Tara

Sehari sebelum pesawat Garuda Boeing 737 menerbangkannya kembali ke Jakarta, ia menunggu laki-laki itu dengan cemas di lobby hotel tempatnya menginap. Ada yang ingin ia sampaikan padanya. Ketika akhirnya Korrie tiba, debar di dada Tara berpacu kian cepat. Duh, pesona ragawi yang ada padanya sungguh membuat ia tak kuasa untuk tidak mengakui bahwa pria yang tengah berjalan di hadapannya itu benar-benar memesona. Tapi Tara harus bisa mengalahkan gelora rasa yang memenuhi hampir seluruh jaringan otot di tubuhnya.

“Aku tak bisa menemui keluargamu hari ini , Korrie. Aku harus segera pulang. Ada berita penting yang akan kusampaikan padamu.”

Korrie mengernyitkan dahi, mata elangnya yang tajam menyipit. “Berita apa?”

“Sammy…”

“Kenapa dengan dia? Menghamili perempuan ingusan lagi?” suara Korrie meninggi.

Tara terdiam, ia menyesal telah menceritakan perihal suaminya pada laki-laki yang ada di hapannya. “Tidak. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu, Sammy terserang kanker prostat. Semalam Dee menangis mengabariku. Ayahnya minta pulang ke rumah. Dee memohon aku menerimanya. Haruskah aku menolak kehadirannya?”

“Dia telah menyakitimu berkali-kali.”

“Tapi dia sekarat, Korrie.”

Korrie membisu. Ada kilatan muram membias di wajahnya. “Pulanglah, urus dia dengan baik. Nanti aku akan menyusulmu ke Jakarta.” Tara menarik nafas lega.

Sebulan setelah Sammy meninggalkan dunia yang fana ini, Tara mengirim email pada Niken; dear Niken, aku telah melupakan semua yang dilakukan Sammy padaku. Dulu memang pernah kukatakan hidupku bersamanya bagai Firdaus, perempuan yang berada di titik nolnya Nawal El Sadawi. Tapi seiring berjalannya waktu, semua itu sudah berlalu. Aku bahagia telah merawat mantan suamiku dengan baik. Saat ini aku merasakan kebahagiaan yang lebih kuat lagi dengan kehadiran sosok yang kurasa benar-benar menyintaiku. Niken, kau jangan mengatakan aku tergila-gila pada cinta.

Tapi itulah kenyataannya, aku akan mengurus kepindahanku ke Kalimantan Tengah untuk lebih dekat dengannya, ya lebih dekat dengannya…

Oleh : Fanny J.Poyk

Depok, April 2012

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *