LEWOLEBA – Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, S.P., didampingi Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah, Quintus Irenius Suciadi, S.H., M.Si., menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan Temu Alumni STIPAS Keuskupan Agung Kupang Cabang Lembata yang berlangsung di Balai Pelatihan Golu Ola, Desa Hadakewa.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Lembata, Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang, wakil ketua STIPAS, para pimpinan perangkat daerah, Camat Lebatukan, unsur Forkopimcam, Kepala Desa, para alumni, mahasiswa, serta insan pers.
Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang, RD. Florens Maxi Un Bria, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kabupaten Lembata dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program Live In STIPAS tahun ini. Pemilihan ini didasarkan pada nilai historis serta kontribusi besar masyarakat Lembata terhadap STIPAS.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada wilayah Lewoleba dan Poroki yang secara konsisten mengirimkan putra-putri terbaik untuk menempuh pendidikan di STIPAS Kupang.
Lebih lanjut, RD. Florens menyampaikan rencana kerja sama ( MOU ) antara STIPAS dan Pemerintah Kabupaten Lembata, antara lain melalui pengiriman mahasiswa untuk program Pendampingan Praktik Lapangan (PPL) dan KKN tematik, khususnya dalam bidang penguatan karakter dan literasi bagi siswa-siswi.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap program kerja Penjabat Bupati Lembata, khususnya program MTT (Nelayan, Tani, dan Ternak).
Dalam konteks filosofi pertanian, diibaratkan bahwa ranting harus tetap menyatu dengan pohon agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah yang lebat.
Sementara itu, dalam filosofi kelautan, masyarakat dianalogikan sebagai penumpang kapal yang harus taat kepada kapten atau pemimpin, sehingga dapat mencapai tujuan dengan selamat.
Selain itu, ditegaskan bahwa visi pembangunan yang baik perlu didukung oleh pemenuhan gizi yang baik bagi masyarakat.
Sementara itu, Bupati Lembata dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada mahasiswa STIPAS. Ia menekankan pentingnya menghargai budaya lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Penggunaan sarung yang saya kenakan hari ini merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan budaya Lembata. Saya berharap mahasiswa juga dapat menghargai nilai-nilai budaya yang ada,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah, serta mengajak mahasiswa dan alumni untuk menjadi teladan dalam pengabdian kepada masyarakat. Ia menyoroti karakteristik Kabupaten Lembata sebagai daerah kepulauan yang memiliki tantangan tersendiri, terutama ketergantungan pada transportasi laut yang berdampak pada stabilitas harga barang.
Di sisi lain, ia menyebut kondisi geografis tersebut juga memberikan dampak positif berupa minimnya pengaruh negatif dari luar, sehingga nilai-nilai sosial masyarakat tetap terjaga.
Bupati turut mengungkapkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pendidikan, termasuk program sekolah gratis bagi lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke sektor pertanian sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah.
Ia juga menekankan bahwa sekitar 80 persen masyarakat Lembata bergantung pada sektor unggulan Nelayan, Tani, dan Ternak (NTT), sehingga menjadi fokus utama dalam pembangunan daerah.
“Kepemimpinan adalah pelayanan. Kebahagiaan seorang pemimpin terletak pada kesejahteraan masyarakatnya,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati mengajak seluruh pihak untuk mengintegrasikan nilai iman dan kerja melalui semangat Ora et Labora (berdoa dan bekerja) dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi.
“Dengan memohon penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan restu leluhur Lewotana Lembata, kegiatan Temu Alumni STIPAS Keuskupan Agung Kupang pada hari ini saya nyatakan dibuka secara resmi,” tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara alumni, mahasiswa, dan pemerintah daerah, serta menjadi momentum penting dalam membangun sinergi antara pendidikan, iman, dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Lembata. +++
firman.ama
