Longgi Lega Beberkan Fakta Mengejutkan Soal Harga BBM di Lembata, Begini Tanggapan BPH Migas

LEMBATA, SULUH NUSA – Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lembata, Longginus Lega membeberkan fakta kehadiran Pertamini ilegal dan mahalnya harga jual BBM dari SPBU ke pengecer.

Dalam forum sosialisasi dari BPH Migas di Aula Kantor Bupati, Lega mengungkapkan dari hasil penelusurannya, saat ini terdapat 26 Pertamini di Lembata. Sebanyak 21 Pertamini ada di dalam Kota Lewoleba.

Lega menyebutkan, para pengusaha Pertamini ini setiap hari menerima sekitar 200-400 liter BBM langsung dari SPBU.

Hal ini menyalahi aturan karena, menurut Longginus, SPBU itu memberikan pelayanan BBM kepada konsumen terakhir, bukan kepada pengusaha untuk dijual lagi.

Dia juga menemukan adanya selisih harga jual yang cukup signifikan dari SPBU ke Pertamini.

“SPBU menjual BBM jenis Pertalite kepada pengusaha Pertamini dengan harga Rp 12 ribu per liter. Maka tidak heran kalau konsumen membeli BBM lebih mahal di Pertamini, bisa mencapai Rp 16-17 ribu per liter. Pertamax seharusnya Rp 13.300 dijual ke Pertamini 14.500. Otomatis harga BBM di masyarakat melonjak. Pelakunya persis ada di hadapan kita. Tapi sesuai regulasi kami (pemda) tidak bisa lakukan penindakan,” ujar Longginus.



Komite BPH Migas, Abdul Halim, menegaskan, pihaknya  menurunkan tim guna menyelidiki dan mengurai benang kusut persoalan distribusi BBM di Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Sudah puluhan tahun, antrian BBM di Lembata menjadi pemandangan rutin. Pihak SPBU nekat menjual BBM kepada pengecer dengan harga yang ditetapkan sendiri. Akibatnya, pengecer BBM menjamur seperti cendawan di musim hujan, harga eceran BBM subsidi dan non subsidi pun melangit.

Tak hanya itu, kuota harian BBM Lembata juga tidak semuanya diangkut dengan armada angkut yang layak. Padahal, distributor BBM Lembata, PT Hikam sendiri telah menyediakan kapal tangker, 9 Pilar. Namun anehnya,  kapal tersebut tidak beroperasi.

Akibatnya, warga Lembata sudah terbiasa membeli BBM eceran dengan harga mahal, dibanding harus menghabiskan waktu berjam-jam mengantri di SPBU.

Penjabat Bupati, Marsianus Jawa berkali kali menyitir pernyataan, ada mafia migas yang menyusahkan masyarakat memperoleh BBM di Lembata. Tujannya untuk memperkaya diri sendiri.



“Kami tidak serta merta menerima laporan, terus gegabah menetapkan salah dan benar. Kami bawa tim, dari Kepolisian ada, ada PPNS, kami lagi gerilya di lapangan mencari bukti dan fakta, betul gak laporan itu. Kalau betul, akan ditindak sesuai dengan peraturan yang ada,” ungkap Ketua komite BPH Migas, Abdul Halim kepada pers di Lembata, kemarin.

Kehadiran tim lengkap BPH Migas di Lembata, atas undangan Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa yang gerah dengan persoalan BBM yang terus menghantui Lembata puluhan tahun belakangan.

“Tentunya sanksinya pasti ada. Mana BBM nya, dari mana dapatnya, kemana larinya, dijual berapa, itu nanti kita telisik semuanya. Nanti kalau diserahkan ke Kejaksaan kita udah punya bukti konkrit. Ketika penetapan tersangka, bukti sudah diambil semuanya,” ungkap Ketua Komite BPH Migas, Abdul Halim.

Pihaknya tidak mau lagi menghimbau masyarakat tidak boleh menjadi pelangsir, kita akan terapkan CCTV, jadi kalau pelangsir akan ketahuan orang-orang ini saja.

Kita akan koordinasi dengan kepolisian setempat bahwa ini ada potensi penyalahgunaan, kepolisian yang punya wewenang untuk melidik. Disinyalir, persoalan akut BBM di Lambata telah merugikan keuangan  Negara.

“Jadi BBM yang dijual itu ada pajak, PPN 11 %. Ada juga pajak daerahnya, namanya PBBKB,5-10 %. Ada juga iuran BBH, begitu dijual ke customer end customer itu sifatnya sudah final. Kalau komponen ini tidak ada, artinya pusat juga kehilangan, daerah juga kehilangan,” ungkap Abdul Halim.

“Oleh karena itu, kami cari tau dulu, jaringannya dimana ini. Intelkam dari pusat hadir saat ini. Jadi akan dicari, kemana barang-barang ini, siapa yang bermain disini. Insyaallah kalau ketemu, Kita lakukan pembinaan dulu, kepada masyarakat, karena subsidi itu harus tepat sasaran, tepat volumenya,” ungkap Abdul Halim.



Sementara itu, Ketua DPRD Lembata, Petrus Gero berharap kehadiran BPH Migas dapat mengatasi masalah BBM di Lembata yang sudah puluhan tahun. “Saya harap masalah BBM dapat diatasi dan Lembata bisa merayakan kemerdekaan dari belenggu,” ungkap Gero.

Sementara itu, Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa meminta semua pihak pihak termasuk para pengusaha SPBU untuk bekerja dengan jujur.

Menurut Marsianus, kondisi Lembata yang mengalami kesulitan BBM dan antrian yang panjang selama puluhan tahun karena semua pihak bekerja tidak jujur, untuk itu baik pengusaha dan pemerintah harus jujur bekerja agar persoalan BBM di Lembata dapat diselesaikan. +++hosea/sandrowangak

2 Comments

  1. Masalah BBM Di lembata sdsh berlangsung lama…antrian kendaraan sdah jadi pemandangan tetap….saran cba penelusuran di spbu kayaknya ada indikasi penyalah gunaan Bbm di jual kepada penimbun BBM Sehingga masyarakat saat mau mengisi Stok Habis…ini sdah berlangsung lama …agar segera di tiap SPBU Di pasang CCTV Agar bsa memantau kegiatan ilegal yang berlangsung…

  2. Bagimna pihak yang berwajib menindak tegas pengecer..kok mereka juga bermain bbm

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *