Saat Basarnas Gelar Simulasi Darurat Bencana, Gunung Ili Lewotolok Meletus 179 Kali

Home » Berita » Humaniora » Saat Basarnas Gelar Simulasi Darurat Bencana, Gunung Ili Lewotolok Meletus 179 Kali
Laporan PVMBG Ili Lewotolok (1423 mdpl) di Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Cuaca cerah. Angin bertiup lemah ke arah barat dan barat laut. Suhu udara 23-30 °C,  Gunung jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 10-100 m di atas puncak kawah.

“Teramati 179 kali letusan dengan tinggi 100-700 m dan warna asap kelabu. Letusan disertai gemuruh dan dentuman lemah”, tulis Stanislaus Ara Kian, A.Md dalam laporannya, 19 Juni 2025.

Saat ini gunung Ili Lewotolok berstatus Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, wisatawan serta masyarakat Desa Jontona dan Desa Todanara agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah sektoral selatan dan tenggara sejauh 2,5 km pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok, dan mewaspadai potensi ancaman bahaya dari guguran/longsoran lava dari bagian, selatan dan tenggara puncak/ kawah Gunung Ili Lewotolok.

Selain itu masyarakat Desa Amakaka agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah sektoral barat sejauh 2,5 km pusat aktivitas G. Ili Lewotolok, serta mewaspadai potensi ancaman bahaya dari guguran, longsoran lava dari bagian barat puncak atau kawah Gunung Ili Lewotolok.

Sementara itu di hari kegiatan simulasi yang digelar Basarnas, Gunung Ili Lewotolok tetap mengeluarkan sejak pagi sampai malam hari, 20 Juni 2025.

Urusan penanggulangan bencana butuh kerjasama

Keterlibatan masyarakat dalam  merespon penanggulangan bencana dan keadaan darurat bencana harus dilakukan secara terpadu, terencana, terkoordinasi dan menyeluruh, dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko dan dampak bencana.

Apalagi Kabupaten Lembata memiliki kondisi geologis, geografis, hidrologis, demografis dan sosiologis yang rawan terhadap bencana, baik bencana alam, non alam maupun bencana sosial. Untuk itu maka kesadaran dan prakarsa saat tanggap darurat dalam menghadapi risiko bencana merupakan prasyarat utama untuk mengurangi risiko yang lebih besar.

Hal ini disampaikan Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq dalam sambutannya yang disampaikan Plh Sekda yang juga Asisten 1 Sekda Lembata Quintus Irenius Suciadi pada saat pembukaan kegiatan Simulasi Bencana Erupsi Gunung Api lle Lewotolok di lapangan Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Jumat, 20 Juni 2025.,

“Hal yang penting dalam upaya penanganan saat tanggap darurat adalah kepekaan, kecepatan dan ketepatan dalam bertindak. Salah satu kerawanan bencana akibat faktor alam yang teridentifikasi saat ini yaitu erupsi Gunung Api lle Lewotolok,” katanya.

Menurut Suciadi, Lembata sudah memiliki dokumen rencana kontijensi erupsi Gunung Api lle Lewotolok, dan di dalamnya sudah mengatur tentang beberapa hal terkait kesiapsiagaan desa dalam menghadapi bencana erupsi gunung api. Skema kesiapsiagaan tersebut antara lain, siaga sumber daya manusia, siaga peralatan, siaga sarana prasarana, siaga tim bencana, siaga rantai komando, dan siaga sistem penanganan darurat.

“Hari ini kita melakukan kegiatan simulasi bencana erupsi Gunung Api lle Lewotolok. Kegiatan ini sangat penting dalam rangka mitigasi dan antisipasi terhadap kedaruratan bencana pada masyarakat rawan bencana,” kata Iren Suciadi.

Fathur Rahman, Kepala Basarnas Maumere pada kesempatan itu mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi, baik bencana alam maupun non-alam. Kabupaten Lembata sendiri berada di kawasan rawan bencana seperti letusan gunung api, gempa bumi, dan cuaca ekstrem.

“Keberadaan dan peran serta masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi kondisi kedaruratan kecelakaan, bencana dan kondisi membahayakan manusia. oleh karena itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan melalui Direktorat Bina Potensi terus berkomitmen untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam hal kesiapsiagaan, respons cepat, dan kemampuan teknis di bidang SAR”, ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dasar, keterampilan, serta pemahaman tentang prosedur SAR sehingga masyarakat mampu berperan aktif dalam upaya pencarian dan pertolongan (SAR) secara cepat, tepat, dan terorganisir dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan saat situasi darurat terjadi.

Ia berharap kegiatan pemberdayaan masyarakat ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.

Sebagai bagian dari upaya Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang SAR, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan dasar pengetahuan dan menghadapi kondisi kedaruratan kecelakaan, bencana maupun kondisi membahayakan manusia.

“Basarnas berkomitmen untuk terus mendukung dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman bencana. Kami percaya bahwa dengan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, kita dapat tangguh dan siap mewujudkan Kabupaten Lembata yang menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tegasnya. +++sandro.wangak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *