Jagalah Hati dan Pikiran hanya Untuk Tuhan

suluhnusa.com_Banyak cara menjawabi panggilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya sebagai pekerja yang baik.

Tentunya, setiap pekerja mempunyai cara yang berbeda dalam bekerja tersebut. Dan juga tak banyak jalan yang dapat ditempuh oleh setiap pencari jawaban.

Rabu, 2 Juli 2014, tepat pukul 09.00 wita bertempat di halaman provinsialat SSpS Timor, Keuskupan Atambua, dengan berpakaian biara biru tua dan putih dan disamping kanan dada ditempeli bunga bagi ke 18 suster yang berbahagia yaitu 6 suster berkaul kekal yakni Sr. Angela Tenis, SSpS. Sr. Oktaviana Theresia Mau Koy, SSpS. Sr. Adelfina Lelbanu, SSpS. Sr. Maksiana Maria Imakulata Ola, SSpS. Sr. Yenita Merensiana Luruk, SSpS. Sr. Agnes Diaz, SSpS.

Lalu, 6 suster berkaul pertama yakni Sr. Maria Yohana Naif, SSpS. Sr. Oktaria Berek, SSpS. Sr. Elisabet F. Koli Nanga, SSpS. Sr. Maria Goreti Pinga, SSpS. Sr. Maria Adelfina Na’at, SSpS. Sr. Rosdiana Mooy, SSpS. Lalu, 3 suster berkaul perak yakni Sr. Elisabeth Agatha Tin Gerans, SSpS. Sr. Hendrina Maria Balok Tetik, SSpS. Sr. Helma Kristina Aquilina Nahak, SSpS.

Selain itu,  2 suster berkaul pancawindu yakni Sr. Hildegunde Aquilina Taus Tasaeb, SSpS. Sr. Theresia Paulina Bete, SSpS. Dan terakhir, 1 suster berkaul emas yakni Sr. Margaretha Afra Abuk, SSpS.

Barisan umat bersama para suster lainnya ditemani ajuda pembawa lilin dan salib serta penari likurai berarak menuju gereja Katedral.

Di belakang ajuda pembawa lilin dan salib, terdapat barisan para suster yang akan menerima kaul kekal, kaul pertama, kaul perak, kaul pancawindu dan kaul emas dalam hidup membiara, diapit ayah ibunya masing-masing dengan berpakaian adat.

Sedangkan di bagian belakang, dipadati barisan suster dan sebagian umat. Di depan gereja Katedral, tampak barisan para imam, vikjen dan uskup emeritus Anton Pain Ratu menanti peserta. Lonceng gereja dibunyikan. Komentator mengajak koor dan umat siap menerima barisan peserta.

Setelah berada di dalam gereja, ajuda pembawa lilin dan salib kembali memimpin dan mengarak peserta ke altar Tuhan untuk memulai perayaan ekaristi. Satu per satu imam, vikjen dan uskup menaiki dan menciumi altar Tuhan sebagai lambang kebesaran. Konselebran dipimpin oleh Vikaris Jendral Keuskupan Atambua, RD. Dr. Theodorus Asa Siri serta ditemani Romo Dekanat Kefamenanu dan Romo Dekanat Belu Utara.

Sedangkan uskup emeritus Anton Pain Ratu bersama imam lainnya di balkon belakang dengan tetap bersama mengadakan ekaristi.

Vikjen KA Theodorus, demikian dipanggil, dalam pengantarnya menyatakan, Tuhan telah menyediakan tempat tersendiri bagi pengikut-pengikutNya untuk bekerja di ladangNya.

Orangtua menumpangkan tangannya kepada anaknya yang berkaul pertama di gereja Katedral Atambua (foto: felixali)
Orangtua menumpangkan tangannya kepada anaknya yang berkaul pertama di gereja Katedral Atambua (foto: felixali)

Untuk itu, setiap pekerja tentunya mempunyai ladang tersendiri. Dan ketika sudah diberikan pekerjaan oleh Tuhan selaku pimpinan, terima dan kerjakan dengan sepenuh hati. Jagalah hati dan pikiran, agar dapat bekerja dengan baik. jika tidak, akan menemui kendala dalam bekerja.

Perayaan kaul kekal, kaul pertama, kaul perak, kaul pancawindu dan kaul emas dalam hidup membiara dengan mengambil tema, “Tuhan, Engkau Tahu Segala Sesuatu. Aku Mengasihi Engkau” yang diambil dari injil Yohanes 21: 17b itu dimeriahkan oleh koor Abdi Praja serta diperkuat umat yang telah memadati gedung gereja dan tenda yang terpasang.

Dalam homilinya, Vikjen Theodorus kembali mengatakan, “Hari ini para jubilaris akan membuat pernyataan  dengan jelas untuk hidup bakti sebagai biarawati.

an tentunya mereka akan mendeklarasikan cinta Tuhan terhadap umat yang akan dilayaninya. Dalam deklarasi cinta tersebut, mereka akan ditantang dengan pertanyaan klasik bahwa untuk siapa anda akan berjalan? Untuk siapa anda mendeklarasikan cinta hari ini?

Bagi mereka yang tidak berkomitmen dalam mendeklarasikan cinta, tentunya akan menemui kesulitan atau gugur di jalan. Nah, bagi anda yang berbahagia hari ini, tentunya perlu menyimak 3 gelar berikut ini yakni gelar sarjana kehidupan, gelar master kehidupan dan gelar beristirahat dalam Allah sebagai SSpS atau gelar RIP.

Dalam bekerja dengan Allah sebaiknya jangan buat hitung-hitungan. Karena Allah sudah begitu baik dengan kita terutama anda. Karena dengan demikian, dengan cinta suci murni anda telah mendeklarasikan cinta dengan bermandikan darah dan airmata,” tutupnya di akhir homili disertai tepukan tangan meriah. (felixianus ali)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *