Sang Guru Itu Adalah Buruh

Home » Berita » Jurnal » Sang Guru Itu Adalah Buruh

LARANTUKA – Narasi hidup guru selalu penuh warna dan kegetiran. Penuh warna karena dalam tugas pengabdian, guru bisa berganti sekolah, berpindah tempat tinggal, dan berjumpa dengan banyak orang. Di balik itu, ada kisah getir. Gaji yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, selalu telat dibayar. Guru pun harus mengutang.

Itulah kisah guru Ben, sebagaimana digambarkan Gerson Poyk dalam novel Sang Guru. Saya menghabiskan waktu liburan sekolah awal pembukaan puasa bulan suci Ramadhan dengan membaca novel Sang Guru ini.

Ada dua alasan saya memilih novel Sang Guru sebagai peneman liburan. Pertama, penulisnya, Gerson Poyk, adalah sastrawan kebanggaan NTT. Secara personal, ada kedekatan emosional dengan Gerson karena kami berasal dari daerah yang sama, NTT. Membaca Sang Guru adalah bentuk penghargaan akan karya Gerson sebagai putra daerah NTT.

Gerson Poyk putra Rote. Ia lahir di Namodae Ba’a pada 16 Juni 1931. Hidup dan sekolahnya selalu berpindah-pindah karena mengikuti ayahnya yang adalah pegawai negeri. Masa kecil Gerson dihabiskan di pulau Flores. Tetapi ia pernah tinggal dan sekolah di beberapa tempat seperti Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Alor, Soe.

Penulis dengan nama lengkap Herson Gubertus Gerson Poyk ini adalah lulusan ikatan dinas sekolah guru di sekolah guru atas (SGA) atau kweekschool. Walau merupakan tamatan sekolah guru,Gerson Poyk tidak hanya menjalani hidup sebagai guru. Ia adalah wartawan dan sastrawan hebat.

Karir Gerson sebagai guru justru terbilang singkat, dibandingkan dengan usianya (hidup dan pengabdian) yang panjang. Tujuh tahun Gerson mengabdi sebagai guru (1956 – 1963) di dua kota, Ternate dan Bima.

Passion Gerson memang lebih ke dunia tulis menulis. Ia pernah menjadi wartawan di Suara Harapan dan Kantor Berita Antara dan penulis freelance. Gerson juga dikenal sebagai sastrawan yang menulis menulis novel, cerpen dan puisi, dan esai. Karya-karyanya banyak mengangkat lokalitas NTT.

Atas prestasinya di bidang jurnalistik dan kesusastraan, Gerson mendapat banyak penghargaan seperti anugerah jurnalistik Adinegoro, Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia, penghargaan sebagai sastrawan ASEAN, SEA Write Award, penghargaan Lifetime Achievement dari Kompas, Academ Award dari Forum Academy NTT.

Gerson Poyk adalah sastrawan yang mengharumkan nama NTT, tidak hanya di panggung nasional, tetapi juga dunia. Menurut Yohanes Sehandi, Gerson Poyk adalah perintis sastra NTT karena dia adalah orang NTT pertama yang menulis dan mempublikasikan karya sastra di medai. Namanya juga diabdikan sebagai nama Taman Budaya NTT.

Alasan kedua, novel ini bercerita tentang guru. Profesi yang pernah dilakoni Gerson Poyk ini, juga saya jalani saat ini. Secara profesi, guru memiliki tanggung jawab etik untuk melaksanakan tugas keguruan secara profesional. Untuk itu, penting bagi guru membaca kisah (fiksi maupun non-fiksi) tentang guru sebagai inspirasi dalam menunaikan panggilan profesi.

Novel Sang Guru mengisahkan kehidupan guru. Tokoh utamanya adalah Ben yang mengabdi di pulau Ternate, Maluku Utara. Kisah ini diawali dengan kedatangan Ben bersama ibunya di pulau Ternate dengan menumpang kapal laut dari Surabaya.

Di awal kedatangannya, Ben mengalami kesulitan. Bersama ibunya, dia harus tinggal di gudang sekolah. Gaji yang selalu datang terlambat membuat Ben harus meminjam uang dari penjaga sekolah. Mengatasi semua itu, Ben harus mencari kerja tambahan pada sore hari.

Walau dikepung kesulitan, Ternate sangat berkesan bagi Ben. Di pulau inilah, Ben menemukan cintanya; ia menjalin asmara dengan Sofie (guru SKP) yang kemudian dijadikan istrinya.

Pulau Ternate sangat indah. Tempat-tempat rekreasi di pulau ini sangat bagus. Pantai – pantainya berpasir putih dengan laut yang jernih. Ben berkeliling menikmati keindahan alam pulau tersebut dengan sepeda. Ben juga punya agenda khusus berenang di pantai.

Di Ternate, Ben menjalin relasi dengan banyak pihak. Pergaulannya luas. Pribadinya yang luwes membuat Ben punya banyak kenalan. Di pulau ini, Ben tidak hanya mengajar di kelas. Ia juga hadir menengahi persoalan di tengah masyarakat. Dalam konflik antara mobrig dan tentara, Ben menjadi penghubung dan pengantar surat kepada kedua kubu bertikai.

Panggilan sebagai guru di Ternate yang penuh tantangan dijalani Ben dengan tabah. Hingga sebuah tragedi memaksa Ben meninggalkan pulau Ternate. Tidak hanya pulau itu yang ditinggalkan, profesi sebagai guru juga ditanggalkan Ben. Dari Ternate Ben menuju Manado, tempat asal Sofi. Di sanalah, Ben dan Sofie menikah.

Membaca Sang Guru, kita seperti sedang melihat potret guru di negeri ini. Melalui novel ini, Gerson mengangkat realitas getir hidup guru yang serba kesulitan. Hidup guru masih jauh dari sejahtera. Tugas mulia mencerdaskan bangsa belum dihargai secara layak.

Rezim terus berganti tetapi nasip guru tak kunjung membaik. Kesejahteraan guru adalah suatu yang utopis. Dari dulu hingga kini, kondisi guru masih memprihatinkan. Usia kemerdekaan Indonesia sudah mencapai seperempat abad, tetapi kesejahteraan guru masih jauh panggang dari api.

Upah guru masih jauh dari layak terutama yang mengabdi di daerah terpencil dan sekolah kecil. Guru-guru ini menghadapi beban ganda: sudah gaji kecil, pembayarannya selalu terlambat. Gaji yang tidak teratur membuat guru harus mengutang.

Gerson menulis, ”Guru-guru di sini juga menderita nasib seperti Pak di hari pertama ketika mereka datang bekerja di pulau yang kecil ini…Guru-guru di sini, atas kebijaksanaan kepala sekolah, meminjam uang dari saya dan kalau gaji mereka datang barulah dikembalikan” (hal. 18).

Kondisi ini menuntut guru bekerja lebih keras; mencari tambahan kerja lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, guru tidak hanya mengajar pagi hingga siang. Guru mesti bekerja lagi sore sampai malam. Ada guru yang menyambi sebagai tukang ojek, penjual ikan, dll.

Sebagaimana kisah Ben, ”Setelah aku bekerja sore, hampir kami tak kekurangan rejeki. Segala – galanya cukup: pagi-pagi dapatlah kami minum teh dan jajan, siang hari makan nasi, sayur dan ikan” (hal.26).

Di tengah tuntutan kerja tanpa jaminan kesejahteraan, Gerson menginpsirasi guru untuk melampaui profesinya. Gerson tidak hanya bersandar pada pekerjaan sebagai guru. Gerson tidak hanya menjadi guru secara formal; mengajar dan mendidik siswa di sekolah. Tetapi juga menjadi buruh kapal.

Di mata Gerson, pekerjaan kasar sekalipun adalah mulia, yang penting halal dan bisa menghidupi guru. Gerson menulis, ”…pekerjaan kasar adalah pekerjaan yang mulia. Sebenarnya semua guru mesti mengetahui bahwa pekerjaan kasar pun produktif” (hal.7).

”Pekerjaan yang kulakukan bukanlah pekerjaan yang memalukan” (hal.8).

Karena itu bagi Gerson, (menjadi) guru di negeri ini ibarat buruh. Itulah mengapa, perkenalan pertama Ben di Ternate adalah dengan seorang buruh.

Saat kapal bersandar di pelabuhan, Ben yang sedang melamun dibuyarkan lamunannya oleh seorang yang berbadan besar dan tegar. Buruh yang mencari penghasilan dengan mengangkat barang dari kapal yang bersandar di pelabuhan Ternate.

”Tuan turun di sini? Saya sajalah yang menurunkan barang-barang tuan,” tanya sang buruh kepada guru Ben.

”Bagi-bagilah rejeki yang tuan peroleh kepada buruh kasar,” kata sang buruh.

”Tidak usah, Pak. Saya dapat menjadi buruh untuk diri sendiri,” kata guru Ben.

Ya, sang guru itu adalah buruh.

Identitas buku:
Judul: Sang Guru
Penulis : Gerson Poyk
Penerbit: PT. Grasindo
Tahun: 1993
Halaman: 162


Catatan Resensi : Geradus Kuma Apeutung • Guru di Flores Timur

Bagikan:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *