“Ini kali pertama, saya Bersama Ustad berdiri satu panggung, berbicara tentang Agama kepada dua pemeluk agama berbed. Ini tugas bersama menentang intoleransi yang coba dipraktekan di daerah kita,” ujar Rm. Mikhael Samon Beraona, PR.

suluhnusa.com – Suasana di Bukit Sandosi, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, NTT, Jumad (19/7), petang berbeda dari biasanya. Bukit yang berada di tepi Desa Sandosi itu, biasanya dibiarkan tanpa sentuhan. Kalaupun berfungsi, puncak bukit itu hanya digunakan sekelompok warga Desa setempat untuk berburu babi hutan.
Namun kali ini, Puncak Bukit Sandosi yang berada di ketinggian 569 mdpl itu, diramaikan oleh puluhan orang Muda Katolik (OMK) Santo Hermanus Lewokemie, Witihama dan Remaja Masjid Desa setempat. Di puncak Sandosi dengan panorama sangat menakjubkan itu, pemuda dari kelompok Agama Katolik dan Islam berinisiatif menggelar kemping dengan Tema Sandosi, Altar Toleransi.
Menjelang magrib, puluhan pemuda itu mendaki puncak Sandosi. Mereka membawa perlengkapan seperti makanan, minuman, terpal,dan peralatan lain selayaknya orang yang hendak berkemah. Pemuda lintas agama setempatpun berinisiatif membangun sebuah balai-balai dari bambu, serta sebuah kemah berukuran sedang, tempat para pemuda itu melepas lelah usai menyusuri jalanan menanjak.
Dipimpin Romo Mikael Samun Beraona, Pastor Moderator Paroki St. Dominico Savio, Witihama dan Ustad Azam Putra Lewokeda, guru MTS Negeri 4 Flores Timur pun mulai mengakrabkan diri dengan hawa dingin yang mulai menusuk.
Jalanan menanjak diselimuti semak belukar, menuju bukit Sandosi pun dilalui dengan sukacita. Sesekali para pemuda itu melantunkan nyayian, sekedar mengusir Lelah. Dari Desa Sandosi, perjalanan menanjak memakan waktu kurang lebih 30 menit untuk tiba di puncak. Sesekali rombongan pemuda itu berhenti menyeka peluh yang mengalir.
Puncak bukit Sandosi inipun menawarkan panorama yang sangat indah. Orang dengan mudah dapat menikmati eksotisme panorama enam buah gunung berapi dengan panorama pantai, dan selat yang membatasi tiga Pulau yakni pulau Adonara, Pulau Lembata dan Pulau Flores.
Dari puncak Bukit Sandosi ini, anda akan menikmati pemandangan indah yang ditampilkan oleh Gunung Ile Boleng yang terletak di Pulau Adonara, Gunung Ile Lewotolok di Pulai Lembata, Gunung Ile Labalekan di pulai Lembata, Gunung Ile Mandiri di pulau Flores.
Karena kemudahan memantau aktivitas enam buah gunung berapi secara visual, Pemerintah membangun sebuah pos pengamatan Gunung Berapi. Pos Pengamatan itupun memantau aktivitas enam buah Gunung berapi yang berada di tiga pulau yang hanya terpisah oleh Selat.
Puluhan pemuda dipimpin Romo Mikael Samun Beraona, Pastor Moderator Paroki St. Dominico Savio, Witihama dan Ustad Azam Putra Lewokeda, guru MTS Negeri 4 Flores Timurpun mulai mengakrabkan diri dengan hawa dingin yang mulai menusuk.
Jalanan menanjak diselimuti semak belukar, menuju bukit Sandosipun dilalui dengan sukacita. Sesekali para pemuda itu melantunkan nyayian, sekedar mengusir Lelah. Dari Desa Sandosi, perjalanan menanjak memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sesekali rombongan pemuda itu berhenti sejenak, menyeka peluh yang mengalir.
“Orang Muda Katholik (OMK) Witihama dan Remaja Masjid itu hendak menampilakan sesuatu yang saat ini kerap mengusik kehidupan beragama di Republik ini,” ujar Liliana Kwaelaga, Salah satu senior OMK St. Hermanus yang juga Sekretaris Desa Sandosi dan inisiator pagelaran malam keakraban antar pemuda lintas agama itu.
Perjalanan para pemuda dari komunitas kerohanian pemuda ini lebur dalam panorama senja yang menakjubkan. Bukit Sandosi yang terletak di ketinggian 569 MDPL itu, menyuguhkan pemadangan alam yang cantik memukau. Dari puncak Sandosi ini, orang dapat dengan leluasa menikmati keindahan enam puncak Gunung, yakni Puncak Gunung Ile Boleng di pulau Adonara, Puncak Gunung Ile Lewotolok di Pulau Lembata, Puncak gunung Ile Mandiri Di pulau Flores, Puncak gunung Labalekan di pulau Lembata, Nampak sangat megah di terpa kemilau senja bukit Sandosi. Sungguh keajaiban yang tak terlukiskan.
Tidak hanya jalan-jalan, menghabiskan waktu tanpa tujuan, kelompok pemuda ini melakukan kebiasaan keagamaan di puncak bukit yang sama.
Menjelang magrib, setelah para pemuda itu sampai di puncak Sandosi, Ustas Azam Putra Lewokeda, guru MTS Negeri 4 Flores Timur, memimpin 10 Remaja masjid untuk solat magrib berjamaah. Tempat solatpun digelar diatas panggung. Sedangkan puluhan Orang Muda Katolik, St Hermanus Lewokmie menyaksikan solat berjamaah itu.
Romo Mikael Samun Beraona, Pastor Moderator Paroki St. Dominico Savio, Witihama, usai Solat Magrib diberikan kesempatan untuk membuka pembicaraan.
“Ini kali pertama, saya Bersama Ustad berdiri satu panggung, berbicara tentang Agama kepada dua pemeluk agama berbed. Ini tugas bersama menentang intoleransi yang coba dipraktekan di daerah kita,” ujar Rm Sam, sapaan sang Pastor.
Sementara itu, Ustad Azam Putra Lewokeda mengatakan, momentum di puncak Sandosi adalah momentum sangat mengharukan.
“Ini kali pertama saya menghadiri acara keagamaan yang juga dihadiri oleh umat dari agama berbeda. Pada saat sujud, sangat mengharukan sebab kita tahu ada saudara-saudara lain yang mengelilingi kita,” ujar Ustad Azam.

Guru MTS Negeri 4 Flores Timur, Witihama itu menandaskan, momentum ini sebagai langkah awal bagi komunikasi lintas agama tanpa sekat yang membatasi komunikasi antar manusia.
“Kualitas keimanan seseorang tidak bias diukur dari sekat yang coba ditampilkan oleh Agama, tetapi oleh iman itu sendiri. Mari hilangkan sekat Keagamaan yang menghilangkan sekat antar manusia,” ujar Ustad Azam Putra Lewokeda.
Kegiatan altar toleransipun diakhiri dengan kurban Misa yang dipimpin oleh Romo Mikael Samun Beraona,Pr, Pastor Moderator Paroki St. Dominico Savio, Witihama, pada saat subuh menjelang matahari terbit.
Dalam kurban misa yang juga diikuti Ustad dan puluhan remaja masjid itu, Romo Sam, meminta agar seluruh pemuda di Indonesia mampu menjadi kelompok militant yang bersatu melawan praktek intoleransi.
hosea/sandro wangak
Foto : AndreKriting




Mantap kegiatan ini….patut dicontoh di wilayah lain di Indonesia.
Perbedaan dalam memeluk agama bukan membuat sekat antar umat tetapi menjadi jalan menuju toleransi dan menolak radikalisme.
salam hormat