Perang Dua Desa Beda Negara Berakhir Damai

Siapa bilang TNI itu seram. Siapa pula bilang TNI itu lebih suka perang ketimbang damai. Pula siapa bilang TNI itu tidak bisa membawa damai. TNI juga manusia yang sungguh merindukan perdamaian.

Demikian kira kira kesan terhadap pasukan Satgas Pamtas Yonif 744/SYB yang ditugaskan Negara menjaga perbatasan RI-RDTL selama Sembilan bulan sejak Januari 2015 lalu.

Sebab, semua manusia adalah sama. Sebab damai adalah kebutuhan. Idaman semua warga. tak terkecuali warga di perbatasan RI-RDTL.

Buktinya, selama sembilan bulan bertugas menjaga daerah perbatasan RI-RDTL terhitung dari tanggal 1 Desember 2014 hingga jelang purna tugas 31 Agustus 2015 ini, pasukan Satgas Pamtas Yonif 744 SYB berhasil mendamaikan peseteruan antara dua desa dari dua Negara yakni RI dan RDTL yang berseteru.

Perseteruan kedua desa ini sudah berlangsung lama. Sejak 2013 lalu. beberapa pasukan penjaga perbatasan yang datang dan pergi selalu berusaha untuk mendamaikan kedua desa ini. Akan tetapi selalu menemui jalan buntuh.

Dan pasukan 744 SYB, dibawah komandan YUdhi Gumilar, perseteruan kedua desa ini berakhir damai. Mulia memang.

Kedua desa beda Negara yang berseteru dan berhasil didamaikan itu adalah warga desa beda negara yang terlibat konflik perang tahun 2013 itu adalah desa Nelu (Indonesia) dengan desa Leolbatan (Oecusse Timor Leste).

“Mereka (warga desa Nelu dan warga desa Lelobatan) telah sepakat untuk berdamai. Dan mereka mau mengadakan pesta adat di lokasi mereka berperang. Semuanya ini karena komunikasi dan koordinasi baik yang kita bangun bersama masyarakat dan pihak Unidade Policia Fathrulhamento (UPF) RDTL,”kisah Yudi kepada Citra Wirasakti dan suluhnusa.com, di Kupang, 19 September 2015.

Bukan hanya itu, pihaknya juga berhasil meminimalisir ketegangan warga desa Haumeni Ana dan warga Sape, Oecusse Timor Leste terkait wilayah unsurvei pada dua warga beda negara yang sampai saat ini belum diketahui secara jelas statusnya.

Disinggung soal jumlah personil Yudhi mengungkapkan jumlah personil seluruhnya 350 orang dan tersebar di tiga kompi yakni kompi A meliputi Wini sampai Haumeni Ana, kompi B meliputi Nilulat sampai Oepoli, Kabupaten Kupang dan Kompi C terpusat di Kabupaten Malaka.

“Masing-masing pos antara 14 sampai 15 orang. Sedangkan di pos lintas batas, 17 sampai 18 orang,”tuturnya.

Sayangnya, demikian Yudhi, salah satu daerah yang hingga saat ini belum dijangkau oleh pihaknya untuk melakukan kegiatan yaitu daerah Naktuka, Kabupaten Kupang.

Daerah Naktuka, kata Yudi, merupakan daerah Unreshop yang sampai saat ini belum ditentukan batasnya oleh pemerintah.

“Kita kesulitan lakukan kegiatan di sana (desa Naktuka). Karena batasnya belum ditentukan pemerintah. Namun patroli tetap kita lakukan sampai batas-batas yang kita ikuti,”tuturnya.

Kendala yang dialami personilnya selama sembilan bulan bertugas adalah kendala komunikasi. Jaringan telkomsel tidak dapat dijangkau beberapa pos. Sehingga mereka terpaksa membeli kartu Telemor untuk berkomunikasi dengan keluarga dan anak istri di Batalyon.

” Komunikasi dengan keluarga sangat sulit. Beberapa pos belum terjangkau jaringan Telkomsel sehingga terpaksa anggota membeli kartu Telemor untuk bisa komunikasi dengan keluarga dan anak istri di Batalyon,”pungkasnya.

Walau Letkol Inf. Yudi Gumilar, Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL bersama Pasukan Yonif 744 SYB sudah selesai melaksanakan tugas Negara menjaga perbatasan 31 Agustus 2015 lalu, tetapi mereka berhasil meninggalkan rasa kedamaian bagi kedua warga Negara yang masih memiliki hubungan darah dan kekerabatan ini. (sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *