisa masuk ke kampung kami, karena tidak ada jalan. Roda dua tidak mungkin, apalagi roda empat. Kami hanya mengandalkan kaki sebagai alat transportasi kami. Dalam keterbatasan, semangat kami untuk menyekolahkan anak tetap berkobar – kobar. Setelah tamat di sekolah ini saya akan menyekolahkan anak saya di SMA Negeri 1 Tanjung Bunga” , ungkap Dalu.

Siswa SMP Negeri 2 Tanjung Bunga (foto: maksimasan)
Siswa SMP Negeri 2 Tanjung Bunga (foto: maksimasan)

SMP Negeri 2 Tanjung Bunga di Koteng Walang merupakan salah satu SMP yang terluar, dan terisolir di Kabupaten Flores Timur. Satu – satu SMP di wilayah Utara Tanjung Bunga. Untuk menjangkau Sekolah ini, hanya bisa ditempuh melalui jalur transportasi laut dengan menggunakan kapal motor yang berukuran kecil. Perjalanan dari Larantuka menuju ke Koteng Walang kurang lebih 5 jam.

Kepala SMP Negeri 2 Tanjung Bunga, Ignasius Bera Koten, mengaku sejak adanya SMP di wilayah Koteng Walang tahun 2002, banyak orang tua mulai sadar akan pentingnya menyekolahkan anak. Banyak anak – anak yang awalnya hanya tamat Sekolah Dasar (SD) lalu berhenti dan memilih mengikuti pekerjaan orang tua sebagai nelayan, petani, dan merantau, saat ini mereka sudah termotivasi untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang SMP. Hampir setiap tahun, mencapai angka diatas lima puluan siswa yang masuk dan mendaftar untuk sekolah di SMP ini. Saat ini, di SMP Negeri 2 Tanjung Bunga jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 151 orang, dengan peserta UN tahun ini sebanyak 50 siswa. Rata- rata setelah tamat di SMP ini mereka melanjutkan sekolah ke SMA/ SMK, kata Ignas.

Lanjutnya, kesulitan yang paling dirasakan di wilayah ini adalah dari segi transportasi dan komunikasi. Untuk akses ke kota dalam urusan kedinasan, hanya melalui transportasi laut. Misalnya hari ini pergi ke Larantuka maka untuk pulangnya tidak bisa hari itu, harus menunggu kapal motor pada besok harinya. Namun saat musim barat antara bulan Desember hingga Februari kapal motor tidak berani jalan.

Selain transportasi, kami juga mengalami kesulitan komunikasi. kadang banyak pertemuan atau urusan dinas terlewatkan karena informasinya terlambat. Wilayah Koteng walang dan sekitarnya tidak mendapatkan sinyal telkomsel. Sehingga untuk komunikasi sangat sulit.

Apapun kesulitannya, sebagai abdi negara yang ditugaskan oleh negara tetap menjalankan tugas dengan penuh ketulusan demi mencerdasakan anak- anak bangsa menyiapkan masa depan mereka, ungkapnya. (Maksimus Masan Kian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *