SULUH NUSA, SOLOR – Sebelum akhir bulan April ,BSM mengadakan Ngopi Puisi 10 di Solor. Dan di tanggal 30 April kami pun berangkat ke Solor untuk melakukan kegiatan kami .
Pagi-pagi sekali aku bangun.Mempersiapkan apa yang mau di bawahkan . Setibanya di pelabuhan Larantuka sekitar jam 8.30 kapal dari Larantuka ke Solor pun lepas janggkar.
.Disinipun cerita ku di mulai tentang Solor. Sekitar 1 jam kami dalam perjalanan dan aku merasah wow karena baru pertamakalinya tiba di Solor . Setelah tiba di lokasi,kami di kejutkan dengan sepasang lumba-lumba yang bermain di perairan Solor.Kami di sambut hangat oleh orang-orang Solor khususnya Abang Edo yang punya Rumah Hanasta dan keluarganya. Istirahat beberapa menit ,kami di ajak oleh Abang Edo untuk makan siang.
Sorenya BSM bersama Abang Edo,Kaka Vera Korohama dan putri kecilnya Oa Nata berjalan-jalan melihat pohon Cendana yang masih sisa .Pohon tersebut sangat langka karena direnggut oleh penjajah maupun masyarakatnya sendiri.
Dibawah Sunset yang indah menghiasi cakrawala , acara Ngopi Puisi 10 pun di mulai. Acara yang dilaksanakan di Rumah Hanasta dan di hadiri oleh Ka Dimas dari Bandung (Voice now), Ka Vera (Rajutan Oa),ka Monik (voice now),Pak Dion dari Teras Baca Ile Napo bersama anak didiknya , Abang Edo pemilik Rumah Hanasta dan masih beberapa lagi.
Acaran di mulai dari baca puisi”Arti Kemerdekaan Kampung Ku(karya Susanto)”oleh Bintang Lamatokan, duet nyanyi “Jaga Cinta–Ekstrata Band”oleh Edel Hurit dan Enny Papang ,
Pemberian buku dari Pak Dion (Teras Baca Ile Napo) kepada Lastri Lein dengan memberikan pertanyaan yang harus dijawab oleh Pak Dion. Kemudian dilanjutkan degan ” bahas karya Ka Afryanto Kehin “oleh Abang Edo dan Pak Mohamad Zaeni Bolli.
Ka Afryanto Kehin merupakan putra Solor yang karyanya masuk di Makassar Internasional Writers Festival (MIWF).
Setelah tiga acara di lalui, kami pun break untuk beberapa waktu karena buka puasa bagi yang muslim khususnya pak Zaeni Bolli.
Thirty minutes later, acara pun dilanjutkan.Acara tersebut merupakan acara utama BSM yakni “Wangi Cendana Yang Hilang Di Pulau Solor”.Karya ini dibuat lewat imajinasi pak Zaeni Bolli yang merupakan penyair sekaligus pembina BSM.
Kegelisahan-kegelisahan yang cukup mendalam terhadap pulau Solor dan akhirnya karya tersebut di gelarkan.
Setelah teater tersebut selesai di pertunjukan,di lanjutkan dengan sesi masukan-masukan atau komentar dari para penonton yakni Kaka Monik, Kaka Dimas, Abang Edo,Pak Zaeni Bolli, Lastri Lein , Bintang Lamatokan, Kaka Vera Korohama dan Pak Dion .
Setelah drama ini di pentaskan , dilanjutkan dengan “sosialisasi kekerasan terhadap anak dan perubahan iklim”oleh Kaka Dimas dari Bandung (voice now) dan Kaka Monik(voice now).
Lika- liku perjalanan hidup cukup banyak khususnya pada anak-anak.Kekerasan terjadi di mana-mana, pelecehan seksual, pembunuhan dan masih banyak lainnya yang memicu pada anak-anak.Bentak lebih sakit daripada cubit dan kata BODOH bisa membunuh kreativitas anak,itu yang disampaikan oleh Abang Edo . Lain lagi perubahan iklim yang semakin hari semakin meningkat.Penebangan pohon yang tak terkendalikan, efek rumah kaca,asap kendaraan bermotor, banjir, tanah longsor dan pembuangan sampah sembarang merupakan keadaan yang sangat fatal bagi jangan sampai virus-virus orang-orang luar kota Flores masuk ke Flores karena di Bandung saya melihat bintang harus naik di atas gunung (kata Kaka Dimas).
Selain itu ,ada juga membahas tentang program voice now (Anak muda bersuara). Mengangkat forum-forum anak muda, bagaimana kita mendapatkan suara dari anak-anak muda tentang perubahan iklim.
Dalam acara Ngopi Puisi 10,ka Dimas dengan ka Monik mensosialisasikan tentang apa yang terjadi pada perubahan iklim dan kekerasan terhadap anak.
Malam yang bermakna ,kami diberitahu oleh kaka Fian Kroon tentang makna Solor dalam bahasa Portugis yang di kemukakan oleh Marianus Kleden yakni “Sol O Riens”yang artinya “Matahari terbit di titik timur pulau Solor”.
Ditambah lagi dengan”Orang Solor Tunduk Tapi Tanduk”(Kaka Fian Kroon). Makna dari kalimat tersebut masih tanda tanya bagi ku.
Semua acara pun selesai . Dilanjutkan dengan makan malam.Setelah dinner, malam pun semakin larut .
Hanya terdengar deburan ombak yang menari-nari di tepi pantai.Suara hewan-hewan malam pun semakin bergejolak.Angin malam yang semakin dingin , menembus ke seluruh tubuh. Dibawah rembulan yang indah ,kami anggota BSM bersama pembina melakukan pemilihan ketua dan badan-badan pengurusnya yang telah direncanakan sebelumnya.Semua di sepakati bersama dan masing-masing mendapatkan bagian .
Mentari pagi yang bersinar terang ,kami berangkat mengunjungi gua kelelawar. Sebelum berangkat kami harus mandi tapi sayang apa yang kami dapat? Pulau Solor indah akan kekayaan alamnya tapi tidak dengan airnya.Ku harap pemerintahan segera mengetahui hal itu. Kami terpaksa mandi dengan air yang hanya lima liter per orang .Aduhhh betapa sedihnya kami tapi mau tidak mau harus di jalankan karena keadaan sudah memutuskan.
Setibanya di gua kelelawar,kami sangat takut karena terlalu gelap.Banyak sekali kelelawar yang bergantungan.
Didalam gua ada juga jalan .Kata Abang Edo ,itu jalan sampai di sekolah SD yang ada di desa tersebut.
Tetapi kami tidak mencoba berjalan menyusuri jalan tersebut karena terlalu gelap.
Dari gua kelelawar ,kami siap-siap pulang ke Larantuka.Yang pergi pasti akan kembali, BSM kembali ke Larantuka dengan banyak kesediaan.Meninggalkan banyak kenangan. Dan mendapat juga banyak ilmu yang berkaitan dengan dunia kesenian.
Tak mudah untuk melupakan kenangan yang telah ada dan jangan kira saya lupa dengan semua kenangan itu.Ku harap kalian juga merasakan hal yang sama.
Terimakasih karena telah memperlakukan kami dengan baik ,saya akan simpan semua kenangan tentang kalian selamat tinggal Solor. Kami akan selalu merindukan kalian .See you next time.
Dan ceritaku pun selesai .Dan siap buka lembaran baru .
The End.



