“Dia sudah hamil, dan aku harus bertanggungjawab.”
“Bertanggungjawab? Lalu apa fungsiku di matamu selama ini?”
“Kau tetap isteriku.”
“Aku tak mau dimadu!”
“Aku harus bagaimana dong? Dia masih dibawa umur. Jika tidak kunikahi, orangtuanya akan melaporkanku ke polisi. Aku akan kena tuduhan pelecehan seksual anak di bawah umur. Bagaimana dengan jabatanku? Kau mau punya suami mendekam di penjara?”
“Itu urusanmu, kau yang mencari masalah dan kau yang menerima akibatnya. Keputusanku sudah bulat, aku tidak mau dimadu.”
“Tara, jika demikian kau ingin cerai?”
“Baik.”
“Lalu bagaimana dengan anak-anak?”
“Rene dan Dee bisa mengerti, mereka sudah mulai remaja.”
“Kau tidak menyesal?”
“Kita cerai, esok akan kuurus semuanya. Kau tak perlu repot!”
Itu perdebatan terakhirnya dengan Sammy. Tak ada lagi kata maaf untuk kali ini. Puluhan kali ia memaafkannya, puluhan kali pula ia menyakitinya, itu sudah lebih dari cukup. Aku sudah letih, batin Tara.
Melalui kaca jendela taksi, Tara mengilas balik semuanya. Sammy! Ya, suaminya yang tampan dengan pesona ragawi nan memikat, dengan jabatan Direktur Umum di sebuah perusahaan swasta nasional, dengan kecermelangan otak yang bersinar bak berlian, semua itu adalah kemasan yang seratus persen sempurna untuk performance awal dari sosok seorang lelaki. Kebetulan lelaki itu suaminya.
Dan Tara harus berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan perasaannya tatkala berpuluh perempuan kemudian bertekuk lutut di tangan suaminya.
“Seharusnya kau tidak menikahiku dulu,” ujarnya tatkala seorang perempuan menerornya dan meminta suaminya bertanggungjawab karena telah membuatnya hamil.
“Sudah kulakukan tes genetik, anak itu bukan anakku. Dia perempuan yang kukenal di sebuah kelab malam, jadi kau pikir saja, berapa lelaki yang telah menebarkan sperma ke rahimnya?” jawab Sammy enteng.
Tara mengerjapkan mata. Kabut tipis di pelupuk mata kian menebal.
“Sudahkah kau pikir masak-masak pilihanmu? Dia tampan dan fisiknya nyaris sempurna, kau, meski otakmu cemerlang dan karirmu bagus, kau tidak sesempurna perempuan yang diinginkannya, aku tahu itu,” ujar Niken sahabat sekostnya puluhan tahun yang silam. Mereka mahasiswa daerah yang sama-sama bekerja sambil kuliah di kota Yogyakarta. Tara asal NTT, sedang Niken Surabaya.
Tara menundukkan kepala. Lirih ia berkata, “Aku melihat Sammy begitu menarik, aku menantinya berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mungkin ini boleh dikatakan aku jatuh cinta pada pandangan pertama, ini kurasakan setiap saat dan setiap waktu, aku jadi tersiksa karenanya.”
Niken menggeleng-gelengkan kepala. “Suatu saat, waktu akan berbicara Tara. Kau tidak seseksi Pamela Anderson, kau tidak setinggi Nicole Kidman, kau tidak secantik Tamara Blezinsky, yang kau punya hanya otak yang cemerlang. Aku pernah dengar, Sammy bilang, selain otak ia punya kriteria seperti yang sudah kusebutkan tadi. Kau yakin bisa bersaing dengan kriterianya itu?”
Tara mengangguk. Ragu.
Kabut yang menebal itu akhirnya luruh menjadi butiran-butiran bening yang mengambang di kedua pipinya. Sepuluh tahun mengarungi bahtera rumahtangga, hanya pelecehan, penindasan, dan penghinaan yang ia dapati. Niken benar, namun Tara pantang untuk menyesalinya. Tak ada istilah nasi telah menjadi bubur, ia harus mempertahankan bubur itu agar tidak basi. Namun kuatkah dirinya?
“Aku telah kalah Niken,” begitu bunyi SMS yang kesekian kalinya pada Niken. “Aku telah melepaskannya. Camar nan elok itu kubiarkan pergi. Niken, secara etis, cinta identik dengan kebaikan. Cinta diperlihatkan sebagai esensi dari kebaikan, ia tidak terpisahkan dari kebenaran dan keindahan. Ketika suamiku kurelakan pergi dengan perempuan itu, aku merasa menang, aku menang karena telah mengalahkan egoku, dan aku tidak tersiksa lagi dengan kenyataan yang ada. Cinta Agapeku telah pergi, cinta yang bagaikan matahari yang mencurahkan sinarnya pada para pendosa, cinta tanpa diskriminasi dan pertimbangan rasional, sudah berlalu.” Tara menghapus air matanya.
“Kita sudah tiba di terminal dua, Bu.” Suara sopir taksi mengagetkan. Perempuan matang berusia tiga puluh dua tahun dengan gelar doktor di belakang namanya dan memiliki posisi sebagai Kasubdit di sebuah instansi pendidikan negeri ini, memasang kacamata hitamnya. Tubuh mungilnya berbalut blus batik Cirebonan dan celana panjang hitam lengkap sepatu yang juga berwarna hitam dengan tinggi lima senti, tampak kecil di antara ratusan penumpang yang ada di ruang keberangkatan. Tara menarik kopernya dengan langkah tenang. Di pintu Bandara Tjilik Riwut, sosok tampan mirip Sammy telah menunggunya.
“Hari ini, SMA mana yang akan kau datangi?” Tanya Korrie sambil mengambil koper yang ada di tangan kanan Tara.
“Aku harus ke Dinas Provinsi dulu memberikan kuisioner ini, setelah itu ke Dinas Kabupaten Kota untuk hal yang sama. Esoknya, baru ke kedua SMA yang ada di kota ini. Mustinya pekerjaan ini dilakukan anak buahku. Tapi…”
“Kau hendak menemuiku, kan?” goda Korrie dengan sudut mata menyipit.
“Bukan itu, yang ikut monitoring evaluasi Ujian Nasional ini lebih sedikit dari tahun lalu. Jadi, aku harus terjun juga ke lapangan.” Tara berusaha menutup pipinya yang bersemu merah. Aneh, pikirnya. Aku mulai tua, sudah pernah menikah. Mengapa rasa ini kembali muncul? Dia meroyak ke sanubari bak gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
“Oh, begitu. Ya sudah, nanti kuajak kau makan siang di sebuah restoran ikan bakar lengkap dengan sayur santan berisi talas dan rebung makanan khas suku Dayak.”
Tara diam. Dan Korrie tak pernah melepaskannya pergi sendirian ke berbagai sekolah saat memantau UN. Laki-laki itu terlihat gesit, turut memantau dan membagikan kuisioner pada siswa, guru dan kepala sekolah. Kegiatan UN yang dijaga ketat aparat kemanan, juga diawasi guru-guru silang yang datang dari sekolah berbeda, terasa begitu singkat dan menyenangkan.
“Kasihan siswa-siswa itu, mereka dijaga seperti penjahat kelas kakap yang akan tertangkap basah bila menyontek. Kau tahu, hampir tiga tahun mereka berjuang untuk memeroleh nilai yang bagus, hasil selama tiga tahun itu harus ditebus dengan ujian yang hanya berlangsung selama lima hari. Apakah kau tidak merasakan bagaimana lelahnya mereka, Tara?”
Tara membisu beberapa saat. “Itu harus mereka lakukan Korrie, mereka harus berkompetisi, sebab globalisasi dengan kemajuan teknologinya pun begitu. Siapa yang lemah, bodoh dan tidak mau berusaha sekuat tenaga, mereka akan jadi orang-orang yang kalah, mereka akan terpuruk.”
“Hmm…itu pendapat yang sangat subyektif. Aku tidak sepaham. Ada sisi lain yang segalanya tidak harus pasti. Ada sisi humaniora yang akan membuat mereka menjadi sosok yang lebih bijaksana. Ada sisi budaya, sastra dan seni yang akan menggiring mereka menjadi manusia yang lebih berempati pada bumi, pada kehidupan sesama mereka dan itu membuat mereka menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Tara, aku tahu kau birokrat, belajarlah sedikit untuk luwes. Bukankah kau juga menyukai sastra?”
Tara membisu.
***