suluhnusa.NET_Salah satu kantong pertanian Kota Kupang yang dikenal sejak dulu adalah Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang.
Menyebut Kelurahan Bello banyak warga kota ini tentu tidak tahu tetapi justru memiliki andil penting dalam menghidupi roda perekonomian di Kota Kupang dengan hasil pertaniannya yang di jual warga. Letak Kelurahan Bello dengan ibu Kota Propinsi NTT maupun Ibu Kota Kupang hanya sekitar 5–10 menit bila ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat. Sebagian besar penduduk Kelurahan Bello menggantungkan hidup dengan bercocok tanam.
Hal inilah yang membuktikan kalau masyarakat Bello juga memiliki kontribusi besar dalam mendukung kehidupan ekonomi pasar di Kota Kupang. Mulai dari sayur-sayuran hingga buah-buhan banyak didatangkan dari Bello.
“Sejak dulu sampai sekarang ini daerah kami ini dikenal sebagai sumber sayur mayur maupun buah-buahan” demikian Yusup Tuan Ketua RT 06 Bello di kediamannya akhir pekan lalu.
Dijelaskannya, sejumlah produk pertanian warga berhasil diusahakan karena didukung dengan dua sumber air yang merupakan sumber kehidupan warga di wilayah itu. Sayangnya sejak beberapa tahun belakangan ini julukan kantong pertanian seolah sirnah sudah, setelah dulu sumber air yang menjadi andalan selama ini dari tahun ke tahun mulai berkurang debitnya.
Hal ini menyebabkan jumlah areal usaha pertanian warga di wilayah itu mulai berkurang. “Memang selama ini kami tanam berbagai macam sayur, tetapi karena debit air berkurang maka luas areal terpaksa kami kurangi, untuk disesuaikan dengan debit air, bahkan ada diantara warga saya beralih profesi dari sebelumnya menanam sekarang membeli dan menjualnya kembali,” jelas Yusup.
Hal yang sama di ungkapkan Yoel Obet Takeneng salah satu petani di wilayah itu yang mengaku pada musim hujan sawah miliknya seluar 7000 meter persegi bisa ditanami padi dengan memanfaatkan air hujan, tetapi musim kering ia hanya mengolah sekitar 2000 meter persegi dengan tanaman sayur.
Ia juga mengaku untuk menjaga kelestarian sumber air beberapa tahun ini warga di lingkungannya melakukan penanaman kembali dengan berbagai jenis tanaman umur panjang, tetapi tentunya membutuhkan waktu yang panjang.
“Setiap tahun semua sawah yang ada saya tanami padi, tapi pada musin kemarau seperti sekarang ini hanya sekitar 2000 meter persegi yang diolah disesuaikan dengan kondisi air yang ada,” terang Takeneng.
Untuk mengatasi hal tersebut baik Tuan maupun Takeneng mengaku telah mengajukan permohonan ke Kantor P2AT NTT untuk membantu warga mengadakan sebuah sumur bor guna memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih pada musim kemarau.
Mengingat saat ini debit air dari tahun ke tahun mulai berkurang. “Ya tidak ada cara lain selain pengadaan sumur bos untuk dapat menjawab kebutuhan areal pertanian yang ada, dan kini kami sedang mengajukan permohonan ke Kantor P2AT NTT,” kata Tuan. (Goris Takene)
