Gema GELIS di Mater Inviolata

Pendekatan : dilakukan dengan pendekatan persuasif.

Sesekali ku mencoba secara bergilir menyambangi mereka dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Menyapa dari meja yang satu ke meja yang lainnya. Sesekali memberikan motivasi dan masukan juga sekedar membuka cakrawala berpikir mereka akan alur tulisan mereka yang mulai tertata dengan rapih dari paragraf pertama, kedua dan seterusnya. Dari bait pertama , kedua dan seterusnya. Sesekali putus logika dan ku segera memberikan tips bagaimana mengatasi putus logika.

Terlihat sesekali  suasana kusuk, sebuah pertanda tingkat keseriusan mendekati HOTS, ibarat bagaimana bapak/ ibu guru menyusul soal HOTS yang barusan viral di tahun pelajaran ini khusunya dikalangan Flores Timur.

Sungguh luar biasa geliat literasi mereka hari ini.

Setelah berjalan keliling mengitari kelompok mereka, tak lupa saya memberikan pesan moral bahwa suatu saat anda akan ketagihan menulis. Rasanya sakit bila satu hari pun anda absen menulis. Tiada hari tanpa menulis. Ketika anda sudah terbiasa menulis setiap hari tentang apa dan bagaimana itu juga tentunya berbau positip, tidak menulis hoax dan ujaran kebencian, maka percayalah dan yakinlah,  Literasi akan menjadi santapan yang paling lezat dan sulit untuk dilupakan. Akan mengiang dan melekat erat, tumbuh dan berkembang seiring perjalanan karir anda sebagai siswa untuk menuju jenjang yang lebih tinggi.

Sejauh pengamatan saya, masih boleh dibilang efektif dan efisien karena masing -masing kelompok memiliki guru pendamping dan juga hasil karya siswa dominan sangat baik dan mengikat hati. Rasanya ingin tak jauh dari mereka. Ingin selalu mendampingi mereka.

Sangat berkesan.

Sekian goresan singkat jemari ku hari ini diatas layar android bermerk Samsung J7. Semoga memberi inspirasi baru untuk selalu menulis dan menulis.

Kata founder Sagusaku, ibunda Nur Badriyah,

“Siapa yang banyak baca banyak tahu.

Siapa yang berliterasi berprestasi”.

Kata ibunda Yuli S’lalu Smart. Karya Literasi tidak selama nya untuk dibaca oleh orang lain, tetapi juga untuk dibaca sendiri.

Kata ibunda Diana Masdik, menulis itu untuk kesenangan.

Kata ibu Nancy Kein, menulis itu indah adik-adik. Ayo menulis…!!!

Kataku, Ketika Literasi menjadi santapan yang paling lezat, Sulit untuk dilepas pergikan bahkan tega dibiarkan berlalu begitu saja.

 

#SalamLiterasi

Kamsudin Ridwan

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *