LEWOLEBA – “Pendidikan karakter hanya akan jadi slogan jika bangsa gagal memberi teladan kejujuran dan sikap toleran”
Delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Bendera merah putih kembali berkibar, lagu kebangsaan kembali berkumandang, dan pidato-pidato penuh janji kembali terdengar.
Tapi mari jujur, apa arti semua itu jika di hati kita masih bersarang mental korup dan intoleran? Apa makna Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju jika sebagian dari kita masih tega merampas hak rakyat dan membenci sesama hanya karena berbeda keyakinan? Kita merayakan kemerdekaan dari penjajah asing, tapi masih membiarkan diri dijajah oleh nafsu serakah dan sempitnya pikiran.
Inilah penjajahan bentuk baru: tak berbendera, tak berseragam, tapi pelan-pelan meruntuhkan bangsa dari dalam.
Realitas yang Menguji Nilai
Pendidikan karakter di sekolah-sekolah Indonesia hari ini digalakkan sedemikian rupa. Lewat kurikulum, ekstrakurikuler, dan pembiasaan, siswa belajar tentang kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi. Guru menjadi teladan hidup, mengajarkan nilai bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga sikap sehari-hari.
Namun, begitu keluar dari pagar sekolah, anak-anak disuguhi pemandangan yang memutarbalikkan pelajaran itu. Koruptor tersenyum di depan kamera, pungutan liar dianggap lumrah, dan media sosial penuh ujaran kebencian terhadap mereka yang berbeda agama, suku, atau pandangan politik.
Fenomena ini adalah hidden curriculum, pelajaran terselubung yang membentuk perilaku anak lebih kuat dari buku pelajaran. Anak mungkin tahu mencuri itu salah (moral knowing), tapi bagaimana mereka bisa menghayatinya (moral feeling) atau melakukannya (moral action) jika orang dewasa di sekitar mereka memaafkan atau bahkan memuji pelaku kecurangan? Bagaimana mereka bisa mempraktikkan toleransi jika yang mereka lihat justru hujatan dan diskriminasi?
Korupsi merampok masa depan pendidikan. Data KPK menunjukkan, anggaran yang seharusnya memperbaiki sekolah dan membayar guru sering kali mengalir ke kantong pribadi. Akibatnya, pemerataan pendidikan terganggu, kualitas guru sulit meningkat, dan generasi muda kehilangan kesempatan berkembang.
Intoleransi sama mematikannya. Ia memecah persatuan, mengikis kepercayaan, dan menutup ruang dialog. Di negara yang lahir dari keberagaman, intoleransi adalah racun yang perlahan menghancurkan fondasi Bhinneka Tunggal Ika.
Guru, meski berada di garis depan, tidak bisa sendirian. Mereka mengajarkan integritas di kelas, tapi teladan di masyarakat justru sering bertolak belakang. Banyak guru memilih tetap berjuang, sadar bahwa jika mereka menyerah, generasi muda akan kehilangan kompas moral sama sekali. Kesetiaan ini adalah perlawanan sunyi terhadap budaya korup dan intoleran.
Panggilan Moral Kolektif
Pendidikan karakter tak boleh berhenti pada slogan kurikulum atau proyek seremonial. Ia harus menjadi gerakan moral kolektif yang melibatkan keluarga, masyarakat, pemimpin, dan penegak hukum. Sekolah bisa menanam benih, tapi tanah sosial tempat benih itu tumbuh harus disuburkan oleh teladan yang baik. Bersatu berarti menolak membiarkan korupsi dan intoleransi tumbuh. Berdaulat berarti memegang prinsip di atas godaan materi atau kebencian. Rakyat sejahtera hanya terwujud jika dana publik digunakan untuk kepentingan bersama. Dan Indonesia maju hanya mungkin lahir dari generasi yang tumbuh dengan karakter jujur, disiplin, dan menghargai perbedaan.
Jika di sekolah anak-anak diajarkan untuk menghargai perbedaan, namun di rumah atau lingkungan mereka mendengar kata-kata merendahkan kelompok lain, pesan pendidikan itu akan kehilangan daya. Seperti dikatakan Najeela Shihab, “Anak yang sekolah bukan berarti dia lulus dengan kompetensi dan karakter yang kita idamkan.” Karakter membutuhkan ekosistem yang sehat, bukan hanya ruang kelas yang tertib.
Kemerdekaan Sejati
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah asing, tetapi juga bebas dari perampok uang rakyat dan perusak persatuan. Jika kita membiarkan korupsi dan intoleransi hidup, kita sesungguhnya sedang mengibarkan bendera setengah tiang untuk martabat bangsa.
HUT ke-80 RI harus menjadi titik balik. Kita harus berani berkata: cukup! Cukup membiarkan korupsi merampok masa depan. Cukup membiarkan intoleransi memecah belah kita. Kemerdekaan ini bukan sekadar warisan, tetapi amanah. Amanah yang hanya bisa kita jaga jika setiap warga, dari pejabat hingga rakyat kecil, memerdekakan diri dari mental korup dan intoleran. Karena hanya bangsa yang berani menegakkan integritas dan menghormati perbedaanlah yang akan benar-benar Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju. +++
Andreas FX Lawe Odung, S.Pd
Guru pada SMPN 3 Ile Ape Timur Satu Atap Hamahena
