suluhnusa.com_ Kepala Desa Fatunaus, Yohanes Obes, mengaku heran sekaligus kagum atas aksi blusukan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki.
Menurutnya, belum pernah ia melihat seorang bupati memanfaatkan waktu liburnya untuk bekerja bersama warga di kampung.
“Saya baru lihat seorang bupati datang tidur bersama rakyat di hutan dan padang. Dia tidak mau tidur di rumah warga. Makan dan minum bersama warga. Bernyanyi, berdoa dan bekerja menyiapkan anakan tanaman bersama warga,” kata Obes.
Menurut dia, aksi blusukan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, memberi inspirasi kepada dirinya tentang bekerja melayani tanpa pamrih dan terus bekerja menyukseskan Program Tanam Paksa dan Paksa Tanam.
Kepala Desa Bakuin, Petrus Banane, mengatakan, tahun 1975, warga Bakuin dipaksa pindah ke pesisir pantai oleh Pemerintah kabupaten Kupang.
“Kami dipaksa jadi nelayan. Padahal kami orang Atoin Meto, cuma bisa bekerja di ladang. Kami bukan suku pelaut. Nenek moyang kami mengajarkan kami mengolah lahan kering. Karena itu, kami disebut Atoin Meto atau orang dari tanah kering,” jelas Banane.
Warga merasa senang dan menyambut gembira Program Tanam Paksa dan Paksa Tanam yang digulirkan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki.
“Kami seperti menemukan kembali jiwa peladang dalam diri kami yang sebelumnya hilang. Kami seperti menemukan kembali habitat kami. Kami akan menanam di Kampung Bekuin Lama, daerah asal kami. Di sana masih ada kemiri, kelapa, pisang, kopi dan kakao. Kami dan warga akan menanam dan terus menanam,” kata Banane.
Selama tiga hari pada tanggal 1-3 Agustus 2014, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, tidur di Kawasan Hutan Amfoang di perbatasan Kampung Bekuin Lama di Desa Bekuin dan di Kampung Oelputih, Desa Fatunaus.
Di kawasan hutan ini, Bupati Titu Eki bersama ribuan warga dua desa menyiapkan anakan kemiri, kopi, kakao, mangga, sukun dan kelapa. Mereka beramai-ramai menggali tanah dan mencampurkan dengan pupuk organik lalu mengisi penuh koker atau polibag untuk ditanami anakan kemiri, kopi, kakao dan tanaman lainnya.
“Selama tiga hari tidur dan bekerja di hutan bersama warga, ada 6.400 koker berisikan anakan tanaman disemaikan. Rinciannya, 4.800 anakan tanaman di Kampung Oelputih dan 1.600 anakan tanaman di Kampung Bekuin Lama,” jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Sekretariat Daerah (Setda) Kupang, Stefanus Baha, suluhnusa.com Selasa, 5 Agustus 2014.
Titu Eki ini ditemani istrinya, Ny. Kristin Titu Eki, dan tiga orang anaknya. Ada beberapa Kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diantaranya Kabag Humas, Stefanus Baha, Kepala Kantor Badan Perbatasan Kabupaten Kupang, Johanis Masneno, Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, Arnold Saubaki, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Robert Amaheka, Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kupang, Kain Maus, dan Camat Amfoang Utara, Anderias Naisunis.
Baha menjelaskan, Kampung Oelputih di Desa Fatunaus dan Kampung Bekuin Lama di Desa Bekuin, ditetapkan sebagai desa contoh untuk menyukseskan Program Tanam Paksa dan Paksa Tanam di Kawasan Amfoang Daratan.
“Dengan cara ini, warga dari desa tetangga di Amfoang bisa belajar mencuri ilmu di Desa Bekuin dan Desa Fatunaus, bagaimana menyiapkan anakan pohon untuk ditanam di lahannya,” jelas Baha.
Dalam kesempatan blusukan selama tiga hari, Bupati Titu Eki, mengimbau warga rajin menanami lahan tidur milik mereka dengan aneka tanaman produktif.
“Jalan poros tengah melintasi puluhan desa di Amfoang Daratan, pelabuhan di Naikliu akan disinggahi Kapal Motor Timau karena sudah dibangun dermaga. Karena itu, warga harus memanfaatkan saranan dan prasana tranportasi untuk mengirim keluar hasil bumi ke kota-kota besar. Hasil bumi itu berupa kopi, kakao, kelapa, mangga, pisang, jeruk, apel dan sebagainya. Karena itu warga diwajibkan menanam,” kata Baha, mengutip penjelasan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, kepada warga saat itu. (goristakene/saymilano)
