Suluh Nusa, Lembata – Riuh terdengar suara anak anak dari balik pohon. Nyaring mereka melafalkan kata kata Bahasa inggris dari balik bilik bambu. Puluhan anak anak usia TK, SD dan SMP datang dari berbagai pelosok Kota Lewoleba untuk belajar Bahasa inggris. Gratis.
Mereka dibagi dalam beberapa kelompok seturut usia. Sesekali mereka berkumpul di lapang luas belajar dan bermain berdama dalam Bahasa Inggris.
Eka dan Nurcholis dua pelajar usia SD tampak serius mendengarkan dan kemudian mengutarakan dengan suara keras kalimat-kalimat berbahasa Inggris. Mereka datang tidak dengan seragam sekolah.pakaian biasa biasa saja. Pakaian rumahan yang rapih dan sopan. Keduanya mengambil tempat duduk paling belakang, sembari mendengar dengan serius pelajaran Bahasa inggris yang disajikan oleh seorang wanita muda bernama Ina.
Ya, wanita muda yang mahir Bahasa inggris itu kerap di panggil Ibu Ina. Nama lengkapnya, Inacio Do Rosario. Ia dipercayakan oleh Komunitas Taman Daun, mengasuh kelas Bahasa Inggris bagi anak anak usia TK, SD dan SMP.
Begitulah suasana pembelajaran kelas Bahasa Inggris yang dibuka oleh Komunitas Taman Daun, di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT.
“Ya. Saya senang dan bahagia bisa mengajar Bahasa inggris bagi anak anak di sini. Ternyata mereka antusias untuk belajar. Mereka memiliki potensi untuk berkembang. Dan saya melakukan ini agar anak anak Lembata tidak ketinggalan dan bisa bersaing ke depan. Saya senang melakukan pekerjaan ini. Kelas ini kelas gratis bagi semua anak anak yanhg memiliki kemauan untuk belajae Bahasa inggris,” ungkap Guru Ina Do Rosario.
Menurut Guru Ina, para siswa yang mengikuti Kelas Bahasa Inggris di Taman Daun bukan hanya mengikuti proses belajar bersama para pengajar, melainkan juga berinteraksi dengan masyarakat.
Mereka sebagai teman belajar berbicara, mendidik kedisiplinan, serta bagaimana bertutur sapa dengan masyarakat sampai cara makan di rumah.
“Melibatkan masyarakat sangat penting, karena kita merupakan bagian dari masyarakat. Tujuannya juga mengembalikan pendidikan sebagai tanggung jawab masyarakat. Prosesnya adalah menuju masyarakat belajar. Karena sesungguhnya semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru, seperti kata Ki Hajar Dewantara,” tutur Guru Ina.

Senada dengan Guru Ina, Koordinator Komunitas Taman Daun Lembata, John Batafor, kepada SuluhNusa.com (weeklyline media network), 14 November 2021 menjelaska pola dan proses belajar di di Taman Daun menitikberatkan pada pola pendidikan sebagai sebuah taman yang merupakan tempat bermain dan menyenangkan. Tidak sebatas mengasah kemampuan berbaha Inggris anak anak, tetapi lebih dari itu, bagaimana membangun karakter anak-anak.
“Roh dari pembelajaran di Taman Daun sejatinya adalah character building dan spriritnya adalah education yang beorientasi pada pelayanan bukan profit,” ungkap Batafor.
Bagi john Batafor memperkenalkan bahasa Inggris sejak dini kepada anak-anak adalah suatu keharusan, mengingat belajar bahasa adalah sebuah proses pembelajaran seumur hidup. Bahasa Inggris dinilai sangat penting karena beberapa manfaat yang akan didapat anak anak. Meningkatkan kepercayaan diri, hingga meningkatkan peluang untuk bisa kuliah ke jenjang yang lebih tinggi serta mendapatkan informasi yang lebih luas.
“Jadi, sebenarnya ini karena saya dulu kuliah ambil bahasa Inggris, tetapi banyak kali saya gagal dua kali saya gagal. Banyak faktor, selain ekonomi, faktor yang paling mempengaruhi adalah karena Saya Nakal dan Tidak hargai susahnya mama mencari dan utang uang untuk biayai sekolah saya. Dan karena saya nakal juga gagal dalam saat kuliah Bahasa Inggris maka saya begitu susah membangun kembali kepercayaan diri saya. Fase yang sulit dalam hidup saya adalah fase di mana saya berusaha untuk bangkit dengan sebuah kepercayaan diri. Dan pengalaman saya ini, tidak bleh dialami oleh generasi Lembata saat ini. Saatnya kita membantu anak anak Lembata menjadi lebih percaya diri dengan belajar Bahasa inggris. Oleh karenanya, saya tidak mau anak-anak kedepannya hancur layaknya saya dulu. Yang terutama adalah semua kerja sosial ini saya dedikasikan untuk Mama saya. Dan mimpi besar kedepannya adalah bangun sekolah kwalitas Internasional untuk anak-anak dari SD, SMP , SMA dan Kuliah di Luar Negeri. Prioritas untuk anak-anak Lamaholot dan Kedang. Dan ketika itu terjadi maka itulah Toga terindah buat Mama. Ini motivasi saya,” kisah John.
Untuk mewujudkan mimpi dan haraoan ini, John Batafor bersama Komunitas Taman Daun, keluar masuk desa di Pulau Lembata, Pulau Solor, Pulu Adonara dan Flores unruk membuka kelas Bahasa Inggris Gratis bagi anak anak. Dimulai dari Lembata untuk gelombang pertama sebanyak 15 titik yakni 5 titik di Kedang (Kecamatan Omesuri dan Buyasuri), 2 Titik di Kecamatan Atadei, 2 Titik di Kecamatan Nagawutung, 2 Titik di Kecamatan Wulandoni, 1 Titik di Kecamatan Lebatukan, 2 di Ile Ape (Ile Ape & Ile Ape Timur) dan 1 Titik lagi di Kecamatan Nubatukan.
“Gelombang kedua ada 15 titik lagi di Lembata sehingga menjadi 30 titik. Dan kami mulai buka di Adonara dan Lewolema. Metode yang digunakan dalam kelas Bahasa Inggris akan disesuaikan mengandalkan keceriaan dan flexibilitas dalam kegiatan mengajar, setiap anak anak yang belajar tidak akan terbeban dengan proses belajar Bahasa Inggris,” tandas John Batafor.
Ketika disinggung soal ada tujuan politik yang terselubung dalam kegiatan kelas Bahasa Inggris Gratis bagi anak anak ini, John menjawab selain untuk membahagiakan ibunya dirinya membuka kelas Bahasa Inggris ini untuk menghormati semangat Almarhum Ayahnya yang adalah seorang guru dan meninggal saat ia berusia empat tahun.

“Ini merupakan satu-satunya foto yang saya miliki bersamamu. Yan Sule Batafor, menurut mereka, dirimu meninggal Dunia saat saya berumur 4 bulan. Dan katanya bahwa dirimu adalah Guru Bahasa Inggris di Lembata kala itu. Saya hanya mendengar cerita – cerita tentangmu. Terimakasih banyak dan Kelas Belajar Bahasa Inggris yang saya buka itu semua adalah hadiah saya buatmu. Dan saya akan buka lebih banyak lagi hingga sekolah,” tulis John Batafor di Akun facebook miliknya. +++sandrowangak
