Bali Retirement Tourism Authority, (BRTA) menyodorkan konsep wisata usia lanjut kepada pemerintah Provinsi bali dan Praktisi pariwisata di Bali untuk mendongkraak kunjungan wisatawan ke Bali. Pasalnya, kunjungan wisatawan ke Bali akhir-akhir ini masih stagnan dan tidak menunjukkan trend kenaikan yang positip. Dan ternyata wisata Lansia itu menggiurkan, hanya belum tersentuh dengan benar.
Bali sebagai daerah wisata tak perlu disangsikan lagi. Hanya saja, trend kunjungan wisatawan ke Bali belakangan ini menunjukan stagnasi bahkan cenderung menurun. Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali dalam setahun hanya berkisar 6,2 juta orang. Berbagai upaya pun dilakukan oleh praktisi pariwisata, salah satunya yakni menyasar pasar pariwisata baru. Salah satunya pasar wisata bagi wisatawan usia lanjut. Sangat kecil.
Chairman Bali Retirement Tourism Authority (BRTA), Prof. Dr.dr. Sukardika, 14 Septeember 2013 menjelaskan, perlu upaya untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. Selain masalah infrastruktur pariwisata dan obyek wisata baru, perlu juga pasar pariwisata yang baru. Salah satu pasar pariwisata yang belum pernah digarap adalah pasar wisatawan usia lanjut.
Sukardika menjelaskan, potensi pariwisata usia lanjut di dunia mencapai 33 persen. Jumlah tersebut paling besar dibanding tiga pasar pariwisata yakni anak anak,remaja, usia produktif. Selama ini pasar pariwisata usia lanjut tidak pernah digarap oleh industri pariwisata Indonesia. Padahal, kata dia, beberapa negara asia seperti Philipina dan Malaysia sudah menggarapnya. “Philipina bahkan sudah menggarap wisata lanjut usia sejak tahun 1997,” jelasnya.
Untuk itu, kata Sukardika, BRTA mencoba menyodorkan konsep wisata lanjut usia dan mendorong Bali sebagai pilot project wisata lanjut usia untuk Indonesia. Untuk hal itu,kata Sukardika, BRTA sudah membangun komunikasi dengan Gubernur Made Mangku Pastika. “Dan sejauh ini Gubernur Mangku Pastika menunjukan respon positif. Sekarang tinggal kita mengkomunikasikan konsepini dengan kepala daerah di tingkat kabupaten,” jelasnya.
Dikatakan, pasar wisata lanjut usia sangat prospektif dan dari sisi resiko sangat kecil. Sebab, wisatawan usia lanjut adalah wisatawan yang telah memasuki masa pensiun, dimana secara financial mereka telah terjamin termasuk asuransi kesehatannya. Sehingga relatif lebih menjanjikan. “Di beberapa negara di Australia dan Eropa tidak ada tradisi agar anak anak menjaga orang tua mereka sehingga para lanjut usia ini memilih daerah daerah baru sebagai tempat mereka untuk menghabiskan masa pensiunnya. Dan negera negara seperti Malaysia dan Philipina inilah yang memberikan fasilitas pensiun dengan berbagai kemudahan bagi wisatawan usia lanjut,” jelasnya.
Jika pasar wisatawan usia lanjut ini bisa digarap oleh Bali maka dengan sendirinya akan membawa multiplayer efekbagi Bali, dimana dari sisi ekonomi akan memberikan keuntungan bagi Bali. “Tinggal bagaimana Bali mempersiapkan diri menggarap pasar ini mulai dari soal infratsruktur bagi wisatawan usia lanjut hingga menentukan lokasi untuk membangun fasilitas wisatanya. Nah ini nanti menjadi tanggungjawab para pengambil kebijakan,” jelasnya.
Dengan demikian,kata dia, aka nada obyek wisata baru,lokasinya akan dikaji lagi. “Ya lokasi kita rekomendasikan di wilayah Bali utara atau Bali timur. “Hal ini untuk mempercepat pertumbuhan ekenomi Bali dan pemerataan pembangunan di wilayah Bali,” tandasnya.
