Ditolak Ngekost di Bali, Herlin : “Saya Tetap Bangga Menjadi Orang Sumba”

“Kami bahkan belum sempat menjadi tetangga, tetapi kami sudah lebih dulu menjadi ‘orang Sumba’ di mata mereka,” tulisnya

BALI – Pengalaman seorang pasangan asal Sumba yang mengaku ditolak menyewa kamar kos di Bali karena asal daerahnya menjadi sorotan di media sosial.

Pengalaman tersebut dibagikan oleh Herlin Day Mapar melalui sebuah unggahan di media sosial yang menceritakan pengalaman dirinya dan suaminya saat mencari tempat tinggal di Bali.

Dalam unggahannya, Herlin mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya seorang temannya yang merupakan orang Jawa mengabarkan adanya kamar kos kosong di tempat tinggalnya. Temannya menawarkan kos tersebut karena mengetahui Herlin dan suaminya sedang mencari tempat tinggal dengan beberapa ruangan.

Menurut Herlin, kos tersebut cukup sesuai dengan kebutuhan mereka karena memiliki kamar, dapur, dan kamar mandi dalam dengan harga sewa Rp1 juta per bulan. Setelah merasa cocok, Herlin bersama suaminya kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan survei.

Di lokasi, mereka bertemu dengan anak pemilik kos yang kemudian menanyakan asal daerah mereka.

Herlin menceritakan bahwa suaminya menjawab bahwa mereka berasal dari Sumba. Suaminya juga menyampaikan bahwa jika pemilik merasa keberatan atau tidak nyaman menerima mereka sebagai penghuni, mereka memahami keputusan tersebut.

“Suami saya juga menjelaskan bahwa dia seorang guru dan sedikit bercerita tentang kami,” tulis Herlin dalam unggahannya.



Teman yang menawarkan kos tersebut juga disebut ikut memberikan penjelasan kepada pemilik bahwa ia telah lama mengenal Herlin dan mengetahui bagaimana kehidupan mereka.

Saat bertemu dengan ibu pemilik kos, menurut Herlin, situasi terlihat baik-baik saja dan tidak ada penolakan secara langsung. Mereka kemudian meninggalkan lokasi.

Namun, ketika masih dalam perjalanan, Herlin mendapat pesan dari temannya bahwa suami pemilik kos tidak bersedia menerima mereka sebagai penghuni karena mereka merupakan orang Sumba.

Herlin mengaku tidak menyalahkan temannya atas kejadian tersebut. Ia bahkan meminta temannya untuk tidak meminta maaf karena menurutnya keputusan tersebut bukan kesalahan sang teman.

“Nggak apa-apa. Itu hak mereka,” tulis Herlin.

Bagi Herlin, persoalan tersebut bukan semata-mata karena mereka gagal mendapatkan kos dengan harga Rp1 juta per bulan. Ia mengatakan hal yang membuatnya sedih adalah mereka telah diberi label sebelum pemilik kos benar-benar mengenal mereka.

“Kami bahkan belum sempat menjadi tetangga, tetapi kami sudah lebih dulu menjadi ‘orang Sumba’ di mata mereka,” tulisnya.

Herlin kemudian mempertanyakan anggapan yang menggeneralisasi masyarakat berdasarkan asal daerah. Menurutnya, jika terdapat orang Sumba yang pernah melakukan tindakan buruk, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan label yang sama kepada seluruh orang Sumba.

Ia menilai orang baik dan orang buruk terdapat di setiap daerah. Karena itu, karakter seseorang tidak semestinya ditentukan berdasarkan tempat seseorang dilahirkan atau daerah asalnya.

Dalam unggahannya, Herlin juga menggambarkan kehidupan masyarakat di Sumba yang menurutnya telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai daerah.

Ia menyebut adanya warga Bali, Jawa, Batak, NTB, Kalimantan, dan daerah lainnya yang datang ke Sumba untuk bekerja, membangun usaha, mencari kehidupan, hingga menjadikan Sumba sebagai rumah.

Menurutnya, keberagaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan menjadi alasan untuk membangun prasangka.

“Perbedaan seharusnya membuat kita belajar mengenal, bukan belajar membenci,” tulisnya.



Meski merasa sedih atas pengalaman tersebut, Herlin menegaskan tidak ingin membalas perlakuan itu dengan kemarahan maupun kebencian.

Ia justru mengajak orang Sumba untuk menjawab berbagai prasangka dengan menunjukkan karakter yang baik, melalui pekerjaan, pendidikan, kebaikan, serta cara memperlakukan sesama.

“Kalau ada yang punya prasangka terhadap orang Sumba, biarlah kami jawab bukan dengan kemarahan, tetapi dengan karakter,” tulisnya.

Herlin juga menegaskan kebanggaannya sebagai orang Sumba. Menurutnya, Sumba merupakan tanah kelahiran dan bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan membuatnya merasa rendah hanya karena adanya stereotip dari sebagian orang.

Ia mengatakan akan tetap menjawab dengan kepala tegak ketika ditanya mengenai asal daerahnya.

“Saya orang Sumba,” tulis Herlin.

Menurut Herlin, kebanggaan terhadap Sumba bukan berarti merasa lebih tinggi dari kelompok lain, melainkan bentuk penghargaan terhadap tanah kelahiran, keluarga, serta sejarah hidupnya.

Ia berharap masyarakat tidak menilai seseorang hanya berdasarkan suku atau daerah asal, melainkan melihatnya sebagai individu dengan karakter dan perilakunya sendiri.

“Kita semua adalah manusia sebelum kita menjadi suku, agama, atau dari daerah mana kita berasal,” tulis Herlin dalam unggahannya.+++


ming.ming


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *