Umat Stasi Teun: Bapa Uskup, Tolong Bantu Kami

suluhnusa.com_ Tetapi alangkah indahnya, Gedung gereja tempatberdoa lebih layak dari pada sekedar bangunan berdinding bebak.

Tantangan terberat dalam berkarya adalah memanusiakan manusia, bukan mendirikan bangunan gedung yang mewah Sungguh indah juga, jika manusia yang turut memikul tantangan itu mau dan rela menderita dalam karya memanusiakan manusia.

Sebab, tidak semua manusia bersedia menjadi pelita bagi yang lainnya. Sangat janggal jika memanusiakan manusia harus dicambuk, layaknya ternak.

Demikian disampaikan RD. Kornelius Salem, Minggu 23 Maret 2014 saat memimpin perayaan ekaristi pra paskah III di Kapela Stasi Santu Pius Teun, Paroki Santa Maria Fatima Nurobo, Keuskupan Atambua, Kabupaten Belu.

Perayaan misa itu tidak leboh dari perayaan pada minggu sebelumnya. Tetapi luar biasa, sebab iman umat akan Kristus terus bergema walau bangunan Gereja mereka tak layak disebut gereja.

Sebab kondisi bangunan Kapela Stasi Santu Pius Teun yang terbuat dari dinding bebak itu, ternyata sudah tidak layak dipakai lagi. Tetapi karena semangat pelayanan dan cinta akan Tuhan, maka dalam kondisi apa pun umat bersama Gembalanya tetap mendaraskan iman dalam kekuatan doa.

“Nilai yang ditampilkan dalam bacaan tadi adalah kepedulian kristiani. Kita perlu meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap banyak orang. Kita perlu belajar untuk saling peduli terhadap sesama. Kita harus bisa mengajak orang untuk mau bekerja, supaya orang itu boleh menikmati kehidupan. Jangan sampai kita kalah dengan orang lain. Kita semua diminta untuk meningkatkan kepedulian, sehingga boleh bersama menikmati apa itu memanusiakan manusia. Tetapi hati hati dengan kata peduli. Karena peduli bukan berarti ikut campur ke dalam urusan pribadi orang. Perlu membedakan,” pinta RD. Kornelis Salem dalam homilinya.

Usai perayaan, kepada suluhnusa.com, beberapa umat, yang diketahui bernama Manek, Rista dan Manuel mewakili umat yang lain, mengungkapkan keprihatinan mereka tentang kondisi bangunan Kapela Stasi Santu Pius Teun yang tidak layak dipakai lagi itu, seharusnya sudah mendapat perhatian dari pihak Keuskupan.

Namun, hingga saat ini pihak Keuskupan belum mau memberikan bantuan untuk memperbaikinya.

“Kami sebagai umat sangat membutuhkan bantuan dari Keuskupan Atambua, sehingga Kapela kami boleh diperbaiki. Mau mengharapkan kami tentunya tidak bisa. Karena pendapatan kami di bawah rata rata. Pekerjaan kami sebagai petani. Musim tanam pun tidak selalu baik, dari mana kami mau mendapatkan uang untuk membangun gereja ??Bapa uskup tolong bantu kami” sindir ketiganya dengan nada dan ekspresi kecewa.

suluhnusa.com yang juga mengikuti misa di gereja tersebut, melihat kondisi gereja tersebut benar-benar memprihatinkan. Dikelilingi dinding bebak yang sudah keropos dengan beberapa bagian sudah berlubang. Berlantai tanah. 

Bahkan altar tempat Pastor menghatur persembahan juga hanya di tutupi dengan bebak yang sudah tak layak lagi. Kondisi tentu butuh perhatian pihak Keuskupan Atambua, gereja sebagai tempat pembinaan iman umat mesti dibangun dengan layak. (felixianusali)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *