96 Mahasiswa Ditarik dari Lima Desa di Alor, Wagub NTT Titip Pesan: Jangan Rusak Alam dan Citra Daerah

penetapan Alor sebagai lokasi KKN merupakan sebuah kehormatan sekaligus bentuk kepercayaan terhadap daerah.

KALABAHI — Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik Tahun 2026 di Kabupaten Alor resmi berakhir. Penutupan ditandai dengan penarikan 96 mahasiswa dari lima desa sasaran, Senin, 31 Agustus 2026.

Program yang berlangsung sejak 9 Juli hingga 31 Agustus 2026 tersebut merupakan kolaborasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV Nusa Tenggara Timur, perguruan tinggi, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Alor, pemerintah desa, masyarakat, serta berbagai mitra pembangunan.

Secara keseluruhan, Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik Tahun 2026 melibatkan 41 perguruan tinggi, terdiri dari tiga perguruan tinggi negeri dan 38 perguruan tinggi swasta.

Sebanyak 2.319 mahasiswa dan sekitar 100 DPL disebarkan di desa-desa sasaran pada 13 kabupaten di NTT. Khusus Kabupaten Alor, kegiatan melibatkan 96 mahasiswa dan 10 DPL yang ditempatkan di lima desa.

Dalam laporan yang dibacakan Solaiman Mario Manafe, SE., MM., mewakili Koordinator LLDIKTI Wilayah XV, ditegaskan bahwa KKN Tematik bukan sekadar kegiatan akademik dengan menempatkan mahasiswa di desa.

Program tersebut merupakan bentuk kolaborasi untuk menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat dengan mengedepankan potensi dan kebutuhan lokal.

Tahun ini, gerakan tersebut dikembangkan melalui semangat NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif, sebagai pengembangan dari gerakan sebelumnya yang berfokus pada NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan.

Program diarahkan pada penguatan kesehatan masyarakat, perbaikan gizi, pencegahan stunting, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan UMKM, pertanian, peternakan, pendidikan, sosial budaya, lingkungan, teknologi dan digitalisasi.

Mahasiswa tidak hanya membawa pengetahuan dari perguruan tinggi ke masyarakat, tetapi juga belajar bersama masyarakat melalui proses identifikasi persoalan, penggalian potensi lokal, hingga perumusan solusi sesuai karakteristik masing-masing desa.

Wakil Gubernur NTT Johanis Asadoma dalam arahannya mengingatkan seluruh masyarakat, terutama generasi muda, agar bersama-sama menjaga Kabupaten Alor sebagai daerah yang aman, nyaman, ramah, sekaligus memiliki kekayaan alam dan potensi pariwisata yang besar.

Menurutnya, mahasiswa yang selama dua bulan berada di tengah masyarakat memiliki peran strategis untuk ikut membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga lingkungan dan menghormati masyarakat setempat.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada perilaku yang dapat mengganggu keamanan maupun merusak citra Alor.

Termasuk tindakan membuat keributan atau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan hingga menimbulkan gangguan di tengah masyarakat.

Pesan tersebut dinilai penting karena perkembangan pariwisata sangat bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, keramahan dan kenyamanan bagi para wisatawan.

“Kalau alam, lingkungan, budaya, keamanan dan keramahan masyarakat terus dijaga, semakin banyak wisatawan yang datang dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat,” demikian inti pesan Wakil Gubernur.

Ia mendorong masyarakat Alor agar tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata, tetapi mempersiapkan diri dan meningkatkan kapasitas agar potensi daerah dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Selain pariwisata, Johanis juga mendorong pengembangan potensi kelautan, perikanan, pertanian dan sektor ekonomi lainnya.

Menurutnya, meningkatnya aktivitas ekonomi akan berdampak terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang kemudian memperbesar kemampuan pemerintah membiayai pembangunan.

Ia mencontohkan Kabupaten Badung di Bali yang memiliki PAD besar karena ditopang aktivitas ekonomi, terutama sektor pariwisata. Ia juga menyebut Kabupaten Manggarai Barat sebagai contoh perkembangan pariwisata yang telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan PAD NTT.

Karena itu, seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat dan generasi muda diminta mengambil bagian dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi daerah secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN juga diharapkan tidak hanya menyelesaikan tugas akademik, tetapi ikut menanamkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan, membangun perilaku hidup yang baik, meningkatkan kapasitas masyarakat dan mengembangkan potensi lokal.



Sementara itu, Sekda Alor Melkisedek Bely yang mewakili Bupati Alor menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah XV dan Pemerintah Provinsi NTT yang telah memilih Kabupaten Alor sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak.

Menurut Sekda, penetapan Alor sebagai lokasi KKN merupakan sebuah kehormatan sekaligus bentuk kepercayaan terhadap daerah.

Program tersebut juga dinilai relevan dengan kondisi pembangunan Alor yang masih menghadapi persoalan kemiskinan, kemiskinan ekstrem dan stunting.

Sekda menyebut angka kemiskinan di Kabupaten Alor masih berada pada kisaran 18 persen, dengan sekitar lima persen di antaranya masuk kategori kemiskinan ekstrem. Sementara persoalan stunting masih menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah.

Berbagai target penurunan kemiskinan dan stunting pun telah dimasukkan dalam RPJMD Kabupaten Alor Tahun 2025–2029.

Karena itu, kata Sekda, persoalan pembangunan tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian.

Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan.

Kehadiran mahasiswa melalui KKN Tematik, lanjutnya, memberikan nilai tambah karena mahasiswa dapat membantu pemerintah desa dan masyarakat mengidentifikasi persoalan sekaligus merancang model intervensi sesuai kebutuhan lokal.

Namun, Sekda memberikan penekanan khusus terhadap keberlanjutan program setelah mahasiswa ditarik.

Menurutnya, waktu pelaksanaan KKN sekitar dua bulan memang relatif singkat untuk mengukur seluruh dampak program. Tetapi waktu tersebut telah cukup menjadi ruang bagi mahasiswa, pemerintah desa dan masyarakat untuk merancang berbagai model kegiatan yang dapat dilanjutkan.

Karena itu, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa di lima lokasi KKN diminta mengambil peran memastikan program yang telah dirintis bersama mahasiswa tidak berhenti setelah mahasiswa kembali ke kampus.

“Penarikan mahasiswa bukan berarti berakhirnya program. Apa yang telah dirintis harus dilanjutkan oleh pemerintah desa dan masyarakat,” tegas Sekda.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para DPL yang telah mendampingi mahasiswa selama berada di lapangan serta para camat dan kepala desa yang mendukung pelaksanaan program.

Pemkab Alor berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada acara penutupan, tetapi menjadi awal kerja sama yang lebih panjang dalam mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Kepada mahasiswa yang kembali ke perguruan tinggi, Sekda berpesan agar pengalaman selama berada di Alor menjadi bagian dari perjalanan akademik sekaligus kehidupan mereka.

“Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan selama berada di Alor, jangan dibawa pulang. Tetapi kalau ada hal-hal yang baik, bawalah pulang dan ceritakanlah,” pesannya.

Mewakili Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari lima desa, Ibrahim Pandu Sula, SH., M.Hum., DPL Desa Probur Utara, menyampaikan evaluasi pelaksanaan KKN Tematik.

Ia menjelaskan kegiatan diawali dengan pembekalan mahasiswa dan DPL mengenai substansi program, target, teknis pelaksanaan dan pedoman kegiatan.

Terdapat lima fokus utama yang diterjemahkan ke dalam program sesuai kondisi masing-masing desa, yakni penanganan stunting dan perbaikan gizi, pengentasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan UMKM, edukasi pola hidup bersih dan sehat, serta pemberdayaan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan potensi lokal.

Setiap kelompok mahasiswa bersama DPL terlebih dahulu melakukan identifikasi kondisi desa dan masyarakat. Hasil identifikasi kemudian menjadi dasar penyusunan program yang dikonsultasikan dengan pemerintah desa.

Hingga akhir pelaksanaan, program yang telah disusun dan dijalankan mahasiswa telah dipresentasikan kepada pemerintah desa untuk mendapatkan masukan, kritik, saran dan persetujuan agar dapat dilanjutkan.

Sementara itu, Rektor Universitas Tribuana Kalabahi Elia Maruli menegaskan bahwa penutupan KKN Tematik bukan sekadar akhir kegiatan akademik, tetapi momentum untuk melihat kembali jejak pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.

Menurut Maruli, Program Mahasiswa Berdampak menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai peserta kegiatan akademik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Mahasiswa membawa ilmu pengetahuan sekaligus empati, kreativitas, energi dan semangat perubahan.

“Mahasiswa belajar hidup bersama masyarakat, memahami persoalan secara nyata, serta berupaya menghadirkan solusi sesuai dengan kebutuhan lokal,” ujarnya.

Ia berpesan agar mahasiswa membawa pulang pengalaman hidup, kepedulian sosial, semangat gotong royong dan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab kemanusiaan.

Menurutnya, mahasiswa mungkin telah memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi masyarakat juga telah memberikan pembelajaran berharga kepada mahasiswa tentang ketekunan, kesederhanaan, kebersamaan dan makna pengabdian.

Karena itu, penarikan mahasiswa tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya hubungan antara mahasiswa, perguruan tinggi dan masyarakat.

Program yang telah dirintis harus terus dikembangkan, pengetahuan yang telah dibagikan dimanfaatkan, dan kolaborasi yang telah dibangun diperkuat.

Disesi yang sama pula LLDIKTI Wilayah XV juga menyiapkan instrumen pengukuran untuk melihat dampak Program Mahasiswa Berdampak secara lebih terukur.

Pengukuran dilakukan dengan melihat kondisi awal, proses kegiatan, hasil yang dicapai, perubahan yang terjadi serta manfaat yang dirasakan masyarakat.

Hasil pengukuran tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan program pada masa mendatang.

Dengan demikian, keberhasilan Program Mahasiswa Berdampak tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, banyaknya kegiatan atau lamanya mahasiswa berada di desa, tetapi dari sejauh mana perubahan dan manfaat program dapat terus dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke perguruan tinggi.

Penutupan KKN Tematik Tahun 2026 di Kabupaten Alor pun diharapkan menjadi awal dari keberlanjutan berbagai program yang telah dirintis, sekaligus memperkuat sinergi perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam membangun Alor yang sehat, cerdas, kuat, produktif dan inklusif.

Disaksikan langsung awak Media ini, penutupan dihadiri Wakil Gubernur NTT Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johanis Asadoma, M.Hum., Sekretaris Daerah Kabupaten Alor Melkisedek Bely, S.Sos., M.Si., Koordinator LLDIKTI Wilayah XV, Solaiman Mario Manafe, SE., MM., Rektor Universitas Tribuana Kalabahi Elia Maruli, SE., MM., pimpinan perguruan tinggi, para Dosen Pembimbing/Pendamping Lapangan (DPL), pimpinan OPD, camat, kepala desa, Pimpinan Cabang Bank NTT Kalabahi, serta para mahasiswa peserta KKN Tematik.+++


j.k


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *