suluhnusa.com_Kepala Badan Atom Teknologi Nasional (BATAN) Djarot Sulistio mengungkapkan, saat ini lembaganya tengah mensosialisasikan penggunaan bahan makanan dengan menggunakan teknologi iradiasi.
Teknologi ini sesungguhnya sudah sejak lama dibuat sekitar 30 tahun yang lalu digunakan oleh BATAN, hanya terkendala pada pemasaran saja. Jenis bahan makanan yang sudah dilakukan uji coba menggunakan alat bernama iradiator.
“Teknologi iradiasi bisa digunakan pada bahan makanan seperti makanan rendang yang diawetkan, pepes ikan, buah, beras dan lain-lain. Dengan teknologi iradiator makanan yang diawetkan bisa tahan lama hingga berbulan bulan bahkan bertahun- tahun, tentara pun bisa memanfaatkannya,” ujarnya, usai pembukaan Seminar sehari “One Day International Seminar and First Coordination Meeting of IAEA on Suporting Food Irradiation Technology to Ensure The Safety and Quality of Meals for Immunocompromised Patients and Other Target Groups, di Kuta, Selasa, 24 September 2014.
Karena itu, dengan teknologi iradiator kualitas bahan makanan tetap bagus karena idak ditambah bahan kimia jadi aman dan tanpa mengurangi rasa.
Caranya, obat dikenai bahan makanan yang kualitas usianya pendek namun bisa tahan lama karena dia membunuh mikroorganisme. Ia pun memastikan bahan makanan yang terkena teknologi iradiasi aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
“Kami pakai cukup lama, gk papa-papa, kelinci percobaan pegawai BATAN, biasanya masyarakat khawatir jangan-jangan,” tegasnya.
Malah yang dikhawatirkan pihaknya, buah supermarket dari Tiongkok mengandung radiasi. Hingga kini pihaknya kesulitan memasarkan produk yang diiradiator.
Selain terkendala pemasaran untuk mensosialisasikan produk tersebut dibutuhkan biaya yang sangat besar.
Sementara anggaran untuk melakukan riset di BATAN saja hanya Rp719 milyar lebih kecil dibandingkan lembaga kementerian yang ada, kata Djarot. Untuk APBN 2015 pihaknya bersyukur mengalami peningkatan menjadi Rp819 milyar.
“Anggaran riset sedikit Rp. 719 milyar bandingkan dengan trilyunan di beberapa kementrian. Ini dana ini 40 persen gaji pegawai dan 60 persen sisanya untuk penelitian,” katanya.
Sementara itu, kami hanya punya satu iradiator, satunya di swasta, iradiator ini harganya Rp70 -Rp80 milyar, karena itu kita mendorong BATAN bukan lembaga komersial disini swasta yang bergerak dibantu pemerintah.
59 Negara Bertemu Di Bali, Bicarakan Kesehatan Makanan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengapresiasi penyelenggaraan sidang Codex Commitee on Nutrition and Foods for Special Dieatary Uses (CCNFSDU) ke-36 yang diagendakan di Bali mulai tanggal 24 hingga 28 November 2014 mendatang.
CCNFSDU mempunyai tugas untuk menyiapkan standar pangan yang dikaitkan dengan gizi dan kesehatan seperti angka kecukupan gizi, fortifikasi pangan, formula bayi, termasuk diet khusus.
“Ini memang membicarakan standar internasional dan kita mengambil keuntungan cukup besar seperti yang saya sampaikan tadi networking, regulator, dimana banyak warga Indonesia terpapar dan lembaga seharusnya aware sehingga nantinya akan melakukan fungsi pengawasan di daerahnya masing-masing,” kata Kepala BPOM Roy Sparringa, di Kuta, Selasa (24/11).
Sidang diikuti oleh 59 negara yang merupakan regulator serta lembaga swadaya masyarakat. Sidang juga dihadiri oleh Codex Sekretariat serta perwakilan dari FAO dan WHO.
Selain itu dengan sidang tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam sidang dunia dan menjadi ajang memperjuangkan kepentingan Indonesia dengan lebih baik.
Agenda yang akan dibahas dalam sidang ini antara lain: review standar formula lanjutan, pembahasan draft revisi untuk prinsip umum penambahan zat gizi essensial pada makanan, biofortifikasi pada makanan dan lain-lain yang pada dasarnya untuk membuat standar pangan yang aman, bermanfaat dan berkualitas.
BPOM juga menegaskan dalam forum internasional ini Indonesia mengawal semua bahan makanan yang melalui BPOM dimana harus memiliki standar mutu yang bagus. Seperti produk kelapa sawit yang menjadi primadona, produk ini merupakan transviasit yang free di pasaran dunia.
“Saya khawatir, minyak kelapa sawit itukan tidak menggunakan transviasit nah jika tidak dikawal maka akan ada isu-isu yang menghambat kelapa sawit itu tidak bagus buat kesehatan, itu yang saya takutkan,” pungkas dia. (kresia)
