suluhnusa.com_ Tekad dan semangat yang telah membara, harus didukung dengan sepenuh hati. Dan jangan pernah membiarkannya padam, sebelum melakukan perjuangan.
Luar biasa. Lagi-lagi kabar gembira datangnya dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Yang mana, pada Senin pekan kemarin, ditemui di ruangannya, Komandan Satuan Petugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif 742/ SWY, Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Fransiskus Arisusetio, mengatakan, pihaknya yang barusan melakukan penugasan di wilayah perbatasan RI- RDTL itu, kini baru memasuki dua (2) bulan.
Tetapi, kinerja dan tekad mereka untuk mengurangi penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa Bensin dan Solar ke RDTL, terus ditingkatkan.
Yang mana, atas kerja kerasnya Dansatgas bersama anak buahnya, kini pihak Satgas telah menahan kurang lebih sepuluh (10) ton BBM selama kurun waktu satu setengah bulan.
“Penyelundupan BBM ke RDTL itu telah menyalahi aturan. Dan itu pun bukan sumber pekerjaan yang utama bagi masyarakat di wilayah perbatasan. Apalagi itu merupakan BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi lemah. Dan bukan untuk dijual ke RDTL. Saya peringatkan anak buah agar tidak boleh main-main dalam menertibkan penyelundupan BBM ini. Sebab, negara telah mengalami banyak kerugian. Itu yang tidak diketahui masyarakat pada umumnya,” ujar suami dari istri Louisa Maria Teresa ini.
Ayah dari Georgius Bagas Koro, Katarina Andini Putri dan Geraldus Dimas, melanjutkan, sudah waktunya Pemerintah Belu bersama seluruh jajarannya bersepakat untuk segera menghentikan aksi penyelundupan BBM illegal ini ke RDTL.
Sebab, lanjutnya lagi, Indonesia khususnya masyarakat Kabupaten Belu tentunya akan mengalami kemacetan berupa tertundanya pengisian BBM ke SPBU.
“Hal semacam ini harus segera disikapi secara serius. Jika tidak, kita akan mengalami kerugian anggaran negara. Sudah saya katakan ke pihak kepolisian Polres Belu, agar lebih serius lagi dalam memberantas penyelundupan BBM ini,” ucap warga Paroki Maria Immaculata, Lombok, Nusa Tenggara Barat seraya rendah hati.
Turut Bantu Pendidikan di Perbatasan
Selain diperintahkan atasan untuk mengamankan wilayah perbatasan, Satgas Pamtas RI- RDTL dari Yonif 742/ SWY di bawah komando Letkol. Inf. Fransiskus Arisusetio bersama anak buahnya pun, tergerak hatinya untuk membantu warga perbatasan khususnya sekolah-sekolah yang berada di garis perbatasan dengan menjadi guru.
Yang mana, menurut pengakuan Dansatgas Fransiskus, demikian sapaannya, menuturkan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi sekolah-sekolah di pedalaman khususnya di Desa Fatubesi, Kabupaten Belu dan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara yang letaknya berada langsung di garis perbatasan, yang sampai saat ini masih mengalami keterbelakangan berupa kekurangan tenaga pendidik atau guru.
“Kami bukan melakukan peran ganda. Tetapi kami sebagai bagian dari NKRI merasa terpanggil dan tergugah, untuk turut serta dalam membesarkan anak-anak bangsa di wilayah Indonesia khususnya yang kami lihat dan alami sendiri,” ucapnya dengan semangat dan tetap bersahabat.
Untuk diketahui, hingga berita ini ditayangkan, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Belu Patrisius Asa belum berhasil ditemui. Mario, salah satu staffnya mengatakan, Kadis Patris sedang bertugas ke luar kota. (felixianus ali)
