suluhnusa.com_Albertina Clotili Parera (70) ditemui di kediamannya Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengeluhkan tentang kondisi anaknya yang hingga kini tidak bersekolah.
Dirinya selaku orangtua angkat bagi Antoni, menilai bahwa Pemda Belu harus mendekatkan dan membangun gedung sekolah yang berada di tempatnya, agar anak anak di desa itu boleh mengambil bagian pendidikan.
Karena baginya, pendidikan di zaman saat ini sangatlah dibutuhkan.
“Saya mendesak Pemda Belu agar segera membangun gedung sekolah di sini. Karena banyak anak anak di sini yang tidak sekolah karena tidak ada biaya dan juga sekolah yang ada sebelumnya jaraknya terlalu jauh, sehingga menyulitkan anak anak untuk ke sekolah,” katanya dengan dialek tetum portugis.
Hal yang sama pun dialami oleh Mikael Eduk, Kepala Sekolah SDI Fatubesi. Yang mana, akibat dari tidak adanya jembatan penyeberangan di tengah kali, akhirnya membuat banyak anak didiknya tidak bersekolah atau putus sekolah.
“Kami sudah melapor ke Dinas PU Belu agar segera dibangun jembatan di empat titik yakni di Hasmetan, Takirin,Wemerak dan Baukama. Empat titik itu harus segera dibuat jembatan agar kami tidak kesulitan. Biasanya musim hujan dan banjir, banyak anak anak tidak ke sekolah. Begitu pun dengan guru,” ucapnya polos. (felixianus ali)
