suluhnusa.com_Yang paling parah adalah pemilik warung makan, pemilik kios dan pemilik tokoh, kadang kala mereka membuang sampah di pertigaan Pelabuhan Lewoleba, bahkan ada yang dengan sengaja hambur di pinggir jalan.
Ini pengakuan Camat Nubatukan, Ibrahim Begu tentang kesadaran masyarakat lewoleba membuang sampah.
Soal sampah di Kecamatan Nubatukan Sampah, tidak elok dipandang mata, tak sedap dilihat dan menghasilkan bau tengik, apalagi sampah hasil pembuangan dari warung makan.
Di Lewoleba-Ibukota Kabupaten Lembata sampah masih menjadi masalah utama meskipun pengelolaannya sudah hampir 15 tahun dilakukan, baik oleh Dinas Pekerjaan Umum maupun oleh pihak Kecamatan Nubatukan toh sampah masih juga berserakan di pinggir jalan utama Trans Lembata. Sampah masih menjadi masalah utama, bukan saja soal pengangkutannya tetapi juga soal kekurangan armada angkutan.
Semula pengelolaan sampah sepenuhnya diserahkan penangannnya ke pihak Dinas Pekerjaan Umum tetapi kemudian dengan terbitnya Peraturan Bupati Lembata Nomor 14 tahun 2007 tentang Pelimpahan Tugas Pengelolaan Kebersiahan Kota Lewoleba kepada Camat Nubatukan maka pengelolaan yang berkaitan dengan pengangkutan sampah menuju ke Tempat Pembuangan Akhir di Kawasan Desa Pada kecamatan Nubatukan ditangani langsung pihak Kecamatan Nubatukan.
Camat Nubatukan Begu Ibrahim, BA kepada dari suluhnusa.com di ruang kerjanya, awal Februari menggambarkan siklus penanganan permasalahan pengangkutan sampah yang hanya dilayani oleh dua armada angkutan dum truk dengan 38 personil yang cukup kesulitan melayani sampah rumah tangga di 6156 kk di 7 kelurahan mulai dari bagian yang paling timur Kelurahan Lewoleba Timur, Kelurahan Selandoro, Kelurahan Lewoleba Utara, Kelurahan Lewoleba selatan, Kelurahan Lewoleba Barat, Kelurahan Lewoleba Tengah dan Kelurahan Lewoleba, belum termasuk warung makan, perkantoran dan bangunan public lain.
Menurut Camat Begu, setiap hari, satu armada angkutan bisa memuat 15 kubik sampah. “Jadi 2 armada angkutan itu memuat 30 kubik sampah rumah tangga, tapi kami masih kesulitan karena kalau pagi kami angkut di Kelurahan Lewoleba Timur, ketika kami berpindah ke kelurahan lain, pada sore harinya sampah dalam jumlah yang sama juga menumpuk di Kelurahan Lewoleba Timur. Kami minta agar bisa ada penambahan dua unit armada angkutan lagi agar masalah penumpukan sampah di Kota Lewoleba bisa di atasi. Tapi usulan kami itu tidak diakomodir dalam APBD Kabupaten Lembata tahun 2014,” tegas Camat Begu Ibrahim.
Kekurangan armada angkutan membuat sejumlah sampah tetap menumpuk padahal setiap bulan masyarakat Kota Lewoleba membayar retribusi sampah yang besarannya sesuai Keputusan Bupati Lembata pada bagian kelima tentang Struktur dan Besarnya Tarif, pasal 4 tertulis secara jeas besarnya tarif retribusi khusus Rumah tinggal bagi PNS, pengusaha dan pegawai swasta Rp. 4000/bulan sementara untuk buruh, tani, nelayan dan masyarakat umum lainnya sebesar Rp. 2000/bulan. Dan masyarakat tidak pernah absen membayarnya.
Tentang keluhan masyarakat soal pelayanan yang tidak maksimal, Camat Begu Ibrahim menjelaskan, pihaknya telah berusaha secara maksimal untuk meminimalisir keluhan masyarakat tetapi kendala utama saat ini terletak pada armada angkutan. Camat juga berjanji untuk mengakomodir keluhan masyarakat dan mencari solusinya sembari menjelaskan pihaknya menyiapkan 30 personil yang terdiri dari 28 petugas lapangan dan dua orang petugas penagihan retribusi.
Menurut Begu pembayaran retribusi lewat kelurahan dan penagihan langsung. Camat Begu mengatakan masalah menumpuknya sampah di Kota Lewoleba dipicu oleh perilaku masyarakat atau kesadaran mayarakat untuk membuang sampah tidak tempat padahal pemerintah melalui Badan Lingkungan Hidup telah menyiapkan tempat sampah permanen yang ditempatkan di setiap sudut Kota Lewoleba.
“Yang paling parah adalah pemilik warung makan, pemilik kios dan pemilik tokoh, kadang kala mereka membuang sampah di pertigaan Pelabuhan Lewoleba, bahkan ada yang dengan sengaja hambur di pinggir jalan. Kalau kota mau bagus, saya harap agar semua pihak sadar untuk buang sampah pada tempatnya,” kata Begu. (sultan ali grode/vinsen kerong)
