Sepuluh Perjuangan Politik Perempuan Bali

suluhnusa.com_Dalam rangka memperingati hari perempuan internasional 8 maret, organisasi perempuan di Bali bersama caleg perempuan lintas partai di Bali mengadakan kampanye.

Ketua Kegiatan Gerakan Perempuan Luh Putu Anggraeni mengatakan, Tujuan kegiatan kampanye untuk mendesak agenda politik gerakan perempuan dan kelompok-kelompok marjinal. Melalui kertas posisi kepada calon legislatif dan pemerintahan baru agar memenuhi hak-hak perempuan dan kelompok marginal tanpa dikriminasi.

Selain itu gerakan perempuan ini membangun peradaban Indonesia yang bersih dari korupsi, bebas dari kemiskinan. Bebas dari segala bentuk kekerasan dan rasa takut untuk mencapai keadilan dan kedaulatan bagi rakyat miskin.

Dan itu melakukan penyadaran publik agar masyarakat memahami dan memberikan dukungan, terhadap upaya pemenuhan hak-hak perempuan. Dan Kelompok marjinal yang didesakkan melalui 10 agenda politik perempuan kepada pemerintahan baru.

“Kami ingin memperkuat konsolidasi gerakan perempuan di Indonesia untuk mengembangkan isu dan strategi yang startegis.  Dalam mendeksak dan memantau pemenuhan hak-hak perempuan dan kelompok-kelompok marjinal oleh pemerintah,”ujarnya Jum’at 7 Maret 2014 di Wantilan DPRD Bali, Renon, Denpasar.

Gerakan perempuan ini memilki 10 agenda politik diantaranya pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan seksualitas seperti HIV/AIDS, AKI, sunat perempuan, perkawinan anak. Selain itu pemenuhan hak atas pendidikan terutama pendidikan perempuan.

“Selama ini pemenuhan pendidikan bagi perempuan masih sangat minim sekali, untuk itu kami membuat kontrak dengan caleg perempuan untuk bisa memenuhi harapan tersebut,” jelasnya.

Terlebih lagi penghentian kekerasan terhadap perempuan, contohnya kekerasan seksual, kekerasan berbasis struktural, berbasis agama, dan traficking. Pengehentian pemiskinan perempuan dan kelompok marginal melalui perlindungan sosial.

Imbuhnya, perlindungan perempuan dalam situasi konflik, dan pemenuhan hak atas pekerjaan layak sangat penting bagi perempuan. “Buruh perempuan memerlukan perlindungan yang pasti supaya tidak ada kekerasan dalam bekerja. Contohnya yang memerlukan perlindungan yaitu buruh migrant, PRT, sector informal,”ungkapnya.(kresia/sandrowangak)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *