Yes, I am a dongeng

Home » Berita » Catatan » Yes, I am a dongeng

suluhnusa.com_Ketika Amber Kabelen, salah seorang Guru di Kampung Udik sana, mengirim naskah ke email saya tentang lomba dongeng menjadi salah satu agenda Festival Sastra pada Temu Sastrawan NTT 2 di Ende, nyaris saya tidak percaya.

Ketidakpercayaan saya tidak langsung saya sampaikan kepada Amber. Alasannya, selain saya ingin mendapat berita dan informasi yang obyektif. Juga saya tidak ingin meluluhka semangat amber dala menulis. sebab, terkadang para pemula sensitive terhadap hal hal demikian. ketidakpercyaan itu.

Saya alu menelpon beberapa teman saya di Ende sana. Dua orang wartawan. Dan satu lagi teman penulis yang juga ikut dalam temu sastra itu. Dan benar. Mendongeng masuk dalam festival sastra itu. Saya sumringah. Sebab rasanya belum lengkap sebuah festival sastra digelar tanpa mendongeng. Dongeng, menurut saya adalah sastra turun temurun. Dongeng itu nenek moyangnya Sastra.

Dari Dongeng menjadi pintu masuk para sastrawan memulai kreativitas dalam berkarya sastra. Entah itu sastra apapun. Puisi. Cerpen. Esay. Dan lain lain, berawal dari dongeng.

Dongeng untuk zaman sekarang dianggap sebagao sastra picisan. Sastra orang kampung. Sastra orang udik yang kampungan.

Akan tetapi ingatlah, Ninuk Kleden-Probonegoro dalam “Pengalihan Wacana: Lisan ke Tulisan” peralihan cara penyampaian cerita dari lisan ke dalam bentuk tulisan (terbitan) disebabkan oleh pergeseran minat pada diri generasi muda dari budaya mendengar kepada budaya membaca, sebagai dampak dari hilangnya buta-aksara. Inilah dongeng.

Ninuk Kleden paham benar, manfaat dongeng. Banyak generasi terbantu buta-aksara dari mendengarkan dongeng. Pun banyak generasi memiliki pikiran yang kreatif ketika dia dewasa sebab dahulu ketika masih anak anak sering sering diceritaka dongeng. sebab itu, dongeng adalah karya sastra yang mampu membuat generasi berpikir kreatif.

Tahukah, karya sastra lahir dari sebuah hasil atau bentuk kegiatan kreatif yang bersifat indah dan mempunyai nilai. Dan salah satu pembacanya yaitu anak-anak, karya sastra untuk anak-anak bisa disebut dengan sastra anak.

Sastra anak di sini bukanlah karya sastra tentang anak-anak melainkan sastra untuk anak-anak. Memiliki karakteristik, fungsi, dan jenis tersendiri yang dinilai cocok untuk anak-anak. Biasanya sastra anak mempunyai manfaat untuk pengembang daya pikir seorang anak. Sastra anak juga mempunyai tingkatan, dimana tingkatan tersebut dilihat dari umur anak tersebut. Dan di sinilah dongeng ditempatkan.

Sastra anak yang mengadung nilai-nilai didalamnya yakni nilai estetika dan nilai moral. Dengan begitu dapat dimanfaatkan untuk pengajaran. Karena pada umumnya anak-anak senang membaca karya sastra, maka apabila karya sastra dijadikan bahan ajar bahasa, mereka diharpakan akan senang belajar bahasa.

Demikian juga apabila karya sastra dijadikan bahan ajar mata pelajaran lain, misalnya ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Pengajaran tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan membacakan dongeng.

Dongeng yang merupakan sebuah cerita, baik cerita itu nyata maupun khayalan, dan biasanya dongeng di dalamnya mengandung petuah-petuah. Dan petuah-petuah tersebut baik diajarkan untuk  anak, Disamping itu dongeng bisa membuat anak merasa senang dan juga nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng, yaitu nilai keindahan dan nilai moral akan meresap dan berkembang dalam diri anak secara alami.

 Dalam kebudayaan nenek moyangnya para sastrawan, dongeng lahir dalam tradisi lisan. Membudaya. Tumbuh bermasyarakat yang belum mengenal tulisan.

Meskipun awal-mulanya dituturkan dalam bentuk lisan, dalam perkembangan berikutnya banyak dongeng dikisahkan secara modern, yaitu melalui bahasa tulis.

Sadar akan hal itu. Dinas Pariwisata Flores Timur, tahun lalu menggelar lomba menulis cerita rakyat. Bagi saya ini adalah bagian dari menulis kembali cerita lisan atau dongeng tau cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun oleh orang Flores Timur. Ditulis kembali dan di bukukan.

Lain lagi, seorang seniman, dosen Universitas Widya Mandira Kupang,  namanya Gerady Tukan. Dia melahirkan sebuah buku tentang cerita rakyat Lembata, (bukan karena saya orang Lembata lalu ingin mempromosikan Gerady Tukan), tetapi kesadaran Gerady memantik banyak pihak untuk mulai membukukan cerita rakyat yang dianggap dongeng itu.

Dua contoh diatas, merupakan bagian dari kesadaran mereka tentang relevansi Dongeng dan kehidupan kekinian

Soal ini (relevansi_Red), keterkaitan peran-aktif produk budaya masa silam dalam kehidupan masa kini, oleh Ajip Rosidi telah membuktikan adanya keterkaitan yang erat antara dua masa berbeda itu. Ada kepaduan.

Ajip Rosidi bilang, seyogyanya pemisahan ruang waktu lama dan baru. Kuno atau masa kini, hanya konstruksi manusia untuk melakukan pemilahan atas ruang-waktu itu.

Dan dengan dilombakan sastra dongeng dalam Festiva Sastra pada temu Sastrawan NTT II di Ende member bukti bahwa Dongeng sesungguhnya masih bermanfaat untuk generasi masa sekarang.

Dan tentu para Sastrawan NTT, termasuk Maestro Sastra NTT, Gerson Poyk, atau Narudin Pituin, Fanny J. Poyk dan lainnya pasti sepakat, Dongeng memiliki nilai dan pesan moral yang sungguh sungguh bisa membawa generasi menjadi berpikir lebih kreatif.

Apa kata Willy, Guru TK yang menjadi pemenang Lomba Dongeng saat itu, adalah sungguh benar. Menurut Willy, sesungguhnya dongeng mempunyai nilai luhur. Ada nilai religi, sejarah juga nilai sosial. Sebuah dongeng sudah teruji keampuhannya.

Ini kata Willy, Generasi yang  sering didongengin orang tua di rumah atau guru di sekolah, memiliki moral dan perilaku lebih baik ketimbang generasi sekarang yang sudah jarang mendengar dongeng dari guru maupun orang tua.

Jangan  heran  jika anak-anak sekarang memiliki moral yang sangat berbanding terbalik dengan orang tuanya yang dulu sering didongengin. Dipikir pikir. Ditimang timang. Apa yang digambarkan oleh Willy tentang perilaku generasi zaman sekarang ada benarnya juga.

Dia berharap bukan saja guru di sekolah, orang tua di rumah juga perlu mendongeng anak-anaknya sebelum tidur. Jika kebiasaan ini terpupuk baik di rumah dan di sekolah, saya yakin moral anak-anak akan menjadi lebih baik.

Sebab, ketika kita berbicara tentang pendidikan nilai, kita seolah lupa bahwa anak-anak kita perlu dibekali dengan cerita-cerita yang mengandung pesan moral. Dan mendongeng adalah sebuah amunisi yang akurat untuk merawat moral anak-anak kita sejak dini.

Nah, oleh karena Dongeng itu enek moyangnya karya sastra juga nenek moyangnya para sastrawan dalam berkreasi. Dan karena sastra adalah hidup, sepantasnya saya lalu menagamini dalam hati, “Yes, I am a dongeng? (sandrowangak)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *