suluhnusa.com_ Sejarah peradaban Kampung Adat Lewohala Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Banyak orang berpandangan bahwa perkembangan kehidupan hari ini dengan iming-iming kemudahan.
Life style, ekstotisme, ekslusivisme, praktis pragmatis dan lain sebagainya seakan-akan mau menegasikan bahwa pola pikir serba baru ini mampu mengikis pola pikir lama dengan semangat tradisionalistiknya.
Hal ini tentu akan bertolak belakang dengan pemikiran tentang makna pentingnya kearifan lokal dalam mendukung pembangunan di Indonesia agar lebih berwawasan lingkungan serta meminimalisasi terjadinya kerusakan terhadap lingkungan (Budiharjo, 2014).
Barangkali juga berseberangan dengan sebuah pemikiran yang menyebutkan bahwa kearifan lokal mesti ditempatkan sebagai orang tua yang telah mampu melahirkan peradaban hari ini (Ismail, 2009).
Padahal kita tahu bahwa kearifan lokal dengan nilai budayanya ini telah ada ratusan tahun silam sebagai tata aturan yang digunakan nenek moyang kita dalam menjalankan kehidupannya.
Kemudahan-kemudahan yang ada saat ini, kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan adalah buah dari proses asimilasi dari apa yang telah ada sebelumnya.
Artinya adalah setiap perubahan yang ada merupakan hasil refleksi panjang tentang kehidupan yang kompleks ini, mengalami perubahan dari masa ke masa seiring terjadinya trend oriented yang menjadi ciri khas sebuah masa atau periodisasi kehidupan.
Dalam perspektif subyektif, bisa saja teori evolusi sebagai buah pikiran Carles Darwin dapat dijadikan indikator bahwa proses perkembangan manusia sempurna tidak hanya dilihat dari aspek fisik manusia semata, namun hasil dari pemikiran yang berangkat dari kehidupan primitif menuju kehidupan manusia modern yang semakin sempurna.
Elemen Permukiman Kampung Adat Lewohala
Gempuran globalisasi dan modernisme yang terjadi hari ini, ternyata belum mampu mengikis salah satu peradaban masa lalu komunitas masyarakat yang berasal dari sejarah peradaban Kampung Adat Lewohala Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Permukiman tradisional yang terletak di dekat Puncak Gunung Ile Lewotolok (Sebelah Timur Gunung Ile Lewotolok), ternyata masih menyisahkan begitu banyak nilai peradaban yang masih tetap utuh hingga saat ini.
Hal ini terlepas dari fakta bahwa buah dari globalisasi dan modernisme tersebut ternyata mengikis beberapa nilai budaya yang terkadang secara sadar maupun tidak sadar dilakukan oleh putera puteri peradaban Kampung Adat Lewohala sendiri.
Setiap perubahan pola pikir, kemudian melahirkan pergeseran nilai budaya, sekalipun, tetap menjadi fakta yang tidak bisa dielakkan namun alangkah baiknya jika disimak nilai-nilai yang ada sebagai produk asli peradaban Kampung Adat Lewohala, dari perspektif elemen permukiman tradisional.
Fakta ini adalah diperoleh dari hasil riset yang dilakukan pada Tahun 2014 silam oleh Yohanes Kapistranus Sasong Payong Langotukan yang juga merupakan putera Kampung Adat Lewohala, dalam rangka penulisan Tesis Magister Arsitektur Universitas Udayana Denpasar Bali.
Hasil penelitian ilmiah ini ternyata menemukan elemen-elemen permukiman tradisional Kampung Adat Lewohala yang hadir dengan filosofinya masing-masing, tetapi kondisi masyarakat tradisionalnya hari ini adalah nyaris tidak menyadari akan fungsi-fungsi tersebut, lantaran yang dikedepankan adalah aspek seremonial adat semata ketimbang menelisik lebih jauh seperti apa esensi dan maksud kehadiran dari setiap nilai budaya yang ada.
Komunitas masyarakat Kampung Adat Lewohala adalah berasal dari dua suku besar yakni dari suku yang disebut sebagai suku asli (Tana Tawa Ekan Gere, Buta Bete Walan Mara) dan suku pendatang yang berasal dari Kepulauan Maluku (Seram Goran Abo Muar).
Kedua suku ini bersepakat mula-mula dalam upaya menumpas kekuasaan Demon yang sebelumnya dikisahkan menjajah peradaban suku Tana Tawa Ekan Gere.
Setalah koalisi kedua suku ini memenangkan pertempuran dan pihak Demon tercerai berai, maka disepakati selanjutnya adalah untuk membangun tatanan kehidupan yang baru secara kolektif.
Dalam konteks membangun permukiman, ada beberapa elemen permukiman tradisional yang ada di Kampung Adat Lewohala yang dibangun pada waktu itu adalah sebagai berikut:
- Bawa Lowe
Fungsi Bawa Lowe sesungguhnya memiliki peranan yang cukup strategis dalam kehidupan peradaban Kampung Adat Lewohala. Bawa Lowe adalah konsep yang bisa dikategorikan sebagai fungsi gerbang kampung yang masing-masingnya memiliki Nuba Nara atau sarana penghubung antara manusia dengan Wujud tertinggi yang dikenal dengan sebutan Lera Wulan Tana Ekan. Wujud tertinggi ini dipercaya bisa melindungi masyarakat dari berbagai ancaman musuh, yakni musuh yang kelihatan maupun musuh yang tak kelihatan.
Bawa Lowe ini adalah berjumlah 4 buah yang terletak di 4 penjuru mata angin yakni Werang (Utara/tempat yang lebih tinggi), Lein (Selatan/tempat yang lebih rendah), Timu (Timur/arah Matahari terbit) dan Wara (Barat/arah Matahari terbenam). Khusus untuk fungsi Bawa lowe Lein adalah juga dijadikan sebagai Kota Mata atau gerbang utama Kampung Adat Lewohala.
Fakta hari ini menujukkan bahwa keempat Bawa Lowe ini memiliki fungsi yang tidak diketahui banyak orang, karena pemegang kendali atau yang bertanggung jawab terhadap keberadaan Bawa Lowe ber-Nuba Nara ini adalah dimandatkan ke suku-suku tertentu yang telah ditetapkan secara adat. Fungsi Bawa Lowe dikisahkan menjadi elemen pertama yang dibangun di Kampung Adat Lewohala.
Untuk lebih jelas mengenai wujud Bawa Lowe ini maka bisa dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

- Lewu Kepuhur
Lewu Kepuhur bisa diartikan sebagai pusar Kampung atau inti Kampung, Fungsi Lewu Kepuhur adalah fungsi sentral atau muara dari seluruh kekuatan internal yang ada di dalam Kampung Adat Lewohala (dalam sastra adat disebut Lewu Kepuhur Tube Nawa Kua Kemuha Lewu Tukan Tana Lolon).
Keyakinan ini ditunjukkan pada waktu itu misalnya ketika hendak melakukan setiap tindakan yang bertujuan untuk kebaikan hidup seluruh warga Kampung Adat Lewohala adalah bisa didapatkan melalui Lewu Kepuhur ini.
Tindakan-tindakan ini berkaitan erat dengan kebaikan-kebaikan bersama, misanya berperang melawan musuh, rembuk kampung, permohonan restu bagi keluarga dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan di fungsi Lewu Kepuhur, karena kepercayaan masyarakat tradisional meyakini bahwa Lewu Kepuhur adalah media sentral penghubung dalam Kampung antara manusia dengan sang penciptanya. Untuk lebih jelas mengenai wujud Lewu Kepuhur ini maka bisa dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

- Namang
Fungsi Namang adalah merupakan satu kesatuan dengan fungsi Lewu Kepuhur. Namang adalah konsep ruang terbuka publik sebagai tempat rekreasi, relaksasi, pertemuan dan berbagai aktivitas kebersamaan lainnya. Jenis aktivitas tersebut adalah misalnya Sole Oha (tarian yang melibatkan banyak orang dalam lingkaran), Soka Sikha atau kerap disebut Hedung, Laga Namang, dan lain sebagainya.
Fungsi ini masih tetap eksis hingga saat ini, sebab selain letaknya bersama Lewu Kepuhur adalah di tengah-tengah Kampung, juga merupakan wadah bersama seluruh masyarakat sehingga semua orang tentu akan berhubungan dengan tempat ini baik dalam situasi formal maupun non formal tradisional.
Untuk lebih jelas mengenai wujud Namang ini maka bisa dilihat pada Gambar 3 berikut ini.

- Zona peruntukan bagi rumah-rumah adat yang dibagi dalam beberapa petak atau pematang
Fungsi ini adalah pembagi kampung menjadi beberapa petak, sebab kondisi geografis lokus Kampung Adat Lewohala adalah berupa tanah miring dengan kemiringan diatas 30 º. Strategi ini adalah memungkinkan adanya permukaan datar yang bisa dijadikan wadah untuk membangun rumah masing-masing suku yang dalam sastra adat disebut suku Pulu Pito no Pito (77 suku) namun fakta yang didapatkan adalah berjumlah 88 suku. Semua suku yang ada di Kampung Adat Lewohala, masing-masing memiliki lokasi yang telah ada sejak dahulu kala.
- Koke
Fungsi Koke adalah sebagai fungsi tempat perjamuan bersama suku-suku yang selain memiliki lokasi rumah berdekatan, juga karena berdasarkan sejarah suku yang biasanya masing-masing memiliki hubungan yang erat.
Jumlah Koke yang ada di Kampung Adat Lewohala adalah berjumlah 5 buah diantaranya adalah Koke Leuwalang Leragere yang mengakomdir 5 jenis suku, koke Wungubelen yang mengakomodir 42 jenis suku, Koke Pureklolon Balawangak yang mengakomodir 19 jenis suku, Koke Dulimaking yang mengakomodir 7 jenis suku dan Koke Lebala yang mengakomodir 13 jenis suku.
Semua jenis Koke ini masih tetap eksis hingga saat ini, terutama ketika berlangsungnya ritus Werun Lewu atau kerap dikenal dengan sebutan Pesta Kacang yang berlangsung sekali dalam setahun (biasanya pada akhir Bulan September hingga awal Bulan Oktober).
Untuk lebih jelas mengenai wujud Koke ini maka bisa dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

- Bale Bu Patih Arakian
Fungsi Bale Bu Patih Arakian merupakan salah satu fungsi khusus bagi Raja Adonara yang memiliki wilayah kekuasaan hingga wilayah Ile Lewotolok secara keseluruhan.
Lokasi Bale Bu Pati Arakian ini adalah di sebelah Barat Namang atau berada dalam satu kesatuan fungsi Namang atau ruang terbuka publik.
- Wule
Fungsi Wule adalah bisa disebut sebagai fungsi pasar tradisional. Dalam penelitian ini ditemukan lokasi yang dahulunya dijadikan sebagai tempat terjadinya aktivitas jual beli yang pada saat itu dilakukan dalam bentuk barter.
Lokasi Wule ini adalah di sudut kanan depan rumah adat Suku Benimaking Watukepeti. Fungsi Wule saat ini tinggal menyisahkan bukti otentik, namun aktivitas pasar di Kampung Adat Lewohala tidak pernah dilakukan kembali dalam generasi modern hari ini.
- Akses Jalan
Akses jalan dalam dinamika kehidupan di Kampung Adat Lewohala adalah diklaster menjadi tiga bagian besar, yakni akses jalan penghubung vertikal, akses jalan penghubung horizontal dan Bero Laran.
Akses vertikal adalah penghubung antar rumah-rumah yang berbeda petak, dan akses horizontal adalah penghubung antar rumah-rumah yang ada dalam satu petak.
Akses vertikal tidak memiliki pola yang konsisten, dan berkembang sesuai dengan kemudahan daya jangkau, sedangkan akses horisontal biasanya mengintari depan rumah masing-masing suku.
Hal ini berdasarkan pantauan di lapangan yang menunjukkan bahwa akses horisontal ini cenderung berada di depan masing-masing rumah-rumah adat suku yang ada.
Fungsi Bero Laran merupakan salah satu fungsi penting yang ada di Kampung Adat Lewohala. Akan tetapi fungsi ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat Kampung Adat Lewohala, sebab saat ini hanya dimanfaatkan sebagai fungsi adat. Fungsi utama Bero Laran adalah diyakini sebagai alur bagi Ama Opo Koda Kewokot (arwah para Leluhur yang sudah meninggal), dari arah laut menuju ke puncak Gunung Ile Lewotolok.
Ritual yang kerap memanfaatkan fungsi Bero Laran adalah misalnya ritual Nawu Nu Tena Mayan Tana (menghantar kekuatan-kekuatan alam) dari arah puncak gunung menuju ke laut.
- Akses Menuju Sumber Air
Sumber air bagi masyarakat awal peradaban Kampung Adat Lewohala adalah merupakan aspek penting yang menjadi perhatian warga masyarakat pada waktu itu. Situasi di Kampung Adat Lewohala maupun seluruh Gunung Ile Lewotolok adalah terkenal sebagai wilayah yang tidak memiliki mata air permukaan.
Kondisi ini menyebabkan menggali sumur di dataran rendah merupakan satu-satunya pilihan sikap pada waktu itu.
Untuk memenuhi kebutuhan akan air, masyarakat Kampung Adat Lewohala memanfaatkan sebuah sumur tua (Woi Belen/Wai Belen) yang terletak di Desa Jontona saat ini. Sumur ini memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan proses terbentuknya Kampung Adat Lewohala.
Untuk menjangkau lokasi sumber air tersebut, maka akses jalan yang dahulunya dimanfaatkan adalah melewati alur Bero Laran, tetapi ada juga yang melewati jalur Kota Mata (gerbang utama kampung).
Peranan Nilai Dari Kampung Adat Lewohala Bagi Generasi Saat Ini
Dalam dinamika kehidupan dewasa ini, karena faktor daya jangkau, aksesibilitas dengan kawasan lain khususnya dasar pertimbangan utama yakni menuju ke lahan garapan yang cukup jauh, maka masyarakat bermigrasi menuju tempat yang lebih rendah.
Kondisi ini melahirkan 8 desa modern yang ada di wilayah Ile Lewotolok yakni Desa Jontona yang disebut Baopuken, Desa Todanara yang disebut Waiwaru, Desa Watodiri yang disebut Kimakamak, Desa Muruone, Desa Laranwutun yang disebut Waipuken, Desa Kolontobo yang disebut Ohe, Desa Riangbao dan Desa Petuntawa.
Dengan dasar pijakan kearifan yang ada di peradaban Kampung Adat Lewohala, perwujudan permukiman desa-desa modern yang berasal dari Kampung Adat Lewohala masih menerapkan semua aspek tata kehidupan tradisional, termasuk diantaranya elemen permukiman Kampung Adat Lewohala.
Elemen permukiman yang diterapkan di permukiman modern saat ini tetap menerapkan aspek-aspek tradisional, sekalipun dalam perjalanan terdapat begitu banyak penyimpangan, namun semuanya masih bisa disaksikan di generasi yang tergolong cukup modern ini.
Elemen permukiman tradisional yang lazim diterapkan di permukiman modern adalah misalnya Lewu Kepuhur, Namang dan Bawa Lowe.
Sedangkan elemen permukiman lain biasanya disesuaikan dengan sejarah masing-masing permukiman modern diantaranya adalah Nuba Nara dibeberapa titik penting, Nude dan lain sebagainya. Elemen-elemen permukiman ini merupakan saksi bisu tentang peradaban awal terbentuknya permukiman modern yang terdiri atas 8 desa modern ini.
Kampung adat Lewohala saat ini hanya dijadikan sebagai pusat aktivitas adat masyarakat. Aktivitas adat yang selalu berhubungan dengan Kampung Adat Lewohala adalah misalnya ritus Werun Lewu atau ritus Pesta Kacang, ritual Soro Laku (upacara korban bagi pasangan muda yang baru menikah), Nawu Nu Tena Mayan Tana (menghantar kekuatan-kekuatan alam dari gunung menuju ke Laut), dan lain sebagainya.
Semuanya masih cukup terjaga hingga saat ini, sekalipuan perkembangan teknologi dan kemajuan peradaban hari ini sudah cukup merasuki sendi-sendi peradaban manusia.
Melihat fenomena kearifan lokal yang masih tetap terjaga dengan baik, maka sesungguhnya harus diakui bahwa keampuhan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwarisi oleh nenek moyang masyarakat Kampung Adat Lewohala tidak bisa diragukan lagi.
Hal ini tentu membutuhkan sebuah langkah konkret generasi saat ini khususnya generasi muda untuk tidak sekedar melihat maupun terlibat dalam seremonial semata, namun sedapat mungkin menyelami tentang bagaimana esensi dari masing-masing nilai tradisi tersebut bagi kehidupan ini.
Peradaban Kampung Adat Lewohala diperkirakan berusia diatas 500 tahun dan kurang dari 1000 tahun (asumsi perhitungan didapatkan dari perhitungan silsilah masing-masing keluarga dan usia masing-masing generasi).
Dari usia yang tergolong cukup tua ini mengisyaratkan tentang kedewasaan nilai yang bisa dipetik sebagai kekuatan dalam menghadapi perkembangan generasi hari ini. Usia yang sudah sangat tua dalam konteks usia hidup sebuah peradaban ini sudah saatnya membutuhkan perhatian seluruh elemen masyarakat khususnya generasi muda untuk tetap menjaga, dan sedapat mungkin menemukan esensi dari warisan ini.
Upaya ini penting dilakukan agar kehidupan manusia modern menjadi lebih beradab, dan tidak pernah lupa dengan sejarah masa lalu yang ditinggalkan oleh nenek moyang.***
Yohanes Kapistranus Sasong Payong Langotukan, ST., MT***
- ***Aktivis dan mantan Ketua PMKRI Cabang Denpasar, Putra Asli Lewohala, Belajar dan mendapat gelar ST dan MT di Denpasar Bali, Saat ini berdomisili di Makassar-Sulawesi Selatan
- Selain mengarsitek bangunan modern bergaya minimalis, Modern, Latin, Eropa, Arab pada beberapa bangunan di Denpasar Bali juga Konsen terhadap penelitian arsitektur rumah dan pemukiman adat di wilayah NTT.
- Tulisan ini adalah Hasil penelitian dan Disertasi untuk mendapatkan gelar akademik MT bidang Arsitektur 2014 lalu
