suluhnusa.com_Dengan raihan suara mencapai 132.887 langkah Gede Pasek Suardika (GPS) politisi Partai Demokrat yang maju dalam pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI semakin lapang untuk kembali berkiprah di senayan.
Meski telah dipecat dan dizalimi di partainya, namun Pasek tidak patah semangat untuk terus berkiprah memperjuangkan aspirasi masyarakat dan daerah. Di tengah terpaaan politik di Jakarta, dia tetap bekerja tidak terganggu manuver politik lawan dan kawan, tetap mengikuti rapat-rapat fraksi, paripurna maupu badan-badan di parlemen.
Di saat-saat terakhir menjalang kampanye, Pasek tetap rajin ngantor dan praktis persiapannya maju ke DPD hanya berjalan singkat, ” Saya turun agak terlambat, tidak kurang dari dua bulan,” katanya kepada wartawan Selasa (22/4/2014).
Di akhir pekan, dia baru sempat pulang ke Bali untuk menggarap konstituen menemuai masyarakat lewat tatap muka atau mesimakrama. “Masyarakat pemilih sekarang, lebih melihat calon wakil mereka bukan semata figur namun karena kinerjanya selama ini,”tuturnya.
Jadi, kampanye yang dilakukan sifatnya sesaat itu, tidak akan efektif dalam melihat figur. Kinerja seorang calon pemimpin atau wakil rakyat itulah yang dinilai dan menentukan ketimbang pengumpulan massa.
Karena itulah, dia memantapkan niat maju DPD, meskipun tanpa dukunganb Ketua Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta.
Yang penting, dia sudah mengantongi restu Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhiyono (SBY) yang dianggap sebagai guru oleh mantan jurnalis itu.
Berkiprah lewat partai jakur DPR ataupun di DPD kata Pasek, merupakan pilihan politik untuk mengabdikan diri kepada rakyat dan daerah.
Tidak hanya restu SBY, yang membuatnya semakin yakin di jalur DPD, juga berkat doa sahabatnya yang mantan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. “Saya terakhir ketemu beliau di dalam (rutan), mendukung maju DPD dan mendoakan agar saya sukses,” ucap mantan Ketua Komisi III DPR RI.
Sembari berseloroh, kata dia, dalam idiom Bali doa Anas sebagai orang yang “teraniaya”, sangat manjur atau “sidi mandi”. Sokongan moral Anas, cukup menguatkan tekat dan semangat Pasek untuk berkiprah di DPD.
Akhirnya, dalam waktu singkat pula, Pasek mengerahkan mesin politiknya untuk meraup dukungan. “Mesin politik saya, ya sahabat-sahabat, saudara, kolega, teman-teman sekolah, teman bermain di berbagai tempat, lembaga dan organisasi,” jelasnya.
Walhasil, berkat dukungan Sahabat GPS itulah, Pasek mendapat suara signifikan dari 41 figur kuat calon DPD lainnya di Bali.
Diakui Pasek, modal politik dan dukungan saja, tidak cukup untuk merebut simpati pemilih. Dia membuktikan sendiri, karena tidak mungkin bisa bekerja atau jalan tanpa dukungan finansial memadai.
Iapun buka-bukaan urusan modal uang untuk pencalonannya di DPD, karena itu juga sesuai yang dilaporkan oleh tim suksesnya ke lembaga berwenang.
“Paling banyak dana tersedot untuk pengadaan berbagai atribut seperti kartu nama, baju kaos, spanduik, baliho hingga perlatan dan sarana yang bermanfaat untuk masyarakat bersembayang seperti dupa hingga tasbih,” tukasnya.
Lantas, berapa dana yang dia habiskan untuk pencalonan DPD? Pasek mengaku, dia sendiri sudah memasang batas limit biaya kampanye tidak lebih dari Rp1 Miliar.
“Ya kira-kira habis Rp750 juta an lah, ” akunya.
Kini, Pasek hanya bisa berharap dan berdoa, agar langkahnya berkiprah di DPD mendapat dukungan masyarakat dan diberkati Ida Sang Hyang Widi Wasa sesuai keyakinan HIndu yang dipeluknya.
Jika, benar-benar lolos, sesuai hasil rapat pleno KPU Provinsi Bali yang akan digelar Rabu 23 April 2014, Pasek akhirnya pindah kantor dari Gedung Nusantara I ke Gedung Nusantara V.
“Saya ingin berharap jika bisa berkiprah di DPD, ingin melakukan penguatan lembaga DPD sesuai fungsi dan tugasnya, agar bisa lebih kuat lagi dibanding sekarang, dalam menyuarakan aspirasi daerah,” tutup suami dari Evie Lestari Andajani itu.
Ini pesan Arajaya
Sementara itu Made Arjaya politisi PDI Perjuangan yang memiliki perolehan suara cukup signifikan dalam pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI akhirnya legowo menerima kekalahan seraya meminta masyarakat mendukung empat calon DPD yang lolos ke senayan.
Menurutnya, empat figur putra daerah Bali itu merupajan cerminan dari struktur dan karakter keinginan masyarakat Bali. Keterwakilan karakter, kemampuan dan keinginan masyarakat Bali, dicerminkan oleh keempat calon DPD yang lolos pada pemilu 9 April 2014.
“Yang terpilih, nanti, diharapkan bisa menyuarakan kepentingan masyarakat dan daerah di pusat. Sekurang-kurangnya masyarakat Bali harus menghargai atas apa yang telah menjadi pilihan mereka,” aku Arjaya ditemui usai menghadiri Rapat Pleno KPU Bali di Hotel Goodway, Nusa Dua, Rabu (23/4/2014).
Dia meminta masyarakat, jangan sampai ada bahasa tidak suka, tidak didukung, karena hasil pemilu itu merupakan pilihan terbaik mereka.
Disinggung soal, langkahnya yang harus terpental meskipun perolehan suaranya cukup tinggi, Arjaya menyatakan, sebenaranya hasil itu sudah sesuai target bahkan melebihi.
“Target saya bisa meraih 75 ribu suara, hitungan saya sudah diatas 86 ribu, kalau target sebenarnya sudah diatas,” kata anggota DPRD Bali itu.
Dia lantas memberikan analisa dan logika kalkulasi politik dengan perolehan suara 75 ribu, sebenarnya modal cukup kuat untuk lolos di senayan.
Hanya saja, dia menilai tidak semua caleg bekerja optimal. Seharusnya jika semua caleg bekerja maksimal akan ada pemerataan suara yang lebih optimal
“75 ribu suara hitungan kita masuk,” kata politisi asal Sanur Denpasar Selatan.
Sayangnya, dari 40 calon DPD tidak semua bekerja maksimal, ada yang sekedar mencalonkan diri atau sekedar ikut-ikutan sehingga suara pecah.
Jika 40 calon DPD bekerja bekerja maksimal, dengan melihat DPT yang ada maka Arjaya melihat dengan raihan suara 75 ribu, sudah bisa lolos.
“Target sudah melebihi, karena kita berhitung di Bali, kita independen, kita bergantung pada suara diinginkan,” tegasnya.
Selain itu, dia menyadari ada kekuatan lain yang tidak didapatkanya, yakni dukungan partai. Pasalnya, sebelum pencoblosan sudah ada intsruksi partai untuk memilh tokoh gaek PDIP Anak Agung Oka Ratmadi yang juga maju dalam DPD.
“Mau tidak mau kita harus mengakui, kekuasaan masih berpengaruh. Ya empat yang terpilih itu mencerminkan masyarakat Bali. Ada yang memilih karena masih mau dipaksa-paksa, ada yang karena melihat keterkenalan saja, tetapi apapun pilihan masyarakat harus dihargai,” tanda Ketua Komisi I Fraksi PDIP DPRD Bali itu. (sandrowangak)
