Hanya Petang

“setengah heningku meramu rindu
lalu setengahnya, kebas oleh luka”

di terik matahari sepenggal jalan
cinta, kadang membuatku tinggal
atau membuatku hanyut
seperti tangkai daun dalam alunan sungai

lunglai, lalu mengerjap sekejap
arah angin yang tak menentu
kadang timbul kadang tenggelam
lebur tepat pada petang menandai bimbang

siang atau malam kah kata itu menuju ?
bias matahari tertahan kerlip gemintang
“ranting ranting itu tak lebih kuat darimu”
bisik itu di telingaku

tapi aku tetap ranting, dengan dedaunan
melayang jatuh ditampar angin

maka hanya petang… hanya petang,
yang bertahan pada titik pejam,
menggumpalkan hasrat, angan dan kenangan

widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *