Jangan Lupa Negeri Ini Masih Bertahan Karena Ada Jutaan Janda Seperti Mariana

Mariana Akar Penyangga Pohon

MAKASAR – Namanya Mariana. Janda (cerai) beranak lima yang tinggal rumah kontrakan bertarip Rp 500.000 sebulan di Makasar. Pekerjaannya berjualan roti di pelabuhan Soekarno-Hatta, Makasar – yang kalau laris bisa mendapatkan penghasilan Rp 100.000 sehari.

Dahsyat dan sekaligus mirisnya, Mariana mesti memanjat tali kapal untuk berjualan – agar bisa menjangkau para pembeli di kapal.

Tentu saja itu satu cerita ironi lagi di negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi” ini.

Tapi dari kaca mata terang, Mariana adalah salah satu contoh warga, manusia, yang tak pernah kalah dari kehidupan.

Mariana adalah contoh nyaris sempurna dari prinsip: Jika kamu lemah lembek terhadap dirimu, kehidupan akan keras kepadamu, tapi jika kamu keras tegas terhadap dirimu – kehidupan akan luluh di hadapanmu. Dan Mariana tak lembek. Tapi kenapa hidupnya susah? Orang yang menaklukkan kehidupan tak diukur dari seberapa senang, kaya, nyaman hidupnya – tapi diukur dari seberapa tahan dan perkasa dia menghadapi gempuran demi gempuran yang menerjang. Sampai kehidupan sendiri yang kelelahan.

Tapi kan itu karena dia kepepet? Semua orang pernah kepepet – dalam skalanya masing-masing – tapi pilihan responnya berbeda. Mariana memilih untuk tak jadi maling atau pengemis karena kepepet. Dia memilih jadi pejuang. Mariana kepepet, tapi tak merepet – bahkan pada pemerintah sekali pun. Sementara banyak orang tak kepepet, tapi memilih jadi maling (negara). Mereka ini pecundang kehidupan.

Semesta tak pernah lengah meneliti orang seperti Mariana. Mantan Menpar Sandiaga Uno telah mencari tahu di mana rumah Mariana.

Jangan lupa, negeri ini masih bertahan karena ada jutaan Mariana lain di segenap pelosoknya. Merekalah akar-akar pohon kehidupan negeri ini. Tak kelihatan, namun menyangga pohon.

Wahai penguasa, ingatlah akan akar-akar itu, Mariana Mariana itu. Tanpa mereka yang menyangga pohon – termasuk penguasa di dalamnya – akan roboh dan jatuh.+++Harry HT Tjhajono

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *