hari ini tak lagi biasa bagimu, sahabat
cahaya malam kini berkejaran menghadapmu
malam-malam tak lagi buram layu
tak ada lagi curhat-curhat kerupuk,
mudah patah
rindumu sudah tiba,
penuh
cintamu genap padu,
utuh
selepas kelana panjang
mengibas kembara igau siang
malammu bukan lagi pundak Sisiphus di lancip Olympus
bintang yang kau puja telah di dekatmu
cahaya lembut menghangatkanmu
terangnya menyemarakan wajahmu
sahabat,
kemarin adalah sejarah
kaki-kaki kecil mengejar mimpi
memcaca detail aturan
membantah perintah
suatu saat di sekolah lama
lantas langkah atur nasib
tuntaskan muda
di panas bludak tanah jawa
ah, kembali pula kita di sini
untuk merapikan lengan
saling angkat, saling dorong
bukan seperti tarik tambang
hingga kami hadir di sini
dengan mekar senyum lebar
mendukung dan mendoakanmu, sahabat yang berbahagia
ketika gemerincing dan semerbak musik menghentak jiwa
ada kebanggan kami hadir di taman bunga kabahagiaanmu
berbondong menghantarmu di boulevard harapan;
menjadi saksi atas kasih putihmu kepada mempelaimu
kubayangkan
cinta adalah kejernian parit kecil yang sumbernya tak surut
untuk dahaga kelana rusa kecil di lereng Golo Lusang
cinta itu sudah menyatukan kalian,
basuhlah!
seduhlah!
dari sumber itu
biar lumpuh keras dunia
selamat berbahagia, sahabat
kecuplah kening istrimu!
eratlah pegang jemarinya!
sebab sayap malaikat sedang menggendong kalian
kepada rumah tangga kecil, baru dan bahagia.
Ruteng, 13 Oktober 2015
Alfred Tuname